MAKLUMAT — Direktur Eksekutif Maarif Institute, Andar Nubowo mengingatkan pentingnya menjaga demokrasi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini.
Menurutnya, kemunduran demokrasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir perlu menjadi perhatian bersama agar tidak menggerus ruang kebebasan yang pernah dinikmati masyarakat.
“Ancaman nyatanya, kalau tidak sama-sama kita jaga, demokrasi hanya akan menjadi ‘pernah’ di negara ini,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam acara Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif: Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa.
Agenda ini diadakan oleh Maarif Institute serta Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang mengangkat tema Pendidikan, Ekologi, dan Keadaban Publik: Menjawab Krisis Kemanusiaan melalui Reaktualisasi Gagasan Kebudayaan Buya Syafii Maarif.
Berlangsung di Hotel Tamarin, Jakarta, Kamis (18/6/2026), kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta terpilih dari berbagai provinsi di Indonesia.
Dalam sambutannya, Andar mengajak peserta untuk mengembangkan tradisi intelektual yang berpijak pada nilai moral. Ia menekankan bahwa ajaran agama tidak cukup hanya dibaca dan dilantunkan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, para intelektual memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan nilai-nilai moral dalam ruang publik. Karena itu, keadaban publik perlu terus dirawat dan dijadikan bagian dari gaya hidup masyarakat.
“Kita pernah mengalami apa yang disebut civil liberty di republik ini. Tapi dalam satu dekade terakhir, demokrasi kita terus menurun. Kita mengalami regresi demokrasi, demokrasi merosot, dan sedang berada dalam ancaman besar,” katanya.
Andar menilai kondisi tersebut harus dijawab dengan penguatan nilai-nilai kebangsaan yang inklusif. Ia menyoroti pentingnya memperkuat praktik Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di tengah munculnya kelompok-kelompok yang menginginkan Indonesia hanya memiliki satu corak identitas.
Menurut dia, gagasan keindonesiaan yang plural dan inklusif merupakan warisan penting para pendiri bangsa yang harus terus dijaga. Upaya menyeragamkan identitas bangsa dinilai bertentangan dengan cita-cita kebangsaan yang telah dibangun sejak awal kemerdekaan.
Selain itu, Andar juga menekankan pentingnya mengembangkan pemahaman keislaman yang progresif. Ia menyebut karakter utama keberagamaan yang progresif adalah kemampuan untuk memahami dan menjalani realitas pluralitas dalam kehidupan sehari-hari.
“Buya Syafii Maarif selalu menekankan bahwa meskipun kita berbeda-beda dan beragam, kita terikat dalam satu spirit kemanusiaan yang universal,” jelasnya.
*) Penulis: M Habib Muzaki













