MAKLUMAT — Gus Iqdam itu ibarat madu. Bahkan, kalau perlu, madu pahit terbaik dari Bangka. Manisnya bukan main, penggemarnya bukan kepalang. Sekali menetes di lidah, orang bisa lupa bahwa dunia ini tidak seluruhnya terbuat dari gula.
Namanya harum. Ceramahnya menyebar ke mana-mana. Pengikutnya berjuta-juta, seolah-olah setiap telepon genggam di negeri ini punya kewajiban memasang wajahnya. Instagram, YouTube, TikTok, semuanya menjadi kebun lebah yang sibuk memproduksi madu bernama Gus Iqdam.
Ia pendakwah muda yang punya kemampuan langka: membuat orang tertawa sebelum berpikir, lalu berpikir sambil tertawa. Bahasanya akrab, guyonannya renyah, dan dakwahnya tidak berjarak. Anak-anak jalanan, penggemar motor, mereka yang pernah tersesat di lorong kehidupan, sampai orang-orang yang merasa dirinya paling lurus, semua bisa duduk dalam satu majelis.
Sabilu Taubah menjadi semacam terminal spiritual. Orang datang membawa masa lalu, pulang dengan harapan. Di sana, garangan bisa menjadi jamaah, kenakalan bisa berubah menjadi penyesalan, dan air mata kadang lebih deras daripada hujan di musim penghujan.
Gus Iqdam bukan sekadar penceramah. Ia fenomena. Dalam dunia yang penuh kegaduhan digital, ia menawarkan ketenangan dengan bahasa yang tidak membuat orang merasa sedang diperiksa di kantor polisi akhirat.
Maka tidak mengherankan jika banyak orang mendekat.
Dalam politik, orang yang punya jutaan pengikut itu ibarat pemilik sumur di tengah padang pasir. Para musafir datang membawa kendi. Ada yang benar-benar haus, ada pula yang sekadar ingin ikut kebagian air.
Menjelang pemilu, madu seperti Gus Iqdam ini tentu menjadi rebutan. Politisi yang biasanya berjalan sendirian mendadak rajin bersilaturahmi. Mereka yang sehari-hari sibuk menghitung suara, tiba-tiba ikut menghitung pahala. Yang sebelumnya tidak hafal jalan menuju pesantren, mendadak bisa menemukan pintunya tanpa bantuan Google Maps.
Dan di antara mereka ada Haji Beky Herdihansah, pengusaha kaya dari Wonodadi, Srengat, Blitar. Orang yang namanya kemudian ikut bersinggungan dengan Gus Iqdam dan segala magnet sosial yang mengitarinya. Berkat kedekatan itu pula, Beky akhirnya sukses memenangkan pemilihan umum sebagai Wakil Bupati Blitar periode 2024–2029.
Begitulah politik. Ia punya hidung yang lebih tajam daripada anjing pelacak. Bisa mencium aroma kekuasaan dari jarak bermil-mil. Dia menempel madu untuk sebuah peluang.
Tetapi madu, seperti kata orang, tidak selalu datang sendirian. Kadang ia membawa semut. Kadang membawa lebah. Kadang pula membawa sesuatu yang membuat orang bertanya: jangan-jangan di balik manisnya ada racun? Tentu ini adalah majas. Jangan buru-buru mencari apotek.
Nama harum Gus Iqdam belakangan sedikit tercemar. Bukan kesleo lidah saat ceramah, melainkan karena rencana hibah untuk pembangunan kawasan wisata religi Kampung Religi di sekitar Majelis Sabilu Taubah, Karanggayam, Blitar.
Angkanya membuat kalkulator seperti mengalami tekanan batin.
Pemerintah Kabupaten Blitar dikabarkan mengajukan hibah Rp4,7 miliar dari APBD 2027. Dalam pembahasan Badan Anggaran DPRD, angka itu kemudian dipangkas menjadi Rp2,3 miliar. Sementara itu, muncul pula kabar pengajuan hibah sekitar Rp25 miliar ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Orang dekat Gus Iqdam, Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah mengungkapkan rencana hibah tersebut pada Rabu (21/10/2026). Dana itu diusulkan untuk mendukung pembangunan kawasan wisata religi di kompleks pondok pesantren yang diasuh pendakwah kondang Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam, di Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat.
“Jadi ke Pemda (pemerintah daerah) mengajukan Rp4,7 miliar. Cuma kemarin di rapat Banggar (Badan Anggaran DPRD) dipotong jadi Rp2,3 miliar. Kalau tidak salah seperti itu,” kata Beky kepada awak media.
Selain mengajukan hibah kepada Pemkab Blitar, Yayasan Sabilu Taubah yang menaungi kawasan wisata religi tersebut juga mengajukan dana hibah Rp25 miliar kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Beky menyebut Pemprov Jawa Timur telah menyetujui alokasi hibah pada Tahun Anggaran 2027, meskipun nilai yang akan direalisasikan belum diketahui.
Menurut Beky, pemerintah daerah merasa perlu ikut mendukung pembangunan kawasan tersebut karena pengajian Majelis Ta’lim Sabilu Taubah selama ini dinilai telah menghidupkan perekonomian masyarakat.
“Makanya kita sebagai pemerintah daerah kalau sampai tidak ikut hadir ya kita juga kurang pas. Apalagi kita kemarin juga minta anggaran dari Provinsi, anggaran hibah itu juga di-ACC,” dalih Beky, dikutip dari Kompas.
Memang masih rencana. Tapi kalau angka-angka ini kalau dijajarkan total Rp27,5 miliar, rasanya bukan lagi proposal pembangunan. Ini sudah seperti daftar belanja sebuah kerajaan yang sedang membangun istana.
Pemerintah daerah menyebut tujuan pembangunan kawasan tersebut adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Maklum, setiap pengajian besar, puluhan ribu orang datang. Pedagang makanan, penjual minuman, tukang parkir, hingga pemilik warung ikut menikmati perputaran ekonomi.
Jamaah datang membawa doa. Pedagang menyambut dengan dagangan. Pemerintah melihat peluang ekonomi. Semua punya kepentingan, dan tidak semuanya buruk.
Tetapi uang publik bukan uang saku yang boleh dibagikan hanya karena seseorang memiliki banyak penggemar. Di sinilah persoalan mulai menarik. Gus Iqdam melalui media sosial sudah memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa bangunan dan fasilitas Majelis Sabilu Taubah selama ini berdiri dari swadaya serta sumbangan jamaah, bukan dari dana pemerintah. Ia juga menyebut rencana kawasan wisata religi belum menjadi proyek yang disetujui secara resmi oleh pihak majelis.
Klarifikasi ini penting. Sebab, bangunan yang didirikan dengan keringat jamaah tidak boleh begitu saja dicampuradukkan dengan rencana anggaran pemerintah.
Gus Iqdam juga menyayangkan jika kritik terhadap dirinya berkembang menjadi tudingan kepada keluarga besar pesantren dan para jamaah.
Tentu saja, jamaah tidak perlu ikut menanggung dosa politik yang belum tentu mereka lakukan. Mereka datang untuk mengaji, bukan mengikuti rapat pembahasan APBD.
Namun, di negeri ini, ada kebiasaan yang sulit disembuhkan: ketika seseorang terlalu populer, segala sesuatu yang berada di dekatnya ikut memperoleh aura kesucian. Kritik dianggap kurang ajar. Pertanyaan dianggap penghinaan. Padahal, dalam demokrasi, bertanya tentang uang rakyat bukanlah dosa besar. Bahkan, kalau perlu, pertanyaan itu harus lebih keras daripada pengeras suara pengajian.
Kita tidak sedang mengadili Gus Iqdam. Kita juga tidak sedang menuduh Beky Herdihansah. Apalagi hendak merampas hak pesantren untuk berkembang.
Yang sedang dibicarakan adalah hibah pemerintah. Dan hibah pemerintah bukanlah sedekah pribadi yang bisa diberikan berdasarkan rasa suka.
Uang rakyat harus memiliki alasan, prosedur, manfaat, dan pertanggungjawaban. Kalau pesantren lain membutuhkan bantuan, mereka juga berhak mendapatkan kesempatan yang adil. Kalau kawasan wisata religi memang bermanfaat bagi masyarakat, silakan dibangun. Tetapi manfaat itu harus bisa dibuktikan, bukan hanya dibayangkan sambil menatap ribuan jamaah.
Sebab, popularitas tidak boleh menjadi mata uang dalam APBD. Jumlah pengikut bukan ukuran otomatis untuk menentukan jumlah hibah. Kalau logika ini diteruskan, kelak anggaran negara bisa dibagikan berdasarkan jumlah penonton, subscriber, dan likes. Kita tinggal menunggu pemerintah membuka loket hibah di TikTok.
Gus Iqdam adalah madu bagi banyak orang. Dakwahnya memberi harapan, menghibur, dan mengajak orang memperbaiki diri. Itu sesuatu yang patut dihargai.
Tetapi madu tetaplah madu yang penuh khasiat. Ia tidak boleh berubah menjadi gula-gula politik yang membuat para penguasa kehilangan kemampuan membedakan mana kepentingan publik dan mana kepentingan pribadi.***













