Hujan Rudal di Hari yang Fitri, Ketua LHKP PWM Jatim Ingatkan Pentingnya Kemandirian Bangsa

MAKLUMAT — Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jatim, Muhammad Mirdasy, mengajak masyarakat merenungkan makna Idulfitri 2026 di tengah situasi global yang terus bergejolak.

Ia menilai, kehidupan damai yang dirasakan masyarakat Indonesia saat ini merupakan anugerah yang patut disyukuri, terutama jika dibandingkan dengan kondisi di sejumlah wilayah konflik.

“Ada hal yang perlu kita syukuri bagi kita yang tinggal di Indonesia. Ibu Nusantara yang terkenal dengan loh jinawi, gemah ripah, dan penuh dengan ketersediaan alam yang sangat melimpah ruah,” katanya kepada wartawan Maklumat.id pada Kamis (19/3/2026).

Ia menggambarkan, suasana Idulfitri yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan justru diwarnai kecemasan bagi sejumlah masyarakat di Timur Tengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian dunia tertuju pada penderitaan warga Gaza di Palestina. Namun tahun ini konflik meluas ke kawasan lain yang membuat dunia tertuju pada Iran yang tengah berkonflik dengan Israel dan Amerika Serikat.

Oleh karenanya, di tengah perayaan Idulfitri di Indonesia yang berlangsung aman, ia mengingatkan bahwa di belahan dunia lain, suara takbir bisa saja bersanding dengan dentuman rudal dan tembakan yang mengancam keselamatan warga sipil.

Baca Juga  Komisi I DPR Desak Pemerintah Tolak Atlet Israel di Kejuaraan Dunia Senam 2025 di Jakarta

“Perlu kita syukuri bersama bahwasanya kita hari ini ber-Ramadan dengan penuh khusyuk tanpa merasa ada ancaman sedikit pun. Saat kita ber-Idulfitri dengan petasan, saudara-saudara kita ber-Idulfitri dengan bisingnya rudal yang menghujani rumah mereka,” ujarnya.

Dari hal ini, ia mengingatkan agar umat Islam di Indonesia agar tidak melupakan penderitaan saudara-saudara mereka di wilayah konflik. Sebab ajaran Islam sesungguhnya menempatkan nilai persaudaraan, keselamatan, dan rasa aman sebagai prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Di Balik Dinamika Geopolitik

Mirdasy juga menyoroti dinamika geopolitik terbaru, termasuk sikap Iran yang dinilai menunjukkan perlawanan terhadap tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Baginya, hal tersebut bukan soal menang atau kalah, melainkan tentang keberanian dan upaya melawan ketidakadilan.

“Kita tidak sedang bicara menang atau kalah, tetapi kita bicara tentang usaha, keberanian, dan kesungguhan untuk melawan kezaliman,” jelasnya.

Selain itu, ia menilai persepsi bahwa dunia Islam tertinggal dalam teknologi dan pertahanan perlu dikaji ulang. Ia mencontohkan Iran sebagai negara yang mampu menunjukkan kapasitas tersebut, terlepas dari perbedaan mazhab antara Syiah dan Sunni.

Baginya, kesamaan akidah menjadi titik temu yang lebih penting dibandingkan perbedaan praktik. “Hari ini kita menyaksikan betapa Iran menjadi perwakilan nyata dunia Islam. Saya tidak bicara antara Syiah dan Sunni, tetapi tentang keberislaman. Tuhan mereka Allah, nabi mereka Muhammad,” katanya.

Baca Juga  Keji! Serangan Israel Targetkan Sekolah Perempuan di Iran, 57 Anak Tewas dan Puluhan Terluka

Ia kemudian memaparkan sejumlah pelajaran yang bisa diambil, di antaranya pentingnya kemandirian nasional. Ia menyinggung bagaimana Iran bertahan selama puluhan tahun di bawah sanksi, namun tetap mampu membangun kekuatan di berbagai sektor, termasuk teknologi dan pertahanan.

Selain itu, ia menyoroti budaya literasi yang kuat, struktur kepemimpinan yang efektif, serta konsistensi dalam memegang prinsip sebagai faktor penting dalam membangun ketahanan negara.

Mirdasy juga mengingatkan potensi dampak global dari konflik yang terus memanas, termasuk kemungkinan terganggunya jalur distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz yang dapat memicu kenaikan harga minyak.

“Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menyiapkan diri agar mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Sekali lagi, dalam bahasa Soekarno: berdikari, berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya.

Ia berharap momentum Ramadan dan Idulfitri dapat menjadi titik refleksi untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan bangsa. Menurutnya, bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak bergantung pada pihak lain dan memiliki prinsip dalam menentukan arah masa depan.

“Mari kita menjadi bangsa yang kuat, tidak bergantung pada orang lain, tidak sekadar menjadi yes man, tetapi bangsa yang memiliki himmah dan prinsip dalam menentukan arah masa depan,” katanya.

Baca Juga  Sokong Israel Hadapi Iran, AS Kirim Kapal Selam Nuklir ke Timur Tengah