Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Resmi Dibuka, Kader Muda Lintas Iman Rawat Bumi

Eco Bhinneka Muhammadiyah

MAKLUMAT — Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah resmi dibuka di Aula Asrama Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta Timur, Jumat (1/5/2026).

Program yang berlangsung hingga 3 Mei 2026 itu menjadi ruang pembelajaran kolaboratif bagi kader muda lintas iman untuk memperkuat peran mereka dalam menghadapi krisis lingkungan, sekaligus merawat kebhinnekaan Indonesia.

Peserta akademi berasal dari program Eco Bhinneka Muhammadiyah, jaringan media Muhammadiyah dan Aisyiyah, serta kalangan muda yang memiliki perhatian pada isu lingkungan dan keberagaman.

Kepala Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ahsan Jamet Hamidi, menegaskan forum ini dirancang bukan sekadar kelas formal, melainkan ruang belajar partisipatif berbasis pengalaman lapangan.

“Peserta yang hadir di akademi ini bukan gelas kosong. Mereka sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman dari lapangan. Karena itu, proses belajar di sini akan banyak diisi dengan diskusi, berbagi pembelajaran, dan pertukaran pengalaman,” ujarnya.

Ia mengatakan pendekatan lintas iman menjadi kunci untuk membangun pemahaman bersama atas isu-isu kompleks, mulai dari krisis iklim hingga dinamika kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Menurutnya, lulusan Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah diharapkan menjadi motor penggerak di komunitas masing-masing untuk mendorong kehidupan yang lebih harmonis, rukun, dan lestari.

Baca Juga  Eco Bhinneka Muhammadiyah Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga di Halmahera Selatan

Ekologi dan Kebhinnekaan Disatukan

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun gerakan yang berdampak nyata.

Ia menyebut peserta angkatan pertama akademi ini sebagai langkah awal memperkuat kontribusi anak muda dalam menjawab tantangan lingkungan dan keberagaman.

“Kebhinnekaan bukan hanya soal agama atau suku, tetapi juga bagaimana kita memahami pluralisme dalam kehidupan hari ini,” kata Hening.

Ia menilai berbagai krisis yang muncul saat ini tidak lepas dari persoalan sistemik, termasuk eksploitasi sumber daya alam yang berdampak langsung terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

“Karena itu, kita perlu membangun perspektif yang melindungi, merawat, dan memuliakan—termasuk terhadap perempuan dan bumi,” ujarnya.

Hening menegaskan gerakan yang dibangun Eco Bhinneka Muhammadiyah harus melampaui simbolisme dan menghasilkan perubahan konkret.

“Setiap orang bisa berkontribusi dengan cara berbeda, tetapi tujuannya sama: membawa perubahan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Sorotan Global dari Kedutaan Belanda

Senior Policy Advisor Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta, Edwin Arifin, yang turut membuka kegiatan, menyoroti pentingnya keterhubungan global dalam isu lingkungan.

Menurut Edwin, krisis lingkungan tidak bisa dipandang sebagai persoalan satu negara semata karena seluruh dunia saling terhubung dalam pola konsumsi, produksi, dan dampak ekologis.

Baca Juga  19 Tahun Lumpur Lapindo: Keserakahan yang Terus Berulang

“Masalah lingkungan bukan hanya persoalan satu negara. Kita hidup dalam dunia yang saling terhubung—apa yang kita konsumsi, gunakan, dan lakukan memiliki keterkaitan global,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan lintas iman dalam merawat lingkungan menjadi kekuatan penting untuk menjawab tantangan global, sekaligus menunjukkan kontribusi Indonesia dalam membangun kolaborasi berbasis nilai-nilai keagamaan.

“Terima kasih kepada Eco Bhinneka Muhammadiyah atas inisiatif akademi ini. Semoga program ini dapat membekali teman-teman dengan pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni,” katanya. ***