MAKLUMAT – Panen cabai rawit yang digelar Pemerintah Kota Surabaya bersama Kelompok Tani (Poktan) Sendang Biru menjadi langkah konkret menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Panen yang berlangsung Kamis (12/2/2026) itu terpusat di lahan pertanian warga. Kegiatan tersebut dikoordinasikan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya sebagai bagian dari strategi stabilisasi harga pangan. Terutama cabai yang kerap melonjak saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Kepala DKPP Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, cabai rawit yang dipanen merupakan hasil tanam sejak Oktober 2025 lalu. Penanaman sengaja dijadwalkan agar masa panen jatuh menjelang bulan puasa.
“Ini sudah panen ketujuh dari Poktan Sendang Biru. Populasinya sekitar 1.300 pohon. Potensinya cukup besar untuk membantu suplai warga sekitar,” kata Antiek.
Surabaya Punya Varietas Unggul
Saat ini, harga cabai rawit di pasar Surabaya mulai merangkak naik, di kisaran Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram. Kehadiran hasil panen lokal diharapkan menekan tekanan permintaan pasar.
Jenis cabai yang ditanam merupakan varietas ori, yang dikenal memiliki kualitas baik sekaligus nilai jual tinggi. Antiek menilai, distribusi langsung dari petani ke warga menjadi kunci menjaga harga tetap terkendali.
Tak hanya mengandalkan kelompok tani, Pemkot Surabaya juga mendorong partisipasi masyarakat melalui gerakan Satu Rumah Dua Pohon yang disinergikan dengan program Kampung Pancasila.
Dorong Produktivitas Lahan Kosong
“Kalau setiap rumah menanam minimal dua pohon cabai, warga tidak perlu membeli saat harga naik. Ini sangat membantu stabilisasi harga secara makro,” ujarnya.
Selain cabai, Pemkot Surabaya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mengintervensi komoditas pangan lain seperti telur dan daging ayam melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, serta pengawasan stok bersama kementerian terkait.
Dalam kegiatan panen kali ini, DKPP juga melakukan pengendalian hama tikus terpadu bersama UPT Proteksi Tanaman Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk menjaga produktivitas lahan.
Pengendali Harga dan Punic Buying
Antiek memastikan, menjelang Ramadan seluruh komoditas pangan di Kota Pahlawan berada dalam kondisi aman. “Hasil pemantauan kami, stok pangan cukup. Masyarakat kami imbau belanja sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying,” tegasnya.
Di lokasi yang sama, Suprapto, 67, anggota Poktan Sendang Biru, mengaku rutin memanen cabai rawit setiap lima hari sekali. Sekali panen, ia bisa memperoleh enam hingga delapan kilogram.
Berbeda dengan harga pasar, Suprapto memilih menjual hasil panennya kepada warga sekitar dengan harga Rp70 ribu per kilogram. “Kalau di pasar bisa sampai Rp85 ribu. Saya jual lebih murah untuk bantu tetangga,” ujarnya.
Meski sempat terkendala virus kuning pada tanaman, Suprapto menyebut dukungan bibit dari Pemkot Surabaya sangat membantu keberlanjutan produksi.














