Prof. Haedar Nashir: Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah Harus Menyentuh Akar Rumput

Prof. Haedar Nashir

MAKLUMAT — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menegaskan pentingnya memperluas, memperdalam, dan memperbanyak metode dakwah berkemajuan agar terus menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga akar rumput.

Refleksi tersebut disampaikan Haedar saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis malam (29/1).

Menurut Haedar, fondasi Islam Berkemajuan yang dibangun oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sejatinya telah diletakkan sangat kokoh sejak awal berdirinya Muhammadiyah pada 1912. “Fondasi Muhammadiyah sejatinya sudah diletakkan dengan kuat oleh para pendiri. Kita sesungguhnya tinggal melanjutkan, memperdalam, dan memperbanyak cara untuk mengembangkan apa yang telah dirintis generasi awal,” ujar Haedar.

Spirit Al-Ma’un dan Dakwah Inklusif

Haedar menegaskan bahwa KH Ahmad Dahlan menanamkan spirit Islam Berkemajuan berbasis teologi Al-Ma’un—teologi welas asih yang melintas batas identitas dan sekat sosial. Sejak awal, Muhammadiyah bergerak secara inklusif melalui amal usaha sosial.

Ia menyebut berbagai inisiatif awal Muhammadiyah, mulai dari rumah sakit (hospital), rumah miskin (armen huis), rumah yatim (wees huis), penanggulangan bencana pada 1922, hingga gerakan perempuan melalui kelahiran Aisyiyah. “Aisyiyah adalah satu-satunya pergerakan Islam modern yang sejak awal digerakkan perempuan di ruang publik. Itu tidak dilakukan oleh pergerakan Islam lain pada masa itu,” kata Haedar.

Baca Juga  Syiar Idulfitri di Baturraden: Meneguhkan Islam Berkemajuan di Kaki Gunung Slamet

Haedar juga mengisahkan praktik langsung dakwah Al-Ma’un yang dilakukan KH Ahmad Dahlan dengan berkeliling Pasar Beringharjo dan Alun-Alun Yogyakarta untuk menjumpai kaum miskin dan anak yatim, yang kemudian dirawat melalui institusi Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Pergerakan Nasional

Dalam konteks pergerakan nasional, Haedar menyinggung keterlibatan KH Ahmad Dahlan dalam Budi Utomo. Pada 1917, Kongres Budi Utomo bahkan diselenggarakan di Kauman, Yogyakarta. “Kongres Budi Utomo itu menunjukkan semangat kebangkitan nasional Kiai Dahlan yang tidak mengenal primordialisme,” ujar Haedar.

Dari relasi tersebut, pada 1926 Dr. Soetomo menjadi penasihat kesehatan Muhammadiyah dan mendirikan poliklinik di Surabaya yang kini berkembang menjadi RS PKU Muhammadiyah Surabaya.

Dalam pidatonya saat peresmian, Dr. Soetomo menyoroti teologi Al-Ma’un sebagai ajaran welas asih yang merangkul semua golongan, berbeda dengan ideologi Darwinisme yang menekankan seleksi kekuatan.

Dakwah Tidak Bisa Satu Pintu

Haedar menekankan bahwa luasnya wilayah Indonesia serta kompleksitas sosial menuntut dakwah Muhammadiyah dilakukan melalui banyak pendekatan dan pranata. “Indonesia begitu luas, segmen masyarakatnya beragam, dan dinamika sosialnya kompleks. Dakwah tidak cukup dilakukan melalui satu pintu,” tegasnya.

Ia menelusuri tonggak perkembangan dakwah Muhammadiyah, mulai dari konsep Jamaah Dakwah Jamaah pada 1968, dakwah kultural pada 2002, hingga lahirnya Dakwah Komunitas pada 2015 yang menjangkau masyarakat pedesaan, wilayah terpencil, dan kawasan kumuh. “Ini tinggal kita teruskan, menyapa segmen sosial yang semakin mikro dan membutuhkan pendekatan khusus,” pungkas Haedar.***

Baca Juga  KH Tafsir: Kepemimpinan Tidak Terikat Umur, tapi Kedewasaan