Latih 50 Kepala Sekolah-Guru, BPBD Jatim Cetak Fasilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana

Satuan Pendidikan aman bencana

MAKLUMAT – Sebanyak 50 kepala sekolah dan guru dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur mengikuti Training of Facilitator (TOF) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kegiatan itu bertujuan memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam membangun satuan pendidikan yang tangguh menghadapi potensi bencana melalui penguasaan kompetensi mitigasi, manajemen risiko, dan budaya siaga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan TOF Satuan SPAB itu dengan metode blended system. Penyelenggaraan secara daring pada 22–23 Juni 2026 dan dilanjutkan tatap muka pada 6–7 Juli 2026 di Surabaya.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya BPBD Jawa Timur memperluas implementasi konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana di berbagai daerah. Melalui pelatihan itu, para peserta diharapkan mampu menjadi fasilitator yang dapat menularkan pengetahuan serta praktik mitigasi bencana kepada warga sekolah di wilayah masing-masing.

Pelaksanaan TOF SPAB dibagi dalam dua tahapan. Tahap pertama dilakukan secara daring untuk memberikan penguatan konsep dasar dan pemahaman kebijakan. Sedangkan tahap kedua dilaksanakan secara luring di Hotel Southern Surabaya dan Kantor BPBD Jawa Timur melalui praktik, simulasi, serta pendalaman materi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan bahwa penguatan kapasitas tenaga pendidik menjadi langkah strategis dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana.

Baca Juga  Islamic Green School: Langkah Hijau Berbasis Nilai Islam di Dunia Pendidikan

“Melalui TOF SPAB ini, kami ingin memastikan para kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik memiliki pengetahuan sekaligus keterampilan praktis untuk mengelola risiko bencana di lingkungan sekolah. Mereka nantinya menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan budaya kesiapsiagaan di satuan pendidikan masing-masing,” ujar Gatot, Senin (6/7/2026).

Menurutnya, sekolah merupakan salah satu ruang publik yang harus memiliki sistem perlindungan yang baik karena menjadi tempat berlangsungnya proses belajar jutaan peserta didik setiap hari. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk dokumen, tetapi harus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh lima materi utama yang menjadi fondasi penyelenggaraan Satuan Pendidikan Aman Bencana. Materi pertama membahas pentingnya penerapan SPAB sebagai sistem perlindungan menyeluruh bagi seluruh warga sekolah.

Materi berikutnya mengulas standar fasilitas sekolah yang aman terhadap bencana. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya infrastruktur yang memenuhi prinsip keselamatan guna meminimalkan risiko korban maupun kerusakan apabila terjadi keadaan darurat.

Selain itu, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai manajemen bencana di lingkungan sekolah. Materi itu mencakup penyusunan prosedur operasional standar (SOP), mekanisme evakuasi, hingga koordinasi penyelamatan yang dapat dijalankan secara cepat dan terorganisasi.

Baca Juga  Padamkan Kebakaran TPA Supit Urang, Khofifah Terjunkan Heli Water Bombing

Aspek edukasi kebencanaan turut menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut. Para peserta didorong mengintegrasikan materi kebencanaan ke dalam proses pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler agar siswa memahami potensi risiko sejak usia dini. Pelatihan juga membekali peserta dengan kemampuan menyusun jalur evakuasi, peta risiko, serta titik kumpul sementara yang aman sehingga seluruh warga sekolah mengetahui langkah penyelamatan ketika terjadi bencana.

Di hadapan peserta, Endang Mulyani Putro menegaskan bahwa implementasi SPAB tidak boleh berhenti sebagai pemenuhan kewajiban administratif. Menurutnya, yang paling penting adalah membangun perubahan budaya di lingkungan sekolah.

“Pelatihan ini harus menjadi titik awal lahirnya budaya siaga di sekolah. Mitigasi bencana semestinya dipahami sebagai kebutuhan dasar dalam dunia pendidikan, bukan sekadar kelengkapan administrasi atau persyaratan program,” kata Endang.

Ia menilai keberhasilan program akan terlihat ketika seluruh warga sekolah memiliki kesadaran bersama mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik. Endang juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberlanjutan program tersebut. Sinergi antara pemerintah, sekolah, organisasi profesi, dan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun pendidikan yang lebih tangguh.

“Kolaborasi menjadi investasi jangka panjang bagi perlindungan generasi muda. Ketika sekolah, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup untuk menghadapi situasi darurat secara tepat,” ujarnya.

Baca Juga  MDMC Rayon 1 Jatim Perkuat Sinergi Relawan dan Tata Kelola Data Kebencanaan di Pacitan

Ia berharap semangat “Jawa Timur Tangguh Bencana” dapat tumbuh di setiap sekolah sehingga budaya kesiapsiagaan menjadi bagian dari proses pendidikan yang berlangsung setiap hari.

Untuk memperkuat kualitas pelatihan, BPBD Jawa Timur menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga yang memiliki kompetensi di bidang kebencanaan dan pendidikan. Kehadiran pemateri lintas sektor diharapkan mampu memberikan perspektif yang komprehensif kepada seluruh peserta.

Para narasumber berasal dari BPBD Jawa Timur, Sekretariat Nasional SPAB, Ikatan Guru Indonesia (IGI), BKPSDM Jawa Timur, serta Kwartir Daerah Pramuka Jawa Timur. Masing-masing memberikan materi sesuai bidang keahlian, mulai dari kebijakan SPAB, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pembentukan karakter tangguh melalui pendidikan.

Melalui penyelenggaraan TOF SPAB, BPBD Provinsi Jawa Timur menargetkan lahirnya fasilitator-fasilitator yang mampu mengimplementasikan sistem Satuan Pendidikan Aman Bencana secara berkelanjutan di sekolah masing-masing. Upaya tersebut diharapkan memperkuat budaya mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah, serta mendukung terwujudnya ekosistem pendidikan yang aman, tangguh, dan berketahanan terhadap berbagai potensi bencana. (*)

Penulis: Edi Susanto