Produksi Emas Pani MDKA Melonjak 69 Persen, Ini Pendorongnya

produksi emas

MAKLUMAT – Produksi emas Tambang Pani milik PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG) melonjak 69 persen pada kuartal III 2026. Peningkatan kapasitas operasi pelindian tumpukan atau heap-leach menjadi salah satu pendorong pertumbuhan, sekaligus memperkuat posisi emas sebagai mesin pertumbuhan baru perusahaan.

Di tengah dominasi bisnis nikel, sektor emas mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan portofolio entitas bisnis dengan kode saham MDKA itu.

Perusahaan mencatat produksi gabungan Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit mencapai 50.142 ons sepanjang kuartal ketiga.

Presiden Direktur MDKA Albert Saputro mengatakan bahwa kinerja kuartal ketiga mencerminkan penguatan portofolio perusahaan, baik dari operasi nikel, produksi emas, maupun bisnis hilirisasi.

“Kuartal ketiga ini mencerminkan semakin solidnya portofolio Perseroan. Operasi nikel kami terus berkembang, Tambang Emas Pani kembali mencetak pertumbuhan produksi kuartalan yang kuat, dan bisnis hilirisasi kami mulai memberikan kontribusi dari rentang produk yang lebih luas,” ujar Albert Saputro, dikutip, Senin 2 November 2026.

Dia menambahkan, MDKA terus memajukan sejumlah proyek yang menjadi fondasi pertumbuhan perusahaan berikutnya. Pengembangan tersebut dilakukan dengan menjaga keandalan operasi dan disiplin alokasi modal.

Baca Juga  Kinerja MBMA Kuartal III 2025 Menguat, EBITDA Tumbuh 22 Persen

MDKA Percepat Pengembangan Tambang Emas Pani

Peningkatan produksi Pani tidak berhenti pada pengoperasian fasilitas heap-leach. MDKA juga mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan carbon-in-leach (CIL) tahap 1 untuk memperbesar kapasitas produksi emas.

Pengembangan fasilitas tersebut terus berjalan. Desain rekayasa dasar telah selesai, sementara desain rinci berada pada tahap lanjutan. Perusahaan juga telah mengamankan peralatan utama yang membutuhkan waktu pengadaan panjang dan mulai memobilisasi kontraktor konstruksi.

Penyelesaian sisa area landasan atau pad CIL ditargetkan akhir Desember 2026. Fasilitas CIL Tahap 1 ini dirancang memiliki kapasitas pemrosesan terpasang sebesar 12 juta ton per tahun.

Kapasitas tersebut dapat ditingkatkan hingga sekitar 14,4 juta ton per tahun melalui tambahan kapasitas cadangan atau surge capacity.

MDKA juga merencanakan pembangunan fasilitas CIL kedua dengan skala serupa. Jika kedua fasilitas berhasil dibangun dan beroperasi sesuai rencana, kapasitas produksi emas Pani ditargetkan meningkat menjadi 500.000 hingga 700.000 ons per tahun.

Target tersebut lebih besar dibandingkan estimasi produksi sekitar 250.000 hingga 350.000 ons emas per tahun pada Tahap 1.

Ekspansi ini menjadi strategi MDKA untuk menjadikan Tambang Emas Pani sebagai salah satu pilar pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Baca Juga  Tambang Emas Pani dan Lompatan Besar Cadangan Bijih Emas MGR

Bisnis Nikel Masih Jadi Penopang Utama MDKA

Meski produksi emas Pani tumbuh signifikan, bisnis nikel masih menjadi penopang utama penjualan MDKA.

Perusahaan mencatat penjualan produk sebesar US$817,3 juta sepanjang kuartal III 2026. Kontributor utamanya berasal dari Nickel Pig Iron (NPI), bijih limonit, dan High Grade Nickel Matte (HGNM).

Portofolio nikel MDKA di Sulawesi bahkan mencatat rekor produksi bijih nikel kuartalan tertinggi.

Produksi saprolit mencapai 3,3 juta wet metric tonnes (wmt), meningkat 68 persen secara tahunan. Sementara itu, produksi limonit naik 62 persen menjadi 9 juta wmt.

Produksi NPI tercatat mencapai 20.553 ton berdasarkan kandungan nikel, sedangkan HGNM mencapai 9.436 ton sepanjang kuartal ketiga.

Kinerja tersebut memperlihatkan bisnis nikel tetap menjadi sumber pendapatan utama MDKA di tengah penguatan sektor emas.

Hilirisasi Tambah Kontribusi Penjualan MDKA

Selain nikel dan emas, bisnis hilirisasi juga semakin memperluas sumber pendapatan MDKA.

Operasi Acid Iron Metal (AIM) berhasil menjual sekitar 290.000 ton asam sulfat dengan nilai penjualan mencapai US$98,4 juta pada kuartal III 2026.

Capaian tersebut didukung harga jual aktual yang menguntungkan serta operasional stabil pada kedua lini pabrik asam sulfat. Produk tersebut juga memperkuat integrasi hilirisasi MDKA melalui pasokan untuk operasi HPAL di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Baca Juga  Entitas Tambang di Gorontalo Jalankan Program Makan Siang Bergizi

Sementara itu, Tambang Tembaga Wetar memproduksi 1.265 ton tembaga. Perusahaan terus mengoptimalkan ekstraksi material heap-leach melalui proses re-fluffing dan bioleaching. Proses bioleaching berhasil memulihkan 35 ton tembaga sepanjang kuartal tersebut.

Di sisi pengembangan jangka panjang, Proyek Tembaga Tujuh Bukit telah melewati tahap Studi Kelayakan. MDKA kini melakukan optimalisasi rencana tambang yang mengintegrasikan pengembangan tambang bawah tanah dan potensi tambang terbuka.

Dengan pertumbuhan produksi emas Pani, rekor produksi bijih nikel, serta kontribusi hilirisasi yang semakin beragam, MDKA berupaya memperkuat fondasi pertumbuhan bisnisnya.

Namun, perusahaan tetap mencermati sejumlah risiko, mulai dari fluktuasi harga komoditas, biaya energi, pergerakan nilai tukar, kondisi cuaca, hingga dinamika regulasi. Keandalan operasi, disiplin biaya, dan alokasi modal tetap menjadi fokus perusahaan dalam menjaga keberlanjutan kinerja.