Pakistan Coba Hidupkan Lagi Negosiasi AS-Iran di Tengah Kebuntuan

MAKLUMAT — Para pemimpin politik dan militer Pakistan dilaporkan berupaya menghidupkan kembali pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk upaya untuk memfasilitasi negosiasi AS-Iran. Hal ini terungkap setelah Presiden Donald Trump memerintahkan penundaan perjalanan utusannya ke Islamabad untuk agenda negosiasi akhir pekan ini.

Dua pejabat Pakistan yang berbicara kepada AFP, Ahad (26/4/2026). dengan syarat anonim menyebutkan, upaya tersebut dilakukan setelah putaran kedua pembicaraan kedua negara kembali gagal digelar akibat meningkatnya ketegangan dalam konteks negosiasi AS-Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan berada di Oman pada Ahad, sebelum dijadwalkan kembali ke Islamabad dan melanjutkan perjalanan ke Moskow. Oman sebelumnya menjadi salah satu lokasi pertemuan dalam rangkaian negosiasi nuklir antara kedua negara.

Ketegangan Diplomatik dan Isu Blokade

Sejumlah pejabat Iran mempertanyakan kredibilitas Amerika Serikat setelah muncul kebijakan yang disebut sebagai blokade terhadap pelabuhan Iran di tengah ketegangan di kawasan Selat Hormuz.

Iran juga menyinggung keterlibatan militer Amerika Serikat dan Israel dalam eskalasi sebelumnya selama proses negosiasi berlangsung.

Seorang pejabat regional yang terlibat dalam upaya mediasi menyebut Iran masih mensyaratkan pencabutan blokade sebelum membuka putaran baru pembicaraan.

Baca Juga  Israel Rilis Kerugiannya di Gaza Setahun Terakhir, Terbesar Sejak Perang Yom Kippur

Isu Selat Hormuz juga menjadi pembahasan utama dalam pertemuan di Oman. Iran disebut mengusulkan mekanisme pengaturan biaya kapal yang melintas di jalur strategis tersebut, yang menjadi salah satu rute penting perdagangan energi global.

Ketegangan Militer Masih Berlanjut

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu di tengah meningkatnya ketegangan yang berdampak pada perdagangan global, termasuk minyak dan gas, akibat situasi di Selat Hormuz.

Namun, kedua pihak masih saling melontarkan ancaman militer. Komando militer Iran memperingatkan bahwa setiap tindakan agresif Amerika Serikat, termasuk blokade laut, akan dibalas dengan respons keras.

Iran juga menegaskan bahwa setiap proses pembicaraan hanya dapat dilakukan secara tidak langsung dengan Pakistan sebagai perantara.

Sikap Iran terhadap Tekanan AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyoroti apa yang ia sebut sebagai kontradiksi kebijakan Amerika Serikat, yakni kombinasi tekanan dan keinginan membuka jalur diplomasi.

Dalam percakapan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, ia menyebut kondisi tersebut meningkatkan ketidakpercayaan di pihak Iran. Ia menegaskan bahwa kebijakan tekanan dan blokade tidak sejalan dengan upaya diplomasi yang diklaim oleh Amerika Serikat.

Baca Juga  Gencatan Senjata di Lebanon, Iran Umumkan Buka Kembali Selat Hormuz untuk Kapal Komersial

Pezeshkian seperti dilansir Press TV menegaskan Iran tidak akan kembali ke meja perundingan selama masih berada dalam kondisi tekanan, ancaman, atau blokade. Ia menilai bahwa selama situasi tersebut belum berubah, upaya membangun kepercayaan dalam proses dialog akan tetap sulit tercapai.

Diplomasi Masih Rapuh

Situasi ini menunjukkan bahwa proses diplomasi antara Washington dan Teheran masih berada dalam posisi rapuh, meskipun upaya mediasi oleh pihak ketiga seperti Pakistan terus dilakukan.

Sejumlah pengamat menilai, proses ini masih membutuhkan waktu dan kesabaran dari semua pihak untuk mencapai kesepakatan yang stabil dan berkelanjutan.***