Harga Cabai Surabaya Berpotensi Naik Akhir Tahun, Pemkot Siapkan 4.100 Tanaman

harga cabai

MAKLUMAT – Harga cabai berpotensi bergejolak menjelang akhir tahun. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai menyiapkan tambahan pasokan melalui gerakan penanaman cabai yang melibatkan masyarakat hingga kelompok tani. Sebanyak 4.100 bibit cabai ditanam di kawasan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) Jambangan, dengan target panen mulai Desember 2026.

Upaya tersebut dilakukan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian atau DKPP Kota Surabaya untuk menjaga stabilitas harga cabai di pasaran. Hasil panen dari masyarakat dan kelompok tani diharapkan ikut menambah pasokan sehingga tekanan harga dapat berkurang.

Kepala DKPP Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, gerakan penanaman cabai telah dimulai sejak akhir Agustus hingga awal September 2026. Salah satu langkahnya melalui pembagian bibit kepada masyarakat agar dapat ditanam secara mandiri.

Program tersebut juga diperkuat melalui Surabaya Urban Farming Competition. Warga di berbagai kampung diajak menanam dan merawat cabai dengan harapan hasilnya dapat dipanen menjelang akhir tahun.

“Harapannya, pada Desember nanti sudah ada hasil panen dari masyarakat maupun kelompok-kelompok yang mengikuti kegiatan ini. Dengan begitu, hasil panennya bisa ikut menambah pasokan cabai di pasaran sehingga membantu menekan harga,” kata Nanik, Senin (2/11/2026).

Baca Juga  Pemkot Surabaya Beber Konsep Pariwisata 2025, Apa Saja?

Surabaya Tanam 4.100 Bibit Cabai di Jambangan

Selain melibatkan masyarakat, DKPP Surabaya juga mendorong kelompok tani memperluas penanaman cabai. Salah satu lokasi pengembangan berada di BTKD Jambangan.

Di kawasan tersebut, DKPP menanam 4.100 bibit cabai menggunakan 2.050 polybag. Pengembangan ini turut memanfaatkan teknologi hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Teknologi tersebut diarahkan untuk menghasilkan tanaman yang lebih tahan terhadap serangan hama serta meningkatkan kualitas hasil panen, termasuk agar cabai tidak mudah mengalami pembusukan.

“Di Jambangan kami menanam 4.100 bibit cabai dalam 2.050 polybag. Kami juga bekerja sama dengan ITS untuk mengembangkan teknologi penanaman yang diharapkan bisa menghasilkan tanaman lebih kuat terhadap hama dan hasil panennya tidak cepat busuk. Ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan,” jelasnya.

Urban Farming Jadi Solusi Kebutuhan Cabai Rumah Tangga

Nanik menyampaikan, hasil panen dari berbagai kegiatan penanaman tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pasar. Tambahan pasokan dari lingkungan masyarakat dan kelompok tani diharapkan mengurangi tekanan terhadap harga cabai menjelang akhir tahun.

DKPP juga mengajak masyarakat memanfaatkan kegiatan urban farming untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Menurut Nanik, keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak mulai bercocok tanam.

Baca Juga  Pemkot Surabaya Tak Toleransi Kabel Provider Tanpa Izin, Siap Potong Jaringan

Cabai dapat ditanam menggunakan pot atau polybag di pekarangan rumah, bahkan pada lahan yang relatif sempit.

“Mari masyarakat, khususnya ibu-ibu, mulai memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam tanaman yang bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari. Tidak harus punya pekarangan luas, lahan sempit pun bisa dimanfaatkan dengan menggunakan pot. Dengan menanam cabai sendiri, setidaknya kebutuhan rumah tangga bisa terbantu ketika harga cabai di pasaran sedang tinggi,” pungkasnya.