MAKLUMAT — Di balik banyaknya persoalan yang muncul di ruang publik, selalu ada dimensi hukum yang mendesak untuk dibicarakan bersama. Gagasan tersebut melatarbelakangi hadirnya Majalah KONSTELASI yang diterbitkan oleh PUSKOLEGIS Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).
PUSKOLEGIS sendiri adalah singkatan dari Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi. Lembaga ini memiliki berbagai program strategis, salah satunya adalah Majalah KONSTELASI yang menjadi ruang bagi pengembangan literasi hukum dan kanal edukasi untuk masyarakat luas.
“Kami telah meluncurkan Majalah KONSTELASI Edisi II dalam pembukaan Sunan Ampel Legal Competition (SALC) 2026 yang berlangsung di Amphitheater Gedung Twin Tower UINSA pada awal Mei silam,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah KONSTELASI, M Danis Benevolensa saat ditemui pada Ahad (31/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa peluncuran ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi hukum serta mendorong lahirnya ruang dialektika kritis di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Majalah KONSTELASI adalah upaya menyebarluaskan pemikiran, gagasan dan hasil kajian dari para cendekiawan hukum.
“Melalui majalah ini, kami berharap masyarakat dapat lebih mudah mengidentifikasi persoalan-persoalan tersebut dan turut terlibat dalam upaya penyelesaiannya,” ujarnya.
Mengusung tema-tema strategis seputar konstitusi, legislasi, reformasi kelembagaan, hingga isu lingkungan hidup, Danis menjelaskan bahwa Majalah KONSTELASI juga hadir sebagai media publikasi sekaligus refleksi atas dinamika hukum dan ketatanegaraan Indonesia.
Terbitnya edisi kedua ini juga bertepatan dengan Seminar Nasional bertajuk Ecological Constitution dan Reformasi Regulasi: Transformasi Paradigma dari Antroposentrisme Menuju Pembangunan Berkelanjutan yang menjadi rangkaian agenda SALC 2026.
Danis memaparkan bahwa penerbitan majalah ini sendiri juga merupakan bentuk ikhtiar untuk mengukur sekaligus menumbuhkan daya kritis mahasiswa terhadap persoalan-persoalan yang berkembang di ruang publik.
“Majalah KONSTELASI hadir sebagai bentuk ikhtiar untuk melihat sejauh mana mahasiswa mampu bersikap kritis terhadap persoalan yang ada di sekitarnya. Salah satu isu yang menjadi perhatian kami adalah lingkungan hidup yang hari ini menghadapi berbagai persoalan mendasar dan perlu dikaji secara bersama-sama,” jelasnya.
Dalam edisi kedua ini, Majalah KONSTELASI menghadirkan berbagai rubrik baru yang memuat tulisan akademisi, praktisi, peneliti, dan mahasiswa. Beberapa isu yang diangkat antara lain reformasi kepolisian, penguatan fungsi pengawasan pemerintahan desa, perlindungan anak, kedaulatan pangan dalam perspektif konstitusi hijau, hingga persoalan konstitusionalitas eksploitasi sumber daya alam.
“Beragam tema tersebut dipilih sebagai refleksi atas kebutuhan untuk terus meninjau arah pembangunan hukum di Indonesia di tengah tantangan sosial, politik, dan lingkungan yang semakin kompleks,” jelas Danis.
Kemampuan Berpikir Kritis dan Mencipta Solusi
Danis mengingat betul bagaimana pesan yang disampaikan Rektor UINSA, Prof Akh Muzakki dalam pembukaan SALC 2026. Bagi Muzakki, pengembangan keilmuan hukum tidak cukup hanya berfokus pada teks dan regulasi.
Oleh karenanya, Muzakki berpesan agar mahasiswa hukum selalu mengasah kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis persoalan hukum. Semua ini bertujuan agar para mahasiswa dapat menawarkan solusi konkret atas persoalan yang berkembang di masyarakat.
Bagi Danis, pesan tersebut menjadi salah satu semangat dalam penyusunan edisi-edisi KONSTELASI berikutnya. Karena itu, majalah ini akan terus berupaya menghadirkan berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat ke dalam ruang diskusi hukum yang lebih dekat dan kontekstual.
“Kami akan senantiasa berusaha menghadirkan isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat agar pembahasan hukum tidak terasa jauh dari realitas yang dihadapi sehari-hari,” ujar Danis.
Sementara itu, Direktur PUSKOLEGIS, Prof Nur Lailatul Musyafa’ah dalam sambutannya yang termuat pada majalah ini, menyampaikan bahwa KONSTELASI diharapkan menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis dan dialog yang berkelanjutan mengenai hukum konstitusi dan legislasi.
“Beragam topik yang diangkat mencerminkan kebutuhan untuk terus meninjau kembali arah pembangunan hukum dan praktik ketatanegaraan. Hukum tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berinteraksi dengan perkembangan sosial, politik, dan lingkungan,” ujarnya.
Kehadiran majalah ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana publikasi gagasan, tetapi juga mampu mendorong kesadaran hukum, memperluas partisipasi publik, serta menghadirkan perspektif kritis terhadap berbagai persoalan kebangsaan.
Melalui terbitnya KONSTELASI Edisi II, PUSKOLEGIS mengajak sivitas akademika dan masyarakat luas untuk terus membumikan tradisi berpikir kritis, memperkuat literasi hukum, serta berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan hukum yang berkeadilan dan berkelanjutan.














