Lebih Dari 400 Wanita dan Anak-anak Tewas Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani. (Foto: Tasnim)

MAKLUMAT — Lebih dari 1.000 warga Iran menjadi korban akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak Sabtu (28/2/2026) lalu. Hampir separuh di antaranya adalah wanita dan anak-anak.

Dilansir dari Tasnim, Pemerintah Iran merilis angka korban terbaru menyusul serangan AS dan Israel, yang kini telah memasuki hari kedua belas.

Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengungkapkan data statistik terbaru dalam sebuah wawancara video, yang mengatakan bahwa total lebih dari 400 wanita dan anak-anak menjadi korban akibat serangan AS-Israel.

Rinciannya, terdiri atas sebanyak 216 wanita, 198 orang di bawah usia 18 tahun, serta 11 anak di bawah usia lima tahun telah menjadi korban akibat serangan tersebut.

“Korban termuda adalah bayi berusia delapan bulan yang meninggal di Robat Karim, sementara korban luka termuda adalah bayi berusia empat bulan,” katanya, dikutip dari Tasnim.

Mohajerani juga menyoroti kerusakan yang ditimbulkan pada fasilitas medis, menyatakan bahwa 21 unit gawat darurat telah rusak, dengan tiga di antaranya hancur total. Jumlah petugas kesehatan yang meninggal telah mencapai 12 orang.

Lebih lanjut, Mohajerani mengungkapkan langkah-langkah ekonomi yang bertujuan untuk memperkuat sektor-sektor kunci di tengah perang yang sedang berkecamuk.

Baca Juga  Prabowo Bertemu Anggota Korposasi USINDO di Washington DC

Ia menyebut “sebuah dekrit komprehensif telah dikeluarkan” untuk mendukung perusahaan yang terlibat dalam penyediaan makanan dan layanan kesehatan. “Pembayaran pinjaman otomatis telah diperpanjang, dan penangguhan pembayaran telah diterapkan.”

Selain itu, Mohajerani juga mengatakan bahwa Pemerintah Iran telah meningkatkan batas kredit untuk unit manufaktur prioritas dan menangguhkan hukuman untuk cek yang ditolak. Upaya juga sedang dilakukan untuk mempercepat proses impor, termasuk perpanjangan otomatis pesanan dan izin impor, dan memfasilitasi pengurusan barang-barang penting tanpa memerlukan kode SATA. Pengecualian impor telah diberikan untuk ambulans dan mesin konstruksi jalan.

Pemerintah, kata dia, memprioritaskan pengadaan bahan baku dan peralatan penting. Kementerian Perindustrian, Pertambangan, dan Perdagangan telah ditugaskan untuk mengembangkan rencana untuk mengamankan bahan setengah jadi dan barang-barang penting.

Di sisi lain, Pentagon mengungkapkan sedikitnya 140 tentara Amerika Serikat mengalami luka-luka sejak operasi militer “Epic Furry” dilancarkan ke Iran pada 28 Februari 2026.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengklaim bahwa pasukannya “hanya” mengalami luka ringan dan mayoritas sudah kembali menjalankan tugas. “Sebagian besar dari cedera ini bersifat ringan,” kelakarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip dari NY Post pada Rabu (11/3/2026).

Baca Juga  Kabarkan Kondisi WNI Aman dan Terkendali, IPI Iran Kecam Serangan Israel

Ia menyebut, sebanyak 108 prajurit telah kembali bertugas, sementara delapan lainnya masih menjalani perawatan akibat luka serius. “Delapan anggota militer masih tercatat mengalami luka serius dan menerima perawatan medis tingkat tertinggi,” ujar Parnell.

Meski begitu, dalam laporannya Pentagon tidak merinci waktu dan lokasi pasti yang mengakibatkan pasukan AS luka-luka tersebut.

Selain itu, militer AS juga mengonfirmasi adanya korban jiwa. Sedikitnya tujuh tentara AS tewas akibat serangan balasan yang dilancarkan Iran ke sejumlah titik pangkalan militer dan aset-aset strategis terkait Amerika di kawasan. Termasuk enam korban dalam serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Kuwait pada 1 Maret 2026 lalu.

Seorang tentara lainnya juga dilaporkan tewas pada hari yang sama setelah pangkalan militer AS di Arab Saudi menjadi target serangan. Kemudian, satu anggota militer tambahan meninggal dunia pada 6 Maret akibat kondisi medis darurat yang belum dijelaskan.