Srawung Desa BEM UNAIR Hadirkan Pengabdian untuk Semua Generasi di Ngajum

UNAIR

MAKLUMAT — Anak-anak mengikuti perlombaan, warga lanjut usia menjalani pemeriksaan kesehatan, siswa sekolah dasar mencoba eksperimen sains, sementara petani mempelajari pengolahan kopi.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari Srawung Desa 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, pada Kamis–Ahad (22–25/10/2026).

Ketua Pelaksana Agenda Srawung Desa, Nabila Pramesti menjelaskan bahwa sejumlah agenda yang meliputi Srawung Warga, Sapa Lansia, PIJAR, hingga Brewvolution, mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai kelompok usia dan latar belakang.

“Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Balesari dan Desa Ngajum, dengan bentuk pengabdian yang menyesuaikan kebutuhan peserta, mulai dari permainan bersama anak-anak hingga pengembangan potensi kopi lokal,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan warga melalui aktivitas yang melibatkan partisipasi secara langsung. Anak-anak mendapat kesempatan bermain dan belajar, warga lanjut usia mengikuti pemeriksaan kesehatan, sedangkan petani dan masyarakat setempat memperoleh pengetahuan mengenai pengolahan serta pemasaran kopi.

Mengajak Anak Bermain dan Belajar

Salah satu kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan anak-anak Desa Balesari ialah Srawung Warga. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (23/10/2026) ini diikuti sekitar 48 peserta. Panitia mengajak mereka mengikuti tiga perlombaan, yaitu oper gelas menggunakan sedotan, oper sedotan menggunakan mulut, dan permainan makan biskuit.

Peserta mengikuti permainan secara bergantian. Pada perlombaan makan biskuit, mereka harus menggerakkan wajah untuk memindahkan biskuit hingga bisa dimakan tanpa bantuan tangan. Permainan ini menjadi salah satu kegiatan yang paling disukai peserta.

Salah satu peserta mengaku tetap menikmati kegiatan meskipun tidak memenangkan perlombaan. Baginya, pengalaman mengikuti permainan bersama teman-teman menjadi hal yang menyenangkan. “Enggak menang. Tapi seru. Tapi juga senang,” ujarnya.

Elsa, salah satu peserta, menyukai permainan makan biskuit karena tantangan yang harus ia hadapi. Raisa juga menilai permainan tersebut sebagai kegiatan paling seru di antara tiga perlombaan yang diikutinya. “Karena menantang,” ujar Elsa.

Kegiatan bersama anak-anak berlanjut melalui agenda PIJAR yang berlangsung pada Sabtu (24/10/2026) di SDN 1 Balesari. Dalam kegiatan ini, mahasiswa mengajak siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti pembelajaran dengan metode yang disesuaikan berdasarkan tingkat kelas.

Nabila Pramesti menjelaskan bahwa sebelum mengikuti kegiatan utama, para siswa menjalani senam bersama dan senam pramuka. Setelah itu, mahasiswa membagi mereka menjadi tiga kelompok.

Baca Juga  Bagaimana Cara Menyikapi Informasi di Menfess? Ini Kata Wapres BEM UNAIR

“Siswa kelas 1 dan 2 mengikuti eksperimen sains dengan membuat gunung meletus dan mobil dari barang bekas. Siswa kelas 3 dan 4 membuat kolase dari sampah bekas jajanan, sedangkan siswa kelas 5 dan 6 berlatih memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya.

Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba materi secara langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga membuat karya dan berlatih keterampilan sesuai dengan kelompok masing-masing.

Kepala SDN 1 Balesari Bambang Sumantri, menyambut baik kehadiran mahasiswa yang memberikan pengalaman belajar berbeda bagi para siswa. Menurutnya, pengetahuan yang dibagikan mahasiswa dapat menambah keterampilan siswa sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Kalau ada mahasiswa yang ahli di bidangnya memberikan materi, hal itu sangat berpengaruh pada keterampilan anak-anak nantinya. Kegiatan ini sangat bagus dan sangat membantu SD kami,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan pembelajaran kelompok, seluruh siswa berkumpul untuk mengikuti permainan estafet air. Mereka memindahkan air menggunakan gelas dari satu peserta ke peserta berikutnya hingga siswa terakhir menuangkannya ke dalam botol. Permainan ini menutup rangkaian pembelajaran dengan aktivitas yang melibatkan kerja sama antarsiswa.

Ica, siswa kelas 5, mengaku senang mengikuti pembelajaran bahasa Inggris bersama mahasiswa. Meski materi perkenalan diri pernah ia pelajari sebelumnya, ia tetap menikmati kesempatan untuk berlatih kembali. “Walaupun pernah diajarin, aku tetap senang belajar lagi biar bahasa Inggrisku makin lancar,” ujar Ica.

Memperhatikan Kesehatan Warga Lanjut Usia

Pada Jumat (23/10/2026), Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM UNAIR juga menggelar Sapa Lansia atau Sehat dan Aktif di Usia Senja. Kegiatan di Desa Balesari ini menyediakan skrining kesehatan gratis bagi warga lanjut usia dan pralansia.

Petugas UPT Puskesmas Ngajum melakukan pemeriksaan kesehatan warga lanjut usia dan pralansia dalam kegiatan Sapa Lansia di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jumat (23/10/2026). Foto: Dok. BEM UNAIR

Panitia mencatat sekitar 90 warga mengikuti pemeriksaan tersebut. Jumlah ini melampaui perkiraan awal yang berkisar 50–70 peserta. Pemeriksaan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar tubuh, tekanan darah, pencatatan data, serta pemeriksaan darah. Peserta dengan tekanan darah sistolik tinggi juga menjalani pemeriksaan jantung di lokasi.

Baca Juga  Warga Sukolilo Didorong Olah Hasil Laut agar Tak Bergantung pada Musim

Irawan dari UPT Puskesmas Ngajum menjelaskan bahwa hipertensi dan diabetes menjadi temuan yang banyak dijumpai selama pemeriksaan. Warga yang membutuhkan penanganan memperoleh obat melalui program pemerintah untuk penyakit tidak menular (PTM) dan diminta menjalani kontrol kesehatan.

“Rata-rata hipertensi sama diabetes. Hasilnya juga sama, banyak yang memang hipertensi dan diabetes,” katanya.

Irawan menekankan pentingnya mendengarkan keluhan peserta secara menyeluruh. Menurutnya, petugas perlu memperhatikan keluhan lain yang menyertai kondisi kesehatan warga, bukan hanya berfokus pada satu gejala.

Ia juga mengimbau warga lanjut usia agar rutin memeriksakan kondisi kesehatannya melalui layanan posyandu. Pemeriksaan berkala membantu warga mengetahui perubahan kondisi tubuh sehingga dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

“Ikut posyandu lansia, biar terkontrol kesehatannya,” pesannya.

Manfaat kegiatan tersebut dirasakan Siti Zahro, warga Desa Sigilan, Sidomulyo, yang datang bersama ibunya setelah memperoleh informasi dari kader posyandu. Ia menilai pemeriksaan gratis membantu keluarga mengetahui kondisi kesehatan anggota keluarga yang sudah lanjut usia.

“Alhamdulillah masih ada perhatian untuk masyarakat lansia dan pralansia. Alhamdulillah ibu saya juga bisa mendeteksi ada penyakit atau enggak,” kata Siti.

Siti berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala dan menjangkau setiap dusun. Menurutnya, sebagian lansia enggan datang untuk memeriksakan kesehatan. Ada pula yang bersedia mengikuti pemeriksaan, tetapi kesulitan karena tidak memiliki orang yang dapat mengantar mereka ke lokasi kegiatan.

“Jadi saya harap tidak hanya di kelurahan, tapi ada di setiap dusun,” ujarnya.

Harapan agar kegiatan kesehatan terus berlanjut juga disampaikan Ibu Tupa, 59 tahun, warga Desa Upalan yang tinggal sekitar satu kilometer dari lokasi pemeriksaan. Ia merasa terbantu karena bisa mengetahui kondisi tekanan darahnya melalui kegiatan tersebut.

“Bisa tahu kondisi kita, jadi naik turunnya tensi itu tahu,” katanya.

Mengembangkan Potensi Kopi Ngajum

Selain kegiatan pendidikan dan kesehatan, Srawung Desa 2026 menghadirkan Brewvolution sebagai kegiatan pengembangan potensi kopi di Desa Ngajum pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di balai desa ini diikuti petani kopi, perangkat desa, dan pemuda setempat.

Baca Juga  Srawung Desa Mulai Bergulir, UNAIR Gandeng Warga Balesari Malang Bangun Potensi Desa

Nabila Pramesti menjelaskan bahwa Desa Ngajum memiliki perkebunan kopi dengan jenis robusta dan arabika. Namun, sebagian warga masih menghadapi keterbatasan dalam mengolah hasil panen secara optimal karena teknologi yang tersedia belum memadai. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan kegiatan yang menghadirkan Edi Kuncoro dari Punjer’e Kopi sebagai pemateri.

Edi Kuncoro dari Punjer’e Kopi menyampaikan materi pengolahan dan pengembangan kopi kepada warga dalam kegiatan Brewvolution, bagian dari Srawung Desa 2026 di Desa Ngajum, Kabupaten Malang, Sabtu (24/10/2026). Foto: Dok. BEM UNAIR

Edi membagikan pengetahuan mengenai pengolahan pascapanen, standar kualitas biji kopi, teknik penyeduhan, dan strategi pemasaran. Peserta juga mengikuti praktik menyeduh kopi, sesi cupping atau mencicipi kopi untuk mengenali karakter rasanya, serta tanya jawab mengenai pengolahan dan pemasaran hasil panen.

Melalui sesi praktik, peserta memperoleh kesempatan untuk mencoba teknik penyeduhan secara langsung. Pertanyaan yang muncul juga menunjukkan ketertarikan mereka terhadap tahapan pengolahan biji kopi hingga cara menjangkau konsumen.

Edi menilai potensi kopi di Desa Ngajum masih dapat dikembangkan. Ia berharap pengetahuan yang dibagikan dalam kegiatan tersebut bisa dimanfaatkan warga untuk meningkatkan kualitas produk kopi mereka.

“Saya melihat desa ini punya potensi yang sangat besar. Harapan saya, warga bisa memanfaatkannya dan mengembangkan kopinya dengan baik,” ujarnya.

Ketua Kelompok Wanita Tani, Sunti, mengaku dapat memahami materi yang disampaikan selama kegiatan. Ia berharap pengetahuan yang diperolehnya dapat membantu mengembangkan kopi yang dikelolanya.

“Materinya mudah dipahami, jadi saya semangat untuk mengembangkan kopi saya supaya lebih baik lagi,” ujarnya.

Membangun Interaksi melalui Pengabdian

Nabila Pramesti memaparkan bahwa keberagaman kegiatan dalam Srawung Desa 2026 dimaksudkan sebagai bentuk interaksi mahasiswa dengan masyarakat melalui bidang yang berbeda.

“Anak-anak terlibat dalam permainan dan pembelajaran, warga lanjut usia memperoleh akses pemeriksaan kesehatan, sedangkan petani dan warga Desa Ngajum mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kopi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap agenda dimaksudkan untuk memberi ruang bagi warga untuk berpartisipasi secara langsung. Dalam kegiatan pendidikan, siswa mencoba materi yang disampaikan mahasiswa.

Pada Sapa Lansia, warga dapat berkonsultasi mengenai kondisi kesehatannya. Sementara itu, Brewvolution memberi kesempatan kepada petani dan kelompok masyarakat untuk mempelajari cara mengolah kopi agar memiliki kualitas yang lebih baik.

“Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM UNAIR berupaya menjalankan program pengabdian dengan melibatkan masyarakat sebagai peserta aktif. Pengalaman warga selama mengikuti kegiatan telah menjadi bagian penting dari pelaksanaan Srawung Desa 2026,” pungkas Nabila Pramesti.

 

*) Penulis: Hasya Alia Haziqa Faisal, Annisa Syifa, dan Amanda Maulida Fina Nilna