“Kalau Kader Diam, Siapa Jaga AUM?” Lukiarto Bela Somasi Pemuda Muhammadiyah

Pemuda Muhammadiyah

MAKLUMATKetua PDM Kota Blitar Lukiarto, S.KM. memberikan pembelaan tegas terhadap langkah somasi yang dilakukan Pemuda Muhammadiyah terkait persoalan di RSI Aminah. Menurutnya, sikap kritis kader muda bukan bentuk pembangkangan, melainkan tanggung jawab menjaga amal usaha Muhammadiyah.

Pernyataan itu disampaikan Lukiarto dalam Kenduri Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah di Aula PDM Kota Blitar, Sabtu (2/5/2026) malam, yang mengusung tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya”. Acara internal tersebut dihadiri lebih dari 70 pengurus, serta turut dihadiri Bendahara Umum PWM Jatim drh. Zainul Muslimin, dan Wakil Ketua PWM Muhammad Khoirul Abduh.

Dalam forum itu, Lukiarto mengungkap dirinya pernah dimintai penjelasan di Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jaim terkait langkah somasi Pemuda Muhammadiyah atas dugaan persoalan tata kelola di RSI Aminah, termasuk isu dugaan kebocoran dana hingga Rp8 miliar.

Ia menyebut sempat ada pandangan bahwa langkah somasi tersebut tidak perlu dilakukan. Namun, ia memilih berdiri di sisi kader muda. “Saya bela mati-matian apa yang dilakukan Pemuda Muhammadiyah. Kalau kader diam, lalu siapa yang menjaga amal usaha?” tegasnya.

Lukiarto menilai kader muda memiliki karakter dasar yang agresif, kritis, dan inovatif. Karakter itu, menurutnya, harus dirawat agar organisasi tetap hidup dan responsif terhadap persoalan. “Kalau kader tidak aktif bergerak maka bukan kader, lebih baik berselimut di tempat tidur. Pemuda itu agresif dan inovatif. Kalau ini dibunuh, saya tidak terima,” ujarnya.

Baca Juga  Khofifah Minta PWPM Jatim Petakan Potensi Pemuda Muhammadiyah

Dia juga menekankan bahwa tema Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya harus dimaknai sebagai penguatan fondasi kaderisasi. Ia mengaitkannya dengan falsafah Jawa mikul duwur mendem jero, yakni pentingnya saling menghormati antar generasi sekaligus membangun dasar yang kuat.

Menurutnya, penguatan kader juga harus ditopang pendidikan. Saat ini, sedikitnya terdapat sekitar 500 kader Pemuda Muhammadiyah di Kota Blitar yang tersebar di tiga kecamatan. “Anak-anak harus sekolah lebih tinggi. Insyaallah kita segera akan punya doktor satu dua tahun lagi,” katanya optimistis.

Kritis Tapi Tetap Beradab

Sementara itu, Wakil Ketua PWM Muhammad Khoirul Abduh menegaskan masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan kualitas kader mudanya. Karena itu, pengkaderan harus dimulai dari bawah melalui proses di organisasi otonom (Ortom). “Besar kecilnya Muhammadiyah akan tergantung dengan Pemuda,” katanya.

Ia menegaskan, kader muda berhak mengoreksi apa pun di tubuh persyarikatan, termasuk amal usaha, selama tetap dalam koridor adab organisasi. “Pemuda Muhammadiyah berhak mengoreksi hal apa pun, tapi harus taat adab,” tegasnya.

Abduh menyebut pemuda sebagai dua sisi mata uang: potensi sekaligus tantangan. Jika dibina, menjadi energi perubahan. Jika tidak, bisa kehilangan arah dari nilai gerakan. “Pemuda adalah potensi dan tantangan. Jadi dua sisi, potensi dan masalah. Ada pemuda yang mau ke warung kopi, tidak mau ke masjid,” ujarnya.

Baca Juga  Tok! Jatim Tuan Rumah Muktamar XIX Pemuda Muhammadiyah 2027, Diusulkan di Surabaya

Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Blitar Khabib Aji Widodo menegaskan bahwa kader muda adalah mata rantai estafet perjuangan. “Inilah wajah-wajah penerus Muhammadiyah, Pak Lukiarto,” kata Khabib membuka sambutan.

Ia menegaskan, usia 94 tahun menjadi simbol kematangan organisasi. Karena itu, kader muda harus berperan sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan, termasuk menjaga amal usaha Muhammadiyah. “Apabila ada di AUM yang ingin merusak, maka pemuda harus menjaganya,” tandasnya.***