MAKLUMAT — Menjelang Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli, Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati mengingatkan pentingnya pemenuhan hak setiap anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan tanpa terkendala faktor ekonomi, geografis, maupun kondisi fisik.
Menurutnya, masih terdapat berbagai tantangan dalam pemenuhan hak pendidikan, mulai dari kesenjangan akses di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), keterbatasan pembiayaan, hingga layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
“Hak dasar yang memang harus diberikan kepada anak adalah persoalan pendidikan. Kita berharap tidak ada seorang anakpun yang tidak bisa menikmati pendidikan, apapun kendalanya,” ujar My Esti, dilansir dari laman resmi DPR RI pada Selasa (21/07/2026).
Akses Pendidikan Bermutu dan Inklusif
MY Esti menyoroti masih adanya anak-anak yang harus menempuh perjalanan jauh dengan medan yang sulit demi mengakses pendidikan.
“Ada yang harus berjalan sejak dini hari, menyeberang menggunakan kapal kecil, bahkan melewati jembatan tali. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian serius negara. Sekecil apapun jumlah anak di wilayah tersebut, mereka tetap berhak mendapatkan layanan pendidikan yang layak,” tegasnya.
Selain persoalan akses, MY Esti juga menyoroti layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, keberadaan sekolah inklusi merupakan langkah positif, tetapi masih menghadapi kendala berupa terbatasnya jumlah guru pendamping.
“Ketika tidak ada guru pendamping, sekolah tentu mengalami kesulitan dalam memberikan layanan pendidikan yang optimal bagi anak berkebutuhan khusus. Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan,” katanya.
KIP Kuliah dan Akses Pendidikan Tinggi
Pada jenjang pendidikan tinggi, MY Esti menilai akses lulusan sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi juga masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah keterbatasan kuota Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang dinilai belum sebanding dengan jumlah mahasiswa baru yang membutuhkan bantuan.
Ia menyebut dari sekitar 1,7 juta mahasiswa baru setiap tahun, penerima KIP Kuliah baru berkisar 200 ribu orang. Menurutnya, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan, terlebih kelompok sasaran bantuan sosial pemerintah mencakup sekitar 40 persen masyarakat. Di sisi lain, besaran bantuan KIP Kuliah, khususnya bagi mahasiswa di perguruan tinggi unggulan, dinilai belum mampu menutupi seluruh biaya pendidikan.
Karena itu, MY Esti menegaskan Komisi X DPR RI akan terus mengawal kebijakan dan alokasi anggaran pendidikan agar program pemerintah dapat menjangkau seluruh anak Indonesia, termasuk mereka yang berada di wilayah 3T, berasal dari keluarga kurang mampu, maupun anak berkebutuhan khusus.
Ia berharap pemerintah terus memperkuat anggaran pendidikan yang secara langsung menyentuh kebutuhan peserta didik, mulai dari pembangunan infrastruktur sekolah, pemerataan sarana dan prasarana, hingga penyediaan tenaga pendidik.
“Dengan begitu, kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah dapat dikurangi dan seluruh anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tandas politisi PDI Perjuangan (PDIP) itu.
Siapkan Generasi Masa Depan
Menjelang Hari Anak Nasional, MY Esti juga mengajak anak-anak Indonesia untuk terus belajar dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang berkontribusi bagi bangsa.
“Anak-anak Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, kejarlah cita-cita setinggi mungkin, belajarlah dengan sungguh-sungguh, dan jadilah pribadi yang kelak mampu memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat,” ujarnya.
Ia turut mengingatkan anak-anak agar menjauhi berbagai perilaku yang dapat merugikan masa depan, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, dan tindakan negatif lainnya.
“Jagalah diri kalian sebaik-baiknya. Hindari hal-hal yang dapat menghambat masa depan, karena masa depan Indonesia ada di tangan kalian,” pungkas wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.













