TEP 2026 Jadi Ajang Akademisi Implementasi Manfaat Ilmu bagi Masyarakat

MAKLUMAT — Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menjadi ruang bagi para akademisi untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan di kampus ke tengah masyarakat. Melalui penugasan di 53 kawasan transmigrasi selama empat bulan, para peserta diharapkan menghadirkan solusi berbasis riset bagi berbagai persoalan sekaligus mendorong pengembangan potensi unggulan daerah.

Sebanyak 1.230 peserta TEP 2026 yang terdiri atas guru besar, doktor, dan magister dari berbagai perguruan tinggi mengikuti pembekalan sebelum diterjunkan ke lokasi penugasan. Mereka berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), IPB University, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Mereka akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi yang meliputi 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan prioritas di Papua. Selama penugasan, para peserta akan menindaklanjuti rekomendasi hasil TEP 2025 melalui berbagai program inovasi, pengembangan potensi unggulan, dan pemberdayaan masyarakat.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan ilmu pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga  Cetak Sawah 10.000 Hektare di Kawasan Transmigrasi Malut Buka Lapangan Kerja

“Sebagai cendekiawan dan ilmuwan, apa yang digeluti di kampus harus mampu menjawab persoalan di kawasan transmigrasi,” ujarnya saat membuka pembekalan TEP 2026 di Bogor, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Iftitah, keberhasilan para peserta menghadirkan solusi bagi masyarakat akan menjadi dasar keberlanjutan program TEP pada periode-periode berikutnya.

Sebelum diberangkatkan ke kawasan transmigrasi, seluruh peserta mengikuti pembekalan untuk memperkuat pemahaman mengenai kondisi lapangan dan pelaksanaan misi riset.

“Sebelum dilepas ke berbagai kawasan transmigrasi, anggota TEP diberi pembekalan berbagai materi keilmuan,” ujar Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.

Viva Yoga mengatakan para peserta dipilih melalui proses seleksi yang ketat. Dari 10.359 pendaftar, hanya 1.230 orang yang dinyatakan lolos.

“Yang mendaftarkan diri tercatat mencapai 10.359 orang dari berbagai kampus di tanah air bahkan ada yang dari luar negeri. Mereka sosok-sosok yang cerdas dan manusia unggul,” ungkapnya.

Ia optimistis para akademisi mampu memberikan kontribusi nyata karena telah memiliki pengalaman riset sesuai bidang keahliannya.

“Bila sebelumnya mereka melakukan riset di laboratorium atau dalam lingkup yang lain, sekarang saatnya melakukan riset di kawasan yang lebih besar,” ujarnya.

Viva Yoga menambahkan, TEP juga diharapkan menjadi wahana pembentukan calon-calon pemimpin yang memiliki pengalaman menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung.

Baca Juga  Kementrans Kirim Warga Transmigrans Magang ke Jepang, Kementerian P2MI Beri Dukungan

“Hal demikian juga merupakan keinginan dari Bapak Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara,” tuturnya.