Menjemput Lailatulqadar: Berjaga di Masjid atau di IGD?

Malam Lailatulqadr. (Ilustrasi: Freepik)

MAKLUMAT — Malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan selalu menghadirkan nuansa batin yang berbeda pada diri kita. Ada semangat membara untuk segera melangkah ke masjid agar tidak ketinggalan ibadah iktikaf, serta kesempatan memperbanyak doa dan munajat, dengan satu harapan bisa berjumpa Lailatulqadar.

Namun bagaimana jika di saat yang sama, istri tetangga berdiri di depan rumah dengan wajah panik, memohon bantuan untuk mengantarkan suaminya yang terkena serangan jantung ke rumah sakit?

Di hadapan kita terbentang dua pilihan yang menyesakkan: berjaga di masjid demi meraih malam kemuliaan, atau justru berjaga di instalasi gawat darurat (IGD) demi membantu menyelamatkan nyawa sesama.

Di sinilah timbangan kesalehan diri kita dipertaruhkan.

Tidak salah kiranya kita menaruh harapan berjumpa dengan Lailatulqadar. Selain menunaikan tuntunan syariat, ada keutamaan yang Allah tegaskan di dalamnya:

“Malam yang lebih baik dari seribu bulan, dan para malaikat turun membawa ketetapan serta keberkahan sampai fajar menjelang.” (QS. Al-Qadr: 3-5)

Apalagi berlomba-lomba mengejar kebaikan memang sangat dianjurkan Rasulullah. Salat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat dibanding salat sendirian. Setiap langkah kaki menuju masjid, mengandung banyak kebaikan daripada sekadar berdiam di rumah. Begitu pula barangsiapa yang salatnya bersama imam dinilai sama dengan salat semalam suntuk. Berbagai perilaku spiritual ini diajarkan agar kita senantiasa bersemangat meraih nilai tambah dalam setiap amaliah ibadah.

Baca Juga  Benturan Logika

Lebih dari itu, khusus Lailatulqadar, Rasulullah sendiri memberi teladan tentang kesungguhan menghidupkan sepuluh malam terakhir. Aisyah meriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi di waktu lain, Rasulullah juga memberikan pesan sosial: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. At-Thabrani)

Bahkan dalam riwayat Abdullah bin Umar, disebutkan bahwa membantu kebutuhan seorang saudara lebih beliau cintai daripada iktikaf di masjidnya selama sebulan (HR. At-Thabrani).

Gambaran antara harapan dengan kebermanfaatan bagi sesama, membuat kita tertantang untuk merenungkan kembali makna Lailatulqadar.

Keberadaan kita tentu bukan sekadar berlomba-lomba memperbanyak ibadah di momen istimewa itu. Tetapi bagaimana sebagai pribadi tangguh yang tengah menjalani proses pengendalian diri selama Ramadan, mampu menempatkan kesalehan spiritual tanpa membuat diri terasing dari realitas sosial.

Sebab dari situlah kepekaan kepada sesama tumbuh sebagai wujud cinta kepada Allah.

Sering kali kita memisahkan antara urusan ‘ukhrawi’ dan ‘duniawi’. Seolah-olah dengan berfokus pada hubungan vertikal kepada Sang Khalik, hubungan horizontal akan mengikuti dengan sendirinya.

Padahal Islam tidak mengenal dikotomi itu. Ibadah dan ikhtiar adalah satu kesatuan untuk mendapatkan predikat hamba mulia di sisi Tuhan. Ibarat dua pedal sepeda yang harus dikayuh serempak untuk bisa mendapatkan tujuan yang diinginkan.

Baca Juga  Refleksi Iduladha: Apa yang Bisa Diceritakan dari Halal Sains?

Pilihan mengantar tetangga ke rumah sakit pada malam yang kita harapkan sebagai Lailatulqadar bisa jadi bukan penghalang meraih kemuliaan, melainkan bagian dari jalan menuju kemuliaan itu sendiri. Sebab Allah juga berfirman:

“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Lailatulqadar seharusnya menumbuhkan cinta kepada Allah yang tercermin dalam kepedulian kepada manusia. Adanya keselarasan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Dengan begitu, Lailatulqadar bukan sekadar ritual pribadi untuk memburu pahala di balik dinding masjid, melainkan pembuktian kepekaan sosial yang mengalir dalam denyut nadi kehidupan.

Memilih untuk hadir bagi sesama yang membutuhkan di saat-saat kritis bukan berarti kehilangan malam kemuliaan; justru itulah manifestasi nyata dari hakikat ibadah yang menghidupkan nilai kemanusiaan.