Muhammadiyah Ingatkan Orang Tua: Gejala Clubfoot Bisa Dideteksi Sejak Lahir

Muhammadiyah Ingatkan Gejala Clubfoot Sejak Bayi Lahir

MAKLUMAT — Muhammadiyah mengingatkan para orang tua untuk lebih waspada terhadap gejala clubfoot atau kaki pengkor yang dapat dikenali sejak bayi lahir. Melalui Program MENTARI Clubfoot, Muhammadiyah menegaskan bahwa deteksi dan penanganan sejak dini menjadi kunci utama keberhasilan terapi serta pencegahan disabilitas permanen pada anak.

Program MENTARI Clubfoot merupakan inisiatif Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berfokus pada pendampingan anak dengan clubfoot (congenital talipes equinovarus). Selain layanan medis, program ini juga menitikberatkan pada edukasi publik agar orang tua mampu mengenali tanda-tanda awal sejak hari-hari pertama kehidupan bayi.

Sekretaris MPKU PP Muhammadiyah, dr. Ekorini Listiowati, menyebut masih banyak kasus clubfoot yang terlambat ditangani akibat minimnya pemahaman orang tua.

“Padahal, tanda clubfoot bisa langsung terlihat sejak bayi lahir. Jika kaki tampak bengkok atau tidak simetris, sebaiknya orang tua segera memeriksakan anaknya,” ujar dr. Ekorini.

Ciri Clubfoot Bisa Dikenali Sejak Awal

Menurut Muhammadiyah, clubfoot ditandai dengan posisi kaki dan pergelangan bayi yang mengarah ke dalam, baik pada satu maupun kedua kaki. Kondisi ini sering disertai otot betis yang kurang berkembang, tumit lebih kecil, serta keterbatasan gerak pergelangan kaki.

Deteksi dini memungkinkan dokter melakukan penanganan non-bedah secara optimal. Sebaliknya, keterlambatan diagnosis dapat berdampak pada gangguan berjalan, nyeri kronis, hingga keterbatasan aktivitas fisik saat anak tumbuh besar.

“Clubfoot bukan kondisi yang perlu ditakuti atau distigmatisasi. Dengan penanganan sejak dini, peluang anak untuk tumbuh normal sangat besar,” tambah dr. Ekorini.

Ratusan Anak Terjangkau Program MENTARI

Hingga 2025, Program MENTARI Clubfoot telah melayani 161 anak di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Program ini didukung tujuh rumah sakit mitra serta lima rumah sakit jejaring Muhammadiyah–‘Aisyiyah yang berfungsi sebagai pusat layanan kaki pengkor di daerah.

Jejaring ini memudahkan orang tua mendapatkan layanan yang terjangkau dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat sistem rujukan dan pemantauan terapi jangka panjang. Dokter spesialis ortopedi di rumah sakit Muhammadiyah–‘Aisyiyah berperan penting dalam diagnosis dini, penerapan metode Ponseti, serta evaluasi perkembangan pasien secara berkala.

Edukasi Jadi Pilar Pencegahan

Selain layanan klinis, Muhammadiyah menjadikan edukasi sebagai strategi utama. Sepanjang Juli 2024 hingga Desember 2025, Program MENTARI Clubfoot telah menggelar 72 kegiatan community awareness dan 27 lokakarya deteksi dini serta rujukan.

Lebih dari 2.000 peserta—mulai dari tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat umum—terlibat dalam kegiatan tersebut. Edukasi ini menekankan bahwa pengenalan gejala sejak lahir dapat mencegah kecacatan dan meningkatkan kualitas hidup anak.

“Ini bagian dari dakwah kemanusiaan berbasis kesehatan,” kata dr. Ekorini.

Penjelasan Medis: Clubfoot Bisa Langsung Terdeteksi

Dokter ortopedi RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, dr. Fatanillah Fitra, Sp.OT, menjelaskan bahwa clubfoot merupakan kelainan bawaan akibat gangguan perkembangan tendon kaki, sehingga posisi kaki dan pergelangan bayi mengarah ke dalam.

Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai talipes equinovarus dan diperkirakan terjadi pada 1 dari 1.000 kelahiran. Clubfoot dapat mengenai satu atau kedua kaki.

“Penanganan sedini mungkin penting agar tumbuh kembang anak tidak terganggu dan risiko kecacatan permanen dapat dicegah,” jelas dr. Fatanillah.

Jenis, Faktor Risiko, dan Tanda Klinis

Berdasarkan penyebabnya, clubfoot dibagi menjadi dua jenis:

  1. Isolated (idiopatik), yang paling sering terjadi tanpa gangguan medis lain.

  2. Non-isolated, yang muncul bersamaan dengan kondisi seperti arthrogryposis atau spina bifida.

Risiko clubfoot lebih tinggi pada bayi laki-laki dan mereka yang memiliki riwayat keluarga serupa. Faktor risiko juga meningkat bila ibu hamil mengalami paparan alkohol, rokok, NAPZA, oligohidramnios, atau infeksi virus tertentu.

Gejala yang dapat dikenali sejak lahir meliputi kaki bengkok ke dalam, otot betis kecil, tumit pendek, pergelangan kaki kaku, serta gerakan kaki yang terbatas.

Penanganan Dini Menentukan Masa Depan Anak

Dokter dapat memulai terapi sejak bayi berusia 1–2 minggu. Metode Ponseti—melalui peregangan dan pemasangan gips bertahap—menjadi pilihan utama. Operasi hanya dilakukan bila terapi konservatif tidak memberikan hasil optimal.

Tanpa penanganan, clubfoot berisiko menimbulkan radang sendi, nyeri kronis, gangguan berjalan, hingga keterbatasan aktivitas fisik.

Melalui Program MENTARI Clubfoot, Muhammadiyah mengintegrasikan layanan medis, edukasi, dan pendampingan jangka panjang sebagai upaya memastikan setiap anak tumbuh sehat, aktif, dan berdaya.***