Obat Antibiotik Jadi Stok di Rumah, Ini Risiko yang Mengintai

Obat Antibiotik

MAKLUMAT — Obat antibiotik masih menjadi salah satu jenis obat yang paling sering disimpan masyarakat di rumah. Padahal, kebiasaan menyimpan dan mengonsumsi kembali antibiotik tanpa konsultasi tenaga kesehatan dapat memicu resistensi bakteri yang berbahaya bagi kesehatan.

Fenomena tersebut terungkap dalam penelitian dosen Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), apt. Hidayah Karuniawati, S.Farm., M.Sc., Ph.D., yang meneliti perilaku penyimpanan antibiotik pada rumah tangga di Kabupaten Boyolali.

Penelitian berjudul Assessment of Storage Behavior of Antibiotics and Influence Factors Among Household Members in Boyolali, Indonesia: A Cross-sectional Study itu menunjukkan bahwa antibiotik menjadi salah satu obat yang paling banyak disimpan masyarakat setelah obat pereda nyeri atau analgesik.

“Antibiotik itu hanya untuk membunuh bakteri, tidak untuk virus, jamur, maupun parasit. Kalau penggunaannya tidak tepat bisa menyebabkan resistensi, dan itu yang berbahaya,” kata Hidayah, dikutip Ahad (21/6/2026).

Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri tidak lagi mempan dibunuh oleh obat yang sebelumnya efektif digunakan untuk mengatasi infeksi.

Hampir Separuh Responden Simpan Obat Antibiotik

Hidayah mengungkapkan, dari 407 responden yang diteliti, sebanyak 184 orang atau 45,2 persen masih menyimpan obat antibiotik di rumah dan menggunakannya untuk pengobatan mandiri saat mengalami keluhan kesehatan ringan.

Baca Juga  Silaturahim Klinik Muhammadiyah Perkuat Sinergi Dakwah Kesehatan Lintas Daerah

Menurut dia, banyak masyarakat beranggapan antibiotik yang pernah digunakan sebelumnya dapat dikonsumsi kembali ketika mengalami gejala yang dianggap serupa.

“Sebagian responden mengaku memilih menggunakan antibiotik yang sudah tersedia di rumah karena sakit datang pada malam hari atau saat hari libur ketika fasilitas kesehatan tutup,” ujarnya.

Padahal, tidak semua penyakit memerlukan antibiotik. Keluhan seperti radang tenggorokan misalnya, sering kali disebabkan oleh infeksi virus yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa antibiotik.

“Radang tenggorokan tidak selalu karena bakteri. Kalau penyebabnya virus, penggunaan antibiotik justru tidak diperlukan,” jelasnya.

Sisa Antibiotik Jadi Pemicu Penggunaan Tidak Rasional

Penelitian tersebut juga menemukan banyak antibiotik yang disimpan berasal dari sisa pengobatan sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan pasien tidak menghabiskan antibiotik sesuai dosis dan lama terapi yang diresepkan.

Menurut Hidayah, penghentian pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan infeksi tidak sembuh sempurna dan meningkatkan risiko resistensi antibiotik.

“Kebiasaan menyimpan sisa antibiotik sebagai obat cadangan membuat risiko penggunaan antibiotik tanpa pengawasan tenaga kesehatan semakin besar,” katanya.

Bakteri Kebal Bisa Menular ke Orang Lain

Hidayah menegaskan, dampak resistensi antibiotik tidak hanya dirasakan oleh individu yang menggunakannya secara tidak tepat.

Baca Juga  Sorot Kelalaian Sopir Ambulance dan Pelayanan Kesehatan, Haji Uma Desak Evaluasi Layanan Puskesmas

“Bakteri yang resisten terhadap antibiotik bisa menular ke orang lain,” ujarnya.

Akibatnya, seseorang yang tidak pernah menyalahgunakan antibiotik pun berisiko terpapar bakteri kebal obat tersebut.

Laporan World Health Organization (WHO) melalui Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) menunjukkan resistensi antibiotik terus meningkat di berbagai negara. Bakteri seperti Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih dan infeksi aliran darah menjadi contoh bakteri yang semakin banyak menunjukkan resistensi.

Data global pada 2023 mencatat satu dari enam infeksi bakteri yang terkonfirmasi laboratorium telah resisten terhadap antibiotik.

“Kalau semua antibiotik sudah tidak mempan, penyakit yang sebelumnya mudah diobati bisa menjadi sulit bahkan tidak bisa disembuhkan,” tegas Hidayah.

Obat Antibiotik Masih Bisa Dibeli Tanpa Resep

Meski termasuk obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter, penelitian tersebut masih menemukan responden yang mendapatkan antibiotik dengan membeli langsung tanpa resep.

Sebagian responden mengaku memperoleh antibiotik dari toko obat hingga warung kelontong.

Padahal, menurut Hidayah, antibiotik hanya boleh diberikan melalui fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun apotek sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga  Jarang Diketahui Orang, Risiko dan Manfaat Olahraga saat Hujan

Penelitian juga menemukan amoksisilin, tetrasiklin, dan FG Troches menjadi jenis antibiotik yang paling banyak disimpan di rumah tangga responden.

Selain itu, banyak masyarakat menyimpan antibiotik di tempat yang tidak sesuai, seperti laci, lemari, kamar tidur, dapur, hingga kulkas.

“Penyimpanan yang tidak tepat dapat menurunkan kualitas obat antibiotik sehingga efektivitasnya berkurang,” katanya.

Karena itu, Hidayah menilai upaya menekan resistensi antibiotik harus dilakukan melalui edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat.

Ia mengimbau masyarakat tidak membeli antibiotik tanpa resep, menghabiskan antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta tidak menggunakan kembali sisa obat antibiotik dari pengobatan sebelumnya.

“Perubahan perilaku memang tidak mudah, tetapi harus terus dilakukan untuk mencegah meningkatnya resistensi antibiotik,” pungkasnya.***