Puasa Ramadan Ciptakan Ketenangan Psikologis

Ilustrasi terapi psikologis. (Freepik)

MAKLUMAT — Lapar, haus, dan ritme hidup yang berubah selama Ramadan sering kali dianggap sebagai tantangan. Namun di balik itu, banyak orang justru merasakan sesuatu yang berbeda, hati lebih tenang, emosi lebih terkendali, dan pikiran terasa lebih jernih.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Lely Ika Mariyati SPsi MPsi, menilai bahwa puasa merupakan salah satu rangkaian ibadah yang tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga membawa manfaat kesehatan fisik dan psikologis.

Secara ilmiah, puasa memiliki manfaat kesehatan fisik. Berbagai penelitian tentang pembatasan makan yang terkontrol (intermittent fasting) dapat membantu menjaga berat badan, menurunkan risiko penyakit metabolik, dan meningkatkan fungsi sel melalui proses regenerasi.

Namun, puasa tidak berhenti pada kesehatan tubuh. Dalam perspektif psikologi, kata Lely, puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, dan regulasi emosi. Puasa dapat dipahami sebagai latihan yang sistematis untuk kematangan jiwa.

“Puasa juga menjadi ruang praktik untuk menumbuhkan sabar, memurnikan ikhlas, dan menuju ketenangan batin serta kesehatan mental,” ujarnya.

Puasa dimulai dari niat yang ikhlas karena Allah. “Niat inilah sebagai fondasi. Kita berpuasa bukan sekedar menggugurkan kewajiban, tetapi semua ini dilakukan lillāh, karena Allah,” jelasnya.

Baca Juga  Muhammadiyah Luncurkan Berbagai Program Lingkungan 2026, Dorong Gerakan Ekologis Berkelanjutan

Namun dalam proses berpuasa, imbuhnya, seseorang menghadapi berbagai godaan emosi. Di sinilah sabar dilatih secara nyata.

“Dalam perjalanan puasa, sabar menjadi kunci. “Puasa itu perisai…” yang artinya puasa adalah tameng atau pelindung diri.”

Lantas tameng dari apa? Bukan hanya dari dosa, tetapi juga pelindung dari reaksi yang merusak: kata-kata kasar, kemarahan, sikap impulsif, dan tindakan yang disesali kemudian.

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga sebagai instrumen latihan menahan marah, menahan dorongan sesaat, dan menahan respon emosional yang berlebihan.

Dalam psikologi, kondisi tersebut adalah proses penguatan kontrol diri. Ketika seseorang berulang kali berhasil menahan amarah dan nafsunya, maka daya kendali dirinya akan menguat. Di situlah sabar tidak lagi sekadar konsep, tetapi menjadi keterampilan jiwa.

Allah menegaskan tujuan puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa adalah kesadaran penuh akan kehadiran Allah. Kesadaran ini yang melahirkan rasa aman dalam batin. Hidup tidak lagi berpusat pada tekanan eksternal, melainkan pada hubungan spiritual yang lebih stabil.

Baca Juga  Membanggakan! Intan Meidy Mahasiswa Umsida Sabet Penghargaan Most Innovative Research di Ajang Internasional

Lely menjelaskan bahwa proses ini berlapis:

  • Ikhlas menata niat di awal.
  • Sabar dilatih setiap hari melalui pengendalian diri.
  • Sabar yang konsisten memurnikan ikhlas dan melapangkan hati.
  • Hati yang lapang melahirkan ketenangan dan stabilitas mental.

Orang yang terlatih berpuasa dengan kesadaran spiritual biasanya lebih mampu mengelola stres, tidak reaktif secara emosional, dan lebih tahan terhadap tekanan. Inilah bentuk kesehatan mental yang tumbuh dari disiplin rohani.

“Kesadaran kita dalam memasuki Ramadan, terutama di sepuluh hari kedua yang sering disebut sebagai fase maghfirah, fase pengampunan, hendaknya semakin mendalam,” tandas perempuan yang menjabat Kaprodi Psikologi Umsida itu.

Awal puasa, menurutnya, adalah masa adaptasi, maka di fase ini lah yang bisa dimanfaatkan untuk belajar lebih serius menata hati.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

“Semoga apa yang kita renungkan menjadi penguat hati dalam menjalani Ramadan, khususnya di sepuluh hari yang penuh ampunan ini. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mematangkan jiwa kita melalui Ramadan ini,” ucap Lely.