MAKLUMAT – Dinamika menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 kembali menghangat. Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyatakan kesiapan maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan satu catatan ia tidak pernah meminta.
Sementara nama KH Anwar Iskandar mulai menguat sebagai kandidat ideal untuk masuk jajaran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), atau forum ulama sepuh dalam struktur NU yang memegang peran strategis memilih Rais Aam Syuriyah PBNU melalui mekanisme musyawarah.
Terkait calon Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz yang akrab disapa Gus Kikin memilih menempatkan diri sebagai figur yang responsif terhadap amanah, bukan ambisi kekuasaan.
“Kalau didorong dan dianggap mampu, saya siap menjalankan. Tapi saya tidak pernah meminta,” tegas Gus Kikin dikutip, Sabtu (25/4/2026).
Ia juga menilai kondisi NU saat ini berada dalam situasi yang tidak sederhana. Beragam dinamika, baik internal organisasi maupun pengaruh eksternal membuat NU perlu kembali memperkuat fondasi dasarnya.
“NU pernah menunjukkan kekuatan luar biasa pada masa awal berdiri, terutama dalam menjaga soliditas organisasi. NU sejak awal dikenal solid. Itu yang harus kita kembalikan,” ujarnya.
Gus Kikin mengingatkan kekuatan NU tidak hanya terletak pada jumlah massa, tetapi pada kohesi dan kesinambungan antar elemen di dalamnya. Ia juga menyinggung peran historis warga NU dalam perjuangan bangsa—sebuah modal sosial yang, menurutnya, tidak boleh tergerus oleh dinamika kontemporer.
KH Anwar Iskandar Menguat Masuk AHWA Jelang Muktamar NU
Nama KH Anwar Iskandar mulai menguat sebagai kandidat ideal untuk masuk jajaran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Peran ini menentukan arah tertinggi dalam struktur keagamaan NU. Karena itu, figur yang masuk harus memiliki legitimasi moral sekaligus kapasitas strategis.
Dukungan terhadap Kiai Anwar salah satunya disampaikan Ketua Bidang Keagamaan PBNU, KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus fahrus). Ia menilai Kiai Anwar memiliki kombinasi langka antara keilmuan, pengalaman organisasi, dan integritas personal.
“Kiai Anwar bukan figur baru. Beliau dikenal luas sebagai pendakwah moderat yang mampu menjangkau berbagai kalangan,” ujar Gus Fahrur.
Lahir di Banyuwangi pada 1950, Kiai Anwar kini mengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Kediri. Ia juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI—posisi yang semakin menguatkan legitimasi kepemimpinannya.
Menurut Gus Fahrur, pengalaman Kiai Anwar memimpin MUI menjadi bukti kapasitas manajerialnya. Di bawah kepemimpinannya, MUI dinilai mampu memainkan peran strategis sebagai penghubung antara ulama, umat, dan pemerintah.
“Kemampuan beliau membangun komunikasi lintas pihak menunjukkan visi kebangsaan yang kuat,” pungkasnya.












