Al-Ma’un dan Jalan Muhammadiyah Membangun Peradaban Kemanusiaan

MAKLUMAT — Peradaban tidak lahir hanya dari megahnya bangunan, besarnya organisasi, atau banyaknya manusia yang berhimpun di dalamnya. Peradaban sejati tumbuh ketika nilai-nilai yang diyakini mampu mengubah kehidupan: mengurangi penderitaan, mengangkat martabat manusia, dan menghadirkan keadilan bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam perspektif Islam, ukuran kemajuan semestinya tidak berhenti pada simbol-simbol keberhasilan. Keimanan harus memiliki daya transformasi sosial. Agama bukan sekadar urusan ritual dan kesalehan pribadi, melainkan kekuatan yang menggerakkan manusia untuk peduli terhadap sesama.

Teologi Al-Ma’un pada titik ini menemukan relevansinya. Bagi Muhammadiyah, Al-Ma’un bukan sekadar surah yang dihafalkan atau diajarkan dalam pengajian. Ia adalah panggilan untuk menjadikan agama sebagai jalan pembebasan dari kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan, dan berbagai persoalan kemanusiaan.

Pesan tersebut kembali mengemuka dalam peresmian Gedung Darussyfa dan Darunnajah Rumah Sakit Islam Aisyiyah (RSIA) Malang, Minggu (1/11/2026). Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam pelayanan dan kerja kemanusiaan.

Pembangunan fasilitas kesehatan itu tentu patut diapresiasi. Namun, lebih penting dari sekadar berdirinya gedung baru adalah pertanyaan mendasar: sejauh mana fasilitas tersebut mampu menghadirkan pelayanan yang berkualitas, adil, dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan?

Pertanyaan itu penting karena kemajuan sebuah gerakan tidak semestinya hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun, tetapi juga dari kehidupan siapa yang berhasil diperbaiki.

 Al-Ma’un: Menguji Keberagamaan melalui Kepedulian

Surah Al-Ma’un memberikan kritik tajam terhadap keberagamaan yang kehilangan kepedulian sosial. Al-Qur’an mengingatkan bahwa mendustakan agama tidak hanya berkaitan dengan keyakinan, tetapi juga dengan sikap terhadap anak yatim dan orang miskin.

Pesan tersebut mengandung makna yang mendalam: ibadah tidak boleh terpisah dari tanggung jawab sosial. Kesalehan personal harus beriringan dengan kesalehan sosial.

Muhammadiyah sejak awal memahami pesan ini sebagai panggilan gerakan. Kiai Ahmad Dahlan tidak berhenti mengajarkan Al-Ma’un sebagai pengetahuan agama. Ajaran itu diterjemahkan menjadi tindakan nyata melalui pelayanan kepada masyarakat.

Dari semangat tersebut, Muhammadiyah mengembangkan berbagai amal usaha, mulai dari panti asuhan, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga lembaga sosial. Agama tidak hanya diajarkan, tetapi dihadirkan sebagai solusi atas persoalan kehidupan.

Baca Juga  Haedar Nashir: Rosyad Sholeh, Kamus Muhammadiyah yang Telah Pergi

Karena itu, Al-Ma’un sesungguhnya merupakan fondasi penting bagi pembangunan peradaban Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang mengikuti pengajian atau besarnya bangunan yang berdiri.

Dakwah menemukan maknanya ketika orang miskin memperoleh akses pendidikan, orang sakit mendapatkan pelayanan kesehatan, anak yatim memiliki masa depan, dan masyarakat marginal memperoleh kesempatan untuk hidup lebih bermartabat.

Dengan demikian, amal usaha Muhammadiyah bukan sekadar instrumen organisasi. Ia adalah bentuk konkret dari keberagamaan yang berpihak kepada kemanusiaan.

Rumah Sakit sebagai Ruang Dakwah Kemanusiaan

Rumah sakit memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan Teologi Al-Ma’un. Di tempat inilah nilai kemanusiaan diuji secara nyata.

Ketika pasien datang dengan keterbatasan ekonomi, ketika keluarga menghadapi kecemasan, dan ketika seseorang membutuhkan pertolongan tanpa memandang latar belakangnya, pelayanan kesehatan menjadi lebih dari sekadar aktivitas profesional. Ia merupakan praktik nyata nilai agama.

Dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar. Dakwah dapat hadir dalam keramahan tenaga kesehatan, ketepatan pelayanan, keterjangkauan biaya, transparansi pengelolaan, dan penghormatan terhadap martabat pasien.

Dalam konteks ini, rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki tanggung jawab moral yang besar. Profesionalitas dan spiritualitas harus berjalan beriringan. Pelayanan yang baik bukan hanya persoalan standar medis, tetapi juga bagaimana pasien diperlakukan sebagai manusia.

Semangat Al-Ma’un menuntut agar pelayanan kesehatan tidak kehilangan dimensi sosialnya. Rumah sakit harus terus berupaya meningkatkan kualitas sekaligus memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan.

Tentu, pelayanan kesehatan membutuhkan biaya, sumber daya, dan tata kelola yang profesional. Namun, keberlanjutan institusi dan kepedulian sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru perlu dirancang agar saling menopang.

Peradaban Islam Harus Terbuka dan Memanusiakan

Peradaban Islam yang dibangun Muhammadiyah semestinya tidak berhenti pada kepentingan kelompok sendiri. Islam membawa pesan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, manfaat dakwah harus dapat dirasakan oleh siapa pun, tanpa diskriminasi agama, suku, maupun golongan.

Kiprah Muhammadiyah di Papua dan sejumlah wilayah dengan masyarakat Muslim sebagai kelompok minoritas menunjukkan bagaimana pendidikan dan pelayanan kesehatan dapat menjadi jembatan kemanusiaan.

Baca Juga  Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Terima Penghargaan dari Universitas Kelantan Malaysia

Lembaga pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah melayani masyarakat dari berbagai latar belakang agama. Fenomena *Krismuha* atau Kristen Muhammadiyah juga memperlihatkan adanya kedekatan dan penerimaan lintas agama terhadap gerakan ini.

Pengalaman tersebut memberi pelajaran penting: kepercayaan tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui tindakan yang konsisten. Pelayanan yang tulus, adil, dan berkualitas dapat mempertemukan manusia melampaui sekat identitas.

Di tengah masyarakat yang kerap terbelah oleh perbedaan, pendekatan kemanusiaan semacam ini menjadi semakin relevan. Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menunjukkan bahwa Islam bukan sumber pertentangan, melainkan kekuatan yang menghadirkan kedamaian dan kemajuan.

Rahmatan lil Alamin tidak cukup menjadi ungkapan yang indah. Ia harus terlihat dalam cara institusi melayani, cara kader berinteraksi, dan cara organisasi mengambil peran di tengah masyarakat.

Keikhlasan Harus Bertemu Profesionalitas

Besarnya amal usaha Muhammadiyah tidak terlepas dari pengabdian para kader, pendiri, dan masyarakat yang menopangnya. Keikhlasan menjadi salah satu energi penting dalam perjalanan panjang tersebut.

Namun, keikhlasan saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan sebuah institusi. Pengabdian harus disertai amanah, profesionalitas, dan tata kelola yang baik.

Kepercayaan masyarakat merupakan modal sosial yang sangat berharga. Karena itu, setiap sumber daya yang dipercayakan kepada Muhammadiyah harus dikelola secara transparan, bertanggung jawab, dan berorientasi pada manfaat.

Profesionalitas bukan lawan dari keikhlasan. Justru, bekerja secara profesional merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap amanah yang diterima.

Demikian pula, spiritualitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan produktivitas atau kualitas pelayanan. Ibadah dan etos kerja semestinya saling menguatkan.

Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak hanya memiliki komitmen ideologis, tetapi juga kompetensi, integritas, dan kemampuan mengelola institusi secara modern.

Di tengah persaingan dan perubahan zaman, amal usaha Muhammadiyah harus mampu menjaga identitas gerakannya sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan. Nilai agama menjadi fondasi, sedangkan ilmu pengetahuan dan profesionalitas menjadi instrumen untuk memperluas manfaat.

Besar Organisasi Harus Berarti Besar Manfaat

Haedar Nashir menggambarkan besarnya jaringan amal usaha Muhammadiyah yang mencakup 165 perguruan tinggi, 130 rumah sakit, serta lebih dari 300 klinik dan balai kesehatan.

Baca Juga  Haedar Nashir Dorong Elite Politik Lebih Perhatian Terhadap Pendidikan

Angka tersebut menunjukkan kapasitas besar Muhammadiyah dalam berkontribusi bagi masyarakat. Namun, besarnya jaringan juga membawa tanggung jawab yang semakin luas.

Kemajuan tidak boleh hanya terkonsentrasi pada institusi yang sudah mapan. Amal usaha yang berkembang perlu menjadi bagian dari ekosistem yang membantu lembaga lain tumbuh dan meningkatkan kualitas.

Dalam konteks ini, gerakan yang terstruktur, sistematis, dan masif bukan sekadar strategi organisasi. Ia merupakan cara memastikan bahwa kemajuan dapat dirasakan secara lebih merata.

Rumah sakit yang unggul dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan rumah sakit lain. Perguruan tinggi yang maju dapat memperkuat penelitian dan pengembangan ilmu. Institusi yang memiliki sumber daya lebih besar dapat membantu lembaga yang masih berkembang.

Semangat saling menguatkan tersebut penting agar Muhammadiyah tidak terjebak dalam kompetisi internal yang hanya mengejar prestasi masing-masing institusi.

Peradaban dibangun melalui kerja kolektif. Kemajuan satu bagian seharusnya menjadi energi bagi kemajuan bagian lainnya.

Gedung Boleh Megah, tetapi Kemanusiaan Harus Lebih Utama

Peresmian Gedung Darussyfa dan Darunnajah RSIA Muhammadiyah Malang dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali orientasi gerakan Muhammadiyah.

Pembangunan fisik merupakan bagian penting dari kemajuan. Gedung yang memadai dapat meningkatkan kapasitas pelayanan, memperbaiki fasilitas, dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat.

Namun, bangunan hanya akan memiliki makna apabila di dalamnya tumbuh pelayanan yang bermutu, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada kemanusiaan.

Semangat Al-Ma’un mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan tidak terletak pada kemegahan fasilitas semata. Yang lebih penting adalah apakah keberadaan fasilitas itu mampu menjangkau mereka yang membutuhkan, memperbaiki kualitas hidup, dan menghadirkan keadilan dalam pelayanan.

Muhammadiyah memiliki warisan besar dalam mengubah ajaran agama menjadi gerakan sosial. Tantangan hari ini adalah menjaga agar warisan tersebut tetap hidup di tengah pertumbuhan organisasi dan kompleksitas persoalan masyarakat.

Pada akhirnya, peradaban Islam tidak dibangun hanya dengan memperbanyak gedung, institusi, atau jumlah anggota. Peradaban dibangun ketika ilmu pengetahuan berkembang, amanah dijaga, pelayanan diperkuat, dan manusia diperlakukan dengan bermartabat.

Di situlah semangat Al-Ma’un menemukan maknanya: menjadikan iman sebagai kekuatan untuk menolong, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.***

Penulis:  Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin

Wakil Ketua PCPM Klodjen Kota Malang