Kesederhanaan yang Mendidik Zaman, Teladan Prof Haedar Nashir

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr KH Haedar Nashir MSi, ketika menghadiri Gebyar Milad ke-50 Smamda Sidoarjo, Sabtu (31/1/2026). (Foto: dr Tjatur/ IST)

MAKLUMAT — Di tengah zaman ketika jabatan sering disertai jarak, dan kehormatan kerap diukur dari fasilitas, Prof Dr KH Haedar Nashir MSi justru menghadirkan pelajaran yang sunyi namun menggugah: tentang kesederhanaan yang lahir dari kebesaran jiwa.

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, beliau mengemban amanah kepemimpinan atas sebuah gerakan besar—persyarikatan dengan jaringan amal usaha yang tersebar di seluruh nusantara bahkan dunia, dengan nilai aset yang mencapai 460 Triliun rupiah. Angka yang jika disebutkan saja sudah cukup membuat banyak orang silau. Namun, tidak demikian dengan Prof Haedar. Kebesaran itu tidak pernah menjelma menjadi kemewahan pribadi, apalagi jarak sosial.

Ketika beliau bertolak dari Yogyakarta menuju Sidoarjo untuk menghadiri Milad ke-50 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda), sebuah amal usaha pendidikan yang telah melahirkan ribuan kader bangsa, pilihan perjalanannya begitu sederhana: naik kereta api. Tanpa iring-iringan berlebihan. Tanpa protokoler yang membangun sekat. Tanpa simbol-simbol kekuasaan yang sering dianggap “wajar” bagi seorang pemimpin besar.

Di situlah kita belajar.

Bahwa kepemimpinan sejati tidak membutuhkan panggung tinggi untuk terlihat mulia.

Bahwa kehormatan tidak selalu berjalan seiring dengan kemewahan.

Baca Juga  Kiai Saad Ibrahim Bicara di Tokyo: Jihad Muhammadiyah Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua

Dan bahwa nilai-nilai Islam berkemajuan yang digaungkan Muhammadiyah menemukan wujudnya yang paling nyata justru dalam laku hidup yang bersahaja.

Kesederhanaan Prof Haedar bukanlah pencitraan. Ia adalah konsistensi. Konsistensi antara kata dan perbuatan. Antara pemikiran dan perjalanan hidup. Antara dakwah lisan dan dakwah keteladanan. Dari ruang sidang intelektual hingga gerbong kereta api ekonomi, nilai itu tetap sama: amanah, rendah hati, dan membumi.

Bagi keluarga besar Smamda Sidoarjo, kehadiran beliau bukan sekadar kehormatan struktural. Ia adalah pesan moral yang kuat bagi para pendidik dan peserta didik: bahwa sebesar apa pun amanah yang kelak dipikul, kesederhanaan adalah pakaian terbaik seorang pemimpin.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering mengagungkan “tampilan,” Prof Dr KH Haedar Nashir mengajarkan kita untuk kembali pada “makna.” Dan barangkali, justru dari kursi kereta api itulah, pelajaran kepemimpinan paling jujur sedang diajarkan—tanpa suara keras, tetapi menggema lama di hati.