MAKLUMAT – Kebiasaan begadang ternyata masih menjadi bagian dari gaya hidup banyak masyarakat Indonesia. Survei Kurious-Katadata Insight Center menunjukkan mayoritas responden hanya tidur 4-6 jam per hari, jauh di bawah durasi tidur ideal yang direkomendasikan para ahli kesehatan.
Data survei terhadap 875 responden di seluruh Indonesia itu mencatat sebanyak 46,2 persen responden tidur selama 4-6 jam per hari. Sementara 34,9 persen tidur 6-8 jam, 14,4 persen hanya tidur 2-4 jam, dan 1,7 persen bahkan kurang dari dua jam per hari. Hanya 2,9 persen responden yang memiliki waktu tidur lebih dari delapan jam setiap hari.
Kebiasaan begadang paling banyak ditemukan pada kelompok usia 35-44 tahun sebesar 33,3 persen, disusul kelompok usia 25-34 tahun sebesar 31 persen dan usia 45-54 tahun sebesar 21,5 persen.
Aktivitas menonton menjadi alasan utama orang Indonesia suka begadang dengan persentase mencapai 53,1 persen. Selain itu, sebanyak 44,1 persen responden mengaku harus menyelesaikan pekerjaan atau tugas pada malam hari. Aktivitas lain yang menyebabkan begadang adalah berbincang dengan keluarga atau teman (30,1 persen) serta bermain gim (29,4 persen).
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dr. Budi Hernawan, M.Sc., menilai penggunaan gawai menjadi salah satu faktor utama yang membuat seseorang sulit tidur lebih awal.
“Paparan cahaya biru dari layar elektronik dapat menghambat sekresi melatonin sehingga ritme sirkadian bergeser menjadi lebih larut,” ujarnya dikutip Kamis (18/6/2026).
Menurut Budi, durasi tidur 4-6 jam per hari belum tergolong ideal bagi kebanyakan orang dewasa. Ia menjelaskan bahwa orang berusia 18 hingga 64 tahun sebaiknya tidur selama 7-9 jam setiap malam untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan fungsi kognitif.
“Pada populasi umum, durasi tidur kurang dari enam jam per malam dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa tidur merupakan kebutuhan biologis dasar yang sama pentingnya dengan makan dan bernapas. Saat tidur, tubuh tetap menjalankan berbagai fungsi penting seperti memperbaiki jaringan tubuh, mengatur hormon, memperkuat sistem imun, mengonsolidasikan memori, hingga menjaga kesehatan jantung dan metabolisme.
“Fase tidur bukan fase pasif. Ini adalah fase aktif yang sangat penting untuk mempertahankan homeostasis atau kestabilan tubuh,” katanya.
Risiko Kesehatan Akibat Begadang
Budi mengingatkan bahwa kebiasaan begadang yang berlangsung terus-menerus dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Mulai dari penurunan konsentrasi dan daya ingat, gangguan suasana hati, penurunan sistem kekebalan tubuh, hingga peningkatan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.
Tak hanya itu, kurang tidur juga dikaitkan dengan hipertensi, penyakit jantung, stroke, gangguan metabolisme, hingga meningkatnya risiko kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas akibat kantuk.
Pada pria, kebiasaan begadang dapat menurunkan kadar testosteron, libido, kualitas sperma, serta memperlambat pemulihan fisik. Sedangkan pada wanita, kurang tidur berisiko mengganggu siklus menstruasi, meningkatkan keluhan pramenstruasi, menurunkan kesuburan, hingga memicu komplikasi kehamilan tertentu.
Menurut Budi, bahaya begadang bahkan dapat berujung pada kematian dini apabila berlangsung dalam jangka panjang. Namun, kematian tersebut bukan disebabkan oleh satu malam tanpa tidur, melainkan akibat meningkatnya risiko penyakit kronis yang muncul karena kurang tidur secara terus-menerus.
“Sejumlah studi menunjukkan durasi tidur kurang dari enam jam per malam dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko mortalitas,” jelasnya.
Cara Mengurangi Kebiasaan Begadang
Untuk memperoleh kualitas tidur yang lebih baik, Budi menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan menjaga konsistensi waktu tidur.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menetapkan jam tidur dan bangun yang sama setiap hari, mengurangi penggunaan gawai satu hingga dua jam sebelum tidur, menghindari konsumsi kafein pada malam hari, berolahraga secara teratur, serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan tenang.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gejala insomnia, sleep apnea, atau gangguan tidur lainnya.
“Meningkatkan kualitas tidur memang penting, tetapi harus dibarengi dengan perbaikan pola hidup secara menyeluruh,” pungkasnya.***














