MAKLUMAT — PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Malang menyelenggarakan kegiatan ngabuburit di Masjid Imam Bukhari, Malang dengan tajuk Learning by Fasting with IPM pada Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini adalah bagian dari rangkaian acara yang berlangsung pada 13–17 Maret 2026.
Kajian kali ini mengangkat tema Islam Wasathiyah: Menemukan Jalan Damai di Tengah Arus Ekstremisme. Anggota Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PD IPM Kota Malang, Rayhan Hisyam Balafif menjadi narasumber pada kesempatan ini.
“Islam Wasathiyah mengajarkan kita untuk bersikap adil, tidak berlebihan, dan tidak juga meremehkan ajaran agama. Sikap tengah inilah yang menjadi kunci dalam menjaga persatuan umat,” jelas Rayhan.
Pada awal pemaparannya, Rayhan terlebih dahulu mengulas kembali materi yang disampaikan pada hari pertama karena memiliki keterkaitan dengan topik yang dibahas. Ia menjelaskan bahwa perpecahan umat Islam telah muncul sejak masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin.
Berbagai faktor turut memengaruhi dinamika tersebut, mulai dari politisasi agama, munculnya sikap ekstrem (ghuluw), hingga memudarnya sikap tengah atau i’tidal dalam memahami ajaran Islam.
Menurut Rayhan, memahami sejarah perpecahan umat Islam penting agar generasi muda tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Perpecahan umat Islam sejak masa awal bukan hanya soal perbedaan pendapat, tetapi juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan cara memahami agama yang tidak proporsional,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatannya, Rayhan menekankan bahwa sikap tengah—yang dikenal sebagai Islam Wasathiyah—merupakan kunci penting dalam menyikapi perbedaan yang berpotensi menimbulkan perpecahan.
Menurutnya, pembenahan cara berpikir umat Islam menjadi langkah mendasar untuk mewujudkan masyarakat Islam yang ideal. Ia juga menyinggung contoh konkret dari praktik keberagamaan di lingkungan organisasi Muhammadiyah.
Rayhan menjelaskan bahwa dalam penetapan hukum, Muhammadiyah mengedepankan penggunaan akal yang sehat serta terbuka terhadap pembaruan dan dinamisasi dalam sarana beragama, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
“Dalam Muhammadiyah, pengambilan hukum tidak hanya bersandar pada teks, tetapi juga mempertimbangkan akal sehat dan dinamika zaman. Karena itu, kita bisa melihat adanya pembaruan dalam sarana beragama tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya,” tambahnya.
Di akhir pemaparannya, Rayhan mengajak para peserta untuk lebih mendalami jantung ajaran Islam dengan memahami sejarahnya secara utuh. Ia juga mendorong generasi muda agar mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari serta terus memperbaiki diri demi menjaga persatuan umat.
“Kalau kita ingin umat Islam menjadi khaira ummah, maka kita harus memahami ajaran Islam secara mendalam, memahami sejarahnya, dan berusaha menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Rayhan.













