Jangan Anggap Remeh Gerimis! Dosen UMM Ungkap Bahaya Jalan Licin saat Hujan Pertama

jalan licin

MAKLUMAT – Jalanan paling licin bukan selalu saat hujan deras. Justru ketika gerimis pertama turun setelah cuaca panas berkepanjangan, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan.

Campuran air dan residu minyak di permukaan aspal bisa membuat ban kehilangan daya cengkeram hingga kendaraan berisiko tergelincir.

Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, ST., MT., menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan residu kendaraan yang menumpuk di permukaan jalan selama musim kemarau.

Saat cuaca panas, pori-pori kecil pada aspal dapat menampung residu seperti bensin dan oli. Ketika hujan pertama turun, air mendorong residu minyak tersebut ke permukaan.

Campuran air dan minyak kemudian membentuk lapisan tipis yang mengurangi kontak langsung antara ban dan aspal. Akibatnya, daya cengkeram ban menjadi tidak optimal.

“Jalanan paling licin itu ketika baru gerimis kecil-kecil, terutama setelah kering lama. Jadi, pengendara harus lebih waspada justru pada kondisi tersebut,” jelas Fauzan kepada Humas UMM, 2 November.

Ban Aus Bisa Memperbesar Risiko Tergelincir

Selain kondisi jalan, kondisi ban menjadi faktor penting dalam keselamatan berkendara saat hujan. Fauzan mengingatkan pengendara untuk memeriksa kedalaman alur ban, tekanan angin, hingga kondisi karet sebelum melakukan perjalanan.

Baca Juga  UMM Berhasil Sulap 92 Persen Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

Alur ban berfungsi mengalirkan air dari bidang kontak ban dengan jalan. Jika alur sudah terlalu dangkal, kemampuan ban mengalirkan air berkurang sehingga daya cengkeram semakin tidak optimal.

Ia juga mengingatkan pengendara agar tidak mengerik atau mengikis permukaan ban yang sudah aus secara manual, atau dikenal dengan istilah membatik ban.

Menurutnya, cara tersebut tidak dapat mengembalikan kualitas material karet yang telah menurun. Ban yang sudah tidak layak sebaiknya diganti demi keselamatan.

“Jangan dikupas secara manual. Kalau sudah aus, berarti grip atau daya cengkeramnya sudah tidak bisa bekerja maksimal,” tegasnya.

Hindari Kecepatan Tinggi dan Pengereman Mendadak

Risiko lain saat berkendara di jalan basah adalah hydroplaning atau aquaplaning. Fenomena ini terjadi ketika lapisan air membuat ban kehilangan kontak optimal dengan permukaan jalan sehingga kendaraan sulit dikendalikan.

Karena itu, Fauzan menyarankan pengendara mengurangi kecepatan saat hujan, terutama ketika melewati jalan yang tergenang air.

Teknik pengereman juga perlu diperhatikan. Pengendara sebaiknya tidak langsung mengerem dengan tekanan penuh atau melakukan pengereman mendadak. Pengereman secara bertahap dapat membantu mengurangi risiko roda terkunci dan kendaraan tergelincir.

“Untuk meminimalkan slip, pengereman jangan langsung dilakukan secara penuh, tetapi bertahap. Tujuannya agar ban tidak langsung mengunci. Kalau terkunci, kendaraan justru bisa tergelincir,” paparnya.

Baca Juga  Ribuan Siswa Ikut UTBK, Berebut Kursi Gen 25 UMM

Tips Berkendara Aman Saat Hujan

Fauzan menegaskan, keselamatan berkendara saat hujan tidak hanya bergantung pada keterampilan pengemudi, tetapi juga pemahaman terhadap kondisi kendaraan dan karakteristik jalan.

Beberapa kebiasaan sederhana perlu diterapkan untuk mengurangi risiko kecelakaan, mulai dari memeriksa kondisi ban sebelum berangkat, menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, hingga menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan.

Pengendara juga perlu menghindari menikung terlalu tajam, menerobos genangan air dengan kecepatan tinggi, serta melakukan pengereman mendadak.

“Pesan saya, tetap hati-hati. Jangan menerobos genangan air dengan kecepatan tinggi, jaga jarak aman dengan kendaraan di depan, jangan menikung terlalu tajam, dan hindari pengereman mendadak. Yang terpenting, kurangi kecepatan saat hujan,” pungkasnya.