MAKLUMAT — Desa Kalikatir merupakan salah satu wilayah yang cukup dikenal dengan potensi pertanian pisang cavendish yang besar di Kabupaten Mojokerto. Bahkan, berdasarkan informasi yang diperoleh selama kegiatan observasi yang dilakukan para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN-P) Kelompok 41 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Desa Kalikatir merupakan salah satu wilayah dengan komoditas pisang cavendish terbesar di Mojokerto.
Potensi tersebut menarik untuk dipelajari, khususnya dalam melihat bagaimana hasil pertanian dikelola hingga siap dipasarkan. Selama pelaksanaan KKN, para mahasiswa melakukan observasi sekaligus pendampingan terkait pengelolaan pisang cavendish di sana bersama masyarakat, khususnya mereka yang memiliki atau mengelola hasil pertanian pisang cavendish.
Tak hanya mengamati proses pengelolaan, para mahasiswa juga melakukan pendampingan dan mencari peluang pemanfaatan pisang cavendish serta bagian yang belum digunakan agar dapat memiliki nilai ekonomi. Selama ini, hasil panen petani hanya dijual kepada tengkulak dengan harga murah, padahal jika sudah keluar Desa Kalikatir harga pisang cavendish sebenarnya cukup menjanjikan. Selain itu, para petani selama ini juga belum memiliki opsi pembeli lain maupun produk olahan untuk meningkatkan nilai jual.
Para mahasiswa melakukan observasi, memberikan edukasi, mendampingi masyarakat, serta memberikan ide untuk mengembangkan potensi pisang cavendish. Salah satu bentuk kegiatan dilakukan melalui pelatihan pembuatan selai dari kulit pisang, yang bertujuan untuk memanfaatkan kulit pisang, bahan yang biasanya dianggap sebagai limbah dan tidak digunakan menjadi produk olahan yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
Tim KKN-P 41 Umsida sendiri terdiri atas Bryan Fido Widardo, Giezka Adinia Gunawan, Indriani Lintang Kirana Widyadhana, Kautsar Nafis Kuncoro, Khoirun Nisak, Mochammad Ferdinand Maulana, Mohamad Faruq Bayu Putra, Nabila Nurfaizah, Nafilah Firdausy Nuzula, Naufal Taufiq Eriyono, Siti Nabilah, serta Tri Winda Jaya Fatmawati.
Proses Panen dan Pengelompokan
Kegiatan mahasiswa diawali dengan observasi secara langsung terhadap proses pengelolaan pisang cavendish. Mereka mengamati proses panen, pemindahan hasil panen dari lahan, pembersihan, penimbangan, pengelompokan berdasarkan grade, pengemasan, hingga pemasaran. Pisang yang telah siap panen dipotong dan dipindahkan dari lahan menuju tempat pembersihan dengan memperhatikan kondisi buah agar tidak mengalami kerusakan. Setelah dibersihkan, pisang ditimbang dan dikelompokkan sesuai dengan kualitas serta permintaan pasar.
Terdapat tiga kategori grade pisang cavendish, yakni Grade A yang terdiri atas pisang dengan jumlah 9 sisir atau lebih dalam satu kardus, Grade B terdiri atas 6-9 sisir, serta Grade C yang merupakan pisang yang tidak diterima oleh pasar berdasarkan permintaan yang berlaku. Pisang yang memenuhi kriteria kemudian dikemas dalam kardus untuk dipasarkan. Harga jual yang diperoleh berdasarkan hasil observasi adalah sekitar Rp80.000 per kardus.
Pelatihan Olahan Selai Kulit Pisang

Dalam kegiatan tersebut, peran mahasiswa tidak hanya sebatas melakukan observasi, tetapi juga berupaya melihat peluang pengembangan ekonomi dari komoditas pisang cavendish. Mahasiswa mempelajari bagaimana hasil pertanian dapat memiliki nilai ekonomi sejak tahap panen hingga produk diterima oleh konsumen. Selain itu, mahasiswa juga memberikan edukasi dan pendampingan mengenai alternatif pemanfaatan pisang, khususnya bagian yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Salah satu ide yang dipraktikkan adalah melalui pelatihan pemanfaatan kulit pisang cavendish menjadi produk selai. Selain sebagai salah satu upaya mengurangi limbah dari hasil pengolahan pisang, pelatihan tersebut juga bertujuan untuk memperkenalkan alternatif produk olahan yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan kulit pisang agar tidak langsung menjadi limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Diversifikasi Produk Cavendish
Selain pelatihan pembuatan selai dari kulit pisang, mahasiswa juga dapat berperan dalam mengidentifikasi peluang diversifikasi produk, seperti pengembangan produk olahan berbahan dasar pisang yang dapat dikemas dan dipasarkan sebagai produk lokal.
Para mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang memberikan pengetahuan, ide, serta pendampingan. Sedangkan keberlanjutan produksi dan pengembangannya dapat dilakukan oleh masyarakat Desa Kalikatir sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki.
Dengan demikian, kegiatan para mahasiswa KKN-P 41 Umsida terhadap komoditas pisang cavendish di Desa Kalikatir tersebut mencakup beberapa fungsi, yakni observasi potensi ekonomi, edukasi masyarakat, pendampingan pengolahan hasil pertanian, pengenalan pemanfaatan limbah, serta pemberian ide diversifikasi produk.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melihat bahwa nilai ekonomi pisang tidak hanya berasal dari buah yang dijual dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pemanfaatan bagian lain dan pengolahan menjadi produk bernilai tambah.
Melalui keterlibatan mahasiswa dan perguruan tinggi, potensi tersebut dapat dikaji lebih lanjut tidak hanya dari sisi pertanian dan pemasaran, tetapi juga dari sisi pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal. Pendampingan dan inovasi pengolahan tersebut diharapkan dapat memberikan peluang pengembangan produk lokal pisang cavendish yang lebih beragam dan bernilai ekonomi bagi masyarakat Desa Kalikatir.***
*) Penulis: Tim KKN-P Kelompok 41 Umsida














