MAKLUMAT — Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas (ratas) bidang ekonomi bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Rabu (11/2/2026). Dalam rapat tersebut, pemerintah memaparkan sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan ketahanan fundamental nasional di tengah tekanan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.
“Pertumbuhan 5,11 persen secara year-on-year ini juga sangat baik,” ujar Airlangga dalam keterangannya.
Untuk diketahui, G20 merupakan forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan 19 negara dengan perekonomian terbesar di dunia—Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat—serta Uni Eropa dan Uni Afrika.
Indonesia tercatat sebagai anggota tetap sejak G20 dibentuk pada 1999 dan menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara di dalamnya, mewakili kelompok emerging economy dengan PDB di atas US$1 triliun, demokrasi terbesar ketiga di dunia, serta negara berpenduduk muslim terbesar.
Manufaktur Ekspansi, Konsumsi Menguat
Airlangga menegaskan, dari sektor riil, aktivitas manufaktur tetap berada di zona ekspansi dengan indeks 52,6. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari juga meningkat dibandingkan Desember, mencapai level 127.
Selain itu, Mandiri Spending Index tercatat di angka 372,5, mencerminkan konsumsi masyarakat yang tetap solid. Penjualan riil tumbuh 7,9 persen secara tahunan, naik signifikan dari Desember yang hanya 3,5 persen.
Kinerja perdagangan luar negeri juga menunjukkan tren positif. Hingga Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut, dengan nilai surplus terbaru sebesar 2,51 miliar dolar AS.
Investasi dan Cadangan Devisa Tetap Kuat
Realisasi investasi PMA dan PMDN mencapai Rp1.931,2 triliun. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia berada di level 154,6 miliar dolar AS. Pertumbuhan kredit juga terjaga di angka 9,69 persen.
Dari sisi peringkat kredit, Indonesia masih berada pada level investment grade dari berbagai lembaga pemeringkat internasional, termasuk Moody’s. Meski demikian, pemerintah mencermati outlook negatif yang diberikan Moody’s sebagai catatan penting.
Airlangga menegaskan, pemerintah akan mengantisipasi berbagai risiko, termasuk optimalisasi penerimaan negara serta penguatan kebijakan strategis, termasuk rencana Danantara.
Komitmen Stabilitas dan Akselerasi
Rapat terbatas tersebut menegaskan komitmen Presiden Prabowo dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan yang lebih terstruktur. Di tengah ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap resilien dan adaptif terhadap dinamika eksternal.***












