MAKLUMAT – Tekanan besar kembali menghantam saham sektor perbankan nasional. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup di level yang menjadi titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Pelemahan kedua emiten perbankan itu terjadi bersamaan dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG ditutup turun 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,78.
Mayoritas saham bergerak di zona merah. Sebanyak 623 saham terkoreksi, 106 saham menguat, dan 85 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp25,33 triliun dengan volume perdagangan 39,31 miliar saham.
BBCA ditutup melemah 1,81 persen ke level Rp5.425 per saham. Sejak awal tahun, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia itu telah terkoreksi 32,82 persen.
Sementara itu, BBRI turun lebih tajam sebesar 3,10 persen ke level Rp2.810 per saham. Sepanjang 2026, saham bank pelat merah tersebut sudah kehilangan 23,22 persen nilainya.
Jika dibandingkan dengan harga pada 4 Juni 2021, saham BBCA tercatat lebih rendah 17,80 persen. Adapun BBRI merosot hingga 33,94 persen dibandingkan periode yang sama.
Fenomena ini menunjukkan tekanan terhadap sektor perbankan belum mereda meski fundamental emiten-emiten besar tersebut masih tergolong kuat.
Arus keluar dana asing menjadi salah satu penyebab utama. Sepanjang tahun berjalan, investor asing membukukan net sell sebesar Rp31,34 triliun di saham BBCA dan Rp9,57 triliun di saham BBRI.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menunjukkan kepemilikan asing di BBCA turun 10,07 persen dibandingkan akhir 2025. Sementara kepemilikan asing di BBRI menyusut sekitar 6 persen.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai kenaikan BI Rate dan pelemahan rupiah menjadi faktor dominan yang membebani saham-saham perbankan.
Menurutnya, suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menahan laju pertumbuhan kredit, sementara pelemahan nilai tukar rupiah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Akibatnya, investor global memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski sentimen pasar saat ini masih negatif, koreksi tajam BBCA dan BBRI mulai menarik perhatian investor jangka panjang. Secara valuasi, harga kedua saham tersebut kini jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Namun peluang rebound belum sepenuhnya terbuka. Stabilitas rupiah, arah kebijakan Bank Indonesia, serta kembalinya aliran modal asing masih menjadi faktor penentu.
Bagi investor jangka panjang, kondisi saat ini bisa menjadi momentum akumulasi bertahap. Sebaliknya, investor jangka pendek perlu lebih berhati-hati karena volatilitas pasar masih tinggi dan tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.












