MAKLUMAT — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Asembagus Situbondo bersama Takmir Masjid Mujahidin Perante dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) asembagus menggelar Pengajian Ahad Pagi di Masjid Mujahidin Perante, Ahad (25/10/2026) atau bertepatan 14 Jumadil Awal 1448 H.
Pengajian tersebut menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren An-Najihah Situbondo, Ustaz Arif Sofyan Hadi MPd, sebagai pembicara. Dalam ceramahnya, ia menyampaikan materi bertajuk “Menjaga Fitrah Anak di Era Digital; Tantangan dan Solusinya“.
Menurut Ustaz Arif Sofyan, kondisi peradaban saat ini dengan segala perkembangannya sangat mengkhawatirkan terhadap generasi sekarang maupun generasi masa depan. Ia mengaku khawatir terhadap akidah agama, keteladanan orang tua, hingga lingkungan yang membentuk generasi.
“Menghadapi kondisi saat ini dibutuhkan suri teladan orang tua terhadap anak-anaknya. Madrasah pertama dan utama adalah keluarga, di mana orang tua betul-betul menjadi penentu dalam membentuk dan mempertahankan akidah pada keluarga dan anak-anaknya, tentunya dengan metode yang diajarkan oleh Agama Islam di tengah era digital,” ujarnya.
Ia menegaskan, Al-Qur’an dan hadis wajib dijadikan pedoman hidup dalam menghadapi peradaban zaman hingga hari kiamat kelak.
Peran orang tua saat ini, kata dia, betul-betul menjadi sebuah pertaruhan terhadap generasinya dan ini menjadi tantangan di era digital.
Ia menyoroti kondisi ruang digital saat ini, yang menurutnya cukup banyak menggantikan peran orang tua. Akibatnya, terjadi jarak komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya yang lebih asyik dengan gadget dan lebih senang berkomunikasi dengan teman-temannya melalui sosial media.
Tantangan Era Digital dan Langkah Solusinya
Dalam ceramahnya, Ustadz Arif Sofyan memaparkan beberapa tantangan nyata yang dihadapi saat ini serta memberikan langkah atau upaya sebagai solusi. Pertama, ia menyoroti kecenderungan krisis ikatan emosional antara anak dengan orang tua.
“Anak lebih cinta gadget sehingga kedekatan dengan orang tua menjadi kurang dan lebih sering ngobrol dengan AI,” soronya.
Ustaz Arif Sofyan mendorong peran orang tua untuk meluangkan waktu khusus bagi anak dan mendengarkan keluh kesah serta cerita mereka. Menurutnya, anak membutuhkan nasihat serta dongeng atau cerita, anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian, anak juga ingin bercanda, berolahraga, atau ingin ada orang yang mau mendengarkan ceritanya. Di situlah peran orang tua menjadi krusial.
Kedua, ia menyoroti tren kecanduan layar (screen dependency) atau penggunaan gawai (gadget) pada anak. Penggunaan gawai sebagai alat penenang instan dapat memicu anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Menurutnya, hal itu akan menjauhkan anak dari interaksi sosial nyata dan menurunkan fokus belajar. Bahkan, dampak negatifnya juga berbahaya, di mana anak-anak dapat berpotensi terjebak pada pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) meskipun hanya karena bermain game.
Sebab itu, Ustaz Arif Sofyan menekankan pentingnya keteladanan nyata dalam penggunaan gawai secara bijak dan berinteraksi di ruang digital (digital uswah hasanah).
“Sifat anak sebagai peniru ulung, hendaknya orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan adab yang baik dalam memegang gawai, seperti langsung meletakkan HP saat azan berkumandang atau ketika anak mengajak berbicara,” katanya.
Ketiga, ia juga menyoroti pemanfaatan gawai yang dinilai “menyalip” pentingnya membaca, memahami, dan mendalami ayat-ayat Al-Qur’an.
“Fenomena di mana anak-anak jauh lebih fasih mengoperasikan fitur ponsel pintar atau berselancar di platform game daripada membaca dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an,” sorotnya.
Ustaz Arif Sofyan menandaskan pentingnya menghidupkan pembiasaan atau habituasi Al-Qur’an dan nilai. Ia menyarankan supaya para orang tua menerapkan pembatasan waktu layar (screen time) yang tegas sesuai usia anak.
“Adakan alternatif kegiatan fisik yang seru seperti permainan edukatif, proyek prakarya tangan, atau olahraga bersama keluarga di luar ruangan. Menyimak ketika anak membaca Al-Qur’an dan biasakan anak akrab dengan Al-Qur’an,” tandasnya.
Tak cuma itu, keempat, Ustaz Arif Sofyan juga menyoroti adanya fenomena degradasi moral anak, terutama terkait kesantunan lisan dan perilaku mereka akibat paparan konten-konten negatif di ruang digital.
“Hilangnya tatakrama anak dalam berbicara, baik kepada orang tua, guru, dan orang lain,” singgungnya.
“Solusinya edukasi netiket atau etika internet secara Islami. Mengajarkan anak bahwa ruang digital adalah bagian dari dunia nyata yang diawasi langsung oleh Allah SWT. Latih anak-anak kita menilai dan memilah informasi, menjaga tabayyun (verifikasi berita), menjaga privasi data pribadi, serta berani menjauhi perundungan siber (cyberbullying),” pungkas Ustaz Arif Sofyan.***
*) Penulis: Agus Ariyanto












