MAKLUMAT — Kemampuan pelaku wisata dalam mengemas cerita dinilai semakin penting untuk memperkuat daya tarik destinasi. Karena itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Pelatihan Storytelling Destinasi dan Produk Wisata bagi pelaku pariwisata di Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) Belitung dan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo.
“Pariwisata tidak hanya menawarkan keindahan destinasi, tetapi juga pengalaman yang lahir dari cerita, identitas, dan karakter khas suatu daerah. Karena itu, storytelling menjadi instrumen strategis untuk memperkuat daya tarik sekaligus membangun keterikatan emosional wisatawan dengan destinasi,” kata Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini Mohamad Paham, Kamis (11/6/2026).
Melansir laman resmi Kemenpar, pelatihan berlangsung selama dua hari di masing-masing daerah, yakni pada 21-22 Mei 2026 di Belitung dan 3-4 Juni 2026 di Labuan Bajo. Kegiatan tersebut melibatkan pemandu wisata, pengelola destinasi dan desa wisata, serta pelaku UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata setempat.
Melalui pelatihan itu, peserta mempelajari cara menggali, mengembangkan, dan menyampaikan narasi destinasi maupun produk wisata secara lebih menarik dan autentik. Kemenpar juga mendorong peserta membangun cerita yang mencerminkan keunikan daerah sekaligus relevan dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
“Peserta dibekali keterampilan untuk menggali, menyusun, dan menyampaikan narasi destinasi maupun produk wisata secara autentik, komunikatif, dan relevan dengan perkembangan tren wisata, termasuk pemanfaatannya melalui berbagai platform digital,” kata Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kemenpar, Ika Kusuma Permana Sari.
Di Labuan Bajo, kebutuhan akan kemampuan storytelling semakin besar seiring berkembangnya ragam produk wisata yang ditawarkan. Destinasi ini tidak lagi hanya mengandalkan wisata bahari dan kawasan Komodo, tetapi juga mengembangkan wisata desa, budaya lokal, ekonomi kreatif, hingga produk unggulan masyarakat sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Sementara itu, di Belitung, peserta didorong memperkaya narasi destinasi dengan mengangkat kekayaan budaya, sejarah pertambangan timah, kehidupan masyarakat lokal, serta warisan geologi yang menjadi bagian dari kawasan Geopark Belitung. Melalui pendekatan tersebut, wisatawan diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih mendalam saat berkunjung.
“Melalui penguatan kapasitas ini, kami mendorong pelaku pariwisata agar mampu menghidupkan potensi wisata, budaya, dan produk lokal melalui narasi yang menarik. Upaya ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisatawan, meningkatkan kualitas kunjungan, sekaligus mendorong lama tinggal wisatawan di destinasi,” katanya.












