MAKLUMAT — Setiap kali pemeringkatan perguruan tinggi diterbitkan, perhatian publik segera tertuju pada posisi masing-masing kampus. Alumni mengikuti pergerakan peringkat almamaternya, calon mahasiswa mencari rujukan, sementara perguruan tinggi menjadikan pemeringkatan sebagai salah satu gambaran mengenai reputasi akademik.
Pemeringkatan memang memberikan informasi penting. Ia membantu membaca kinerja perguruan tinggi melalui sejumlah indikator yang telah ditentukan. Dari sana kita dapat melihat kapasitas publikasi, kualitas jurnal, pengaruh ilmiah, kolaborasi akademik, dan berbagai ukuran lain yang digunakan dalam sistem pemeringkatan.
Gambaran mengenai kekuatan perguruan tinggi menjadi semakin luas ketika data tersebut dibaca bersama dengan karakter keilmuan masing-masing kampus.
Perguruan tinggi merupakan ekosistem pengetahuan. Di dalamnya berlangsung kegiatan pendidikan, penelitian, pengembangan teknologi, pembentukan sumber daya manusia, kerja sama dengan industri, penyusunan kebijakan, serta berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, pembicaraan mengenai universitas unggul perlu melihat kemampuan sebuah perguruan tinggi dalam menghasilkan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan Indonesia.

Data SINTA V3 periode 2023–2025 memberikan bahan yang menarik untuk melihat persoalan tersebut. Dalam tulisan ini, tujuh PTN-BH digunakan sebagai pembanding, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (Uniar), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Diponegoro (Undip).
Data tersebut memperlihatkan karakter akademik yang beragam. UNAIR mencatat sitasi per dosen tertinggi. ITB memiliki angka publikasi Q1 per dosen tertinggi. UI memiliki volume publikasi dan sitasi yang besar dengan intensitas yang tinggi. UGM menunjukkan skala produksi ilmiah yang sangat besar. ITS mempunyai intensitas riset yang kompetitif. IPB memiliki kekuatan pada bidang pertanian, pangan, biosains, lingkungan, dan sumber daya alam. Undip berkembang dengan basis keilmuan yang mencakup engineering, maritim, lingkungan, kesehatan, dan pembangunan wilayah.
Keragaman ini memberikan cara pandang yang lebih lengkap dalam membaca kekuatan perguruan tinggi Indonesia.
Membaca Skala dan Intensitas Penelitian Universitas
UGM menghasilkan 3.001 publikasi Q1 dan 64.381 sitasi selama 2023–2025. UI menghasilkan 3.182 artikel Q1 dan 63.820 sitasi. Unair menghasilkan 2.614 artikel Q1 dan 63.601 sitasi.
Angka tersebut menggambarkan besarnya produksi pengetahuan dari masing-masing universitas. Jumlah dosen kemudian memberikan dimensi lain dalam membaca data tersebut.
ITB menghasilkan sekitar 1,83 artikel Q1 per dosen. Unair mencapai 1,63, UI 1,60, ITS 1,21, UGM 1,10, IPB 1,00, dan Undip 0,62.
Pada indikator sitasi per dosen, Unair berada pada angka 39,55. UI mencapai 32,09, ITB 28,07, UGM 23,58, ITS 21,20, IPB 19,45, dan Undip 12,04.
Dua kelompok angka tersebut memberikan informasi mengenai skala dan intensitas produksi ilmiah. Skala menunjukkan volume pengetahuan yang dihasilkan sebuah universitas. Intensitas menunjukkan capaian ilmiah jika dikaitkan dengan ukuran sumber daya manusia yang menghasilkan penelitian tersebut.
UGM memiliki skala produksi ilmiah yang sangat besar. ITB memiliki intensitas publikasi Q1 dan sitasi yang tinggi jika dihitung berdasarkan jumlah dosen. Kedua ukuran tersebut memperlihatkan aspek yang berbeda dari kapasitas akademik sebuah perguruan tinggi.
Perhitungan berdasarkan jumlah dosen juga menjelaskan mengapa universitas dengan jumlah publikasi atau sitasi yang lebih kecil dapat menghasilkan angka per dosen yang tinggi.
Misalnya, universitas A menghasilkan 40.000 sitasi dengan 1.400 dosen. Universitas B menghasilkan 65.000 sitasi dengan 2.700 dosen. Universitas A menghasilkan sekitar 28,6 sitasi per dosen, sedangkan Universitas B menghasilkan 24,1 sitasi per dosen.
Indikator citation per faculty berguna untuk melihat konsentrasi dampak ilmiah berdasarkan ukuran sumber daya manusia. Ukuran ini menjadi salah satu instrumen untuk membaca efisiensi dan intensitas kegiatan riset.
Pembacaan tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks disiplin ilmu, ukuran universitas, serta misi akademiknya.

Mengapa Unair dan UI Memiliki Sitasi Tinggi?
Komposisi disiplin ilmu menjadi salah satu faktor penting dalam memahami angka sitasi.
UNAIR memiliki ekosistem ilmu kesehatan yang besar, mencakup kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, kesehatan masyarakat, keperawatan, dan bidang biomedis terkait. Dalam data SINTA yang digunakan dalam tulisan ini, UNAIR memiliki 2.240 authors dan 194 departments, dengan 2.614 artikel Scopus Q1 serta 63.601 sitasi selama periode 2023–2025.
UI memiliki spektrum keilmuan yang luas. Data tersebut mencatat sekitar 3.152 authors dan 270 departments, dengan 3.182 artikel Q1 serta 63.820 sitasi.
Bidang kesehatan dan biomedis mempunyai komunitas penelitian global yang besar. Penelitian mengenai penyakit, epidemiologi, terapi, farmasi, kesehatan masyarakat, dan berbagai bidang terkait dapat digunakan oleh peneliti dari banyak negara serta berbagai cabang ilmu.
Kondisi tersebut membentuk lingkungan sitasi yang luas.
Bidang teknik memiliki pola yang berbeda. Penelitian mengenai desain kapal, optimasi mesin, sistem manufaktur, struktur bangunan, pemesinan, sistem tenaga, dan teknologi maritim memiliki komunitas pengguna pengetahuan yang lebih spesifik.
Nilai penelitian tersebut dapat terlihat melalui berbagai jalur. Industri dapat menggunakan teknologi yang dihasilkan, pemerintah dapat menerapkannya dalam kebijakan, dan masyarakat dapat memperoleh manfaat melalui produk atau sistem yang dikembangkan.
Karena itu, citation intensity merupakan ukuran penting untuk membaca pengaruh ilmiah. Nilai ekonomi, nilai teknologi, dan manfaat sosial sebuah penelitian perlu dilihat melalui indikator tambahan.
Karakter Akademik Berbeda ITB dan UGM
UGM mempunyai cakupan disiplin ilmu yang sangat luas. Data SINTA menunjukkan sekitar 3.674 authors dan 294 departments. Selama periode 2023–2025, UGM menghasilkan 3.001 artikel Q1 dan 64.381 sitasi.
ITB memiliki sekitar 1.743 authors dan 143 departments. Produksinya mencapai 2.548 artikel Q1 dan 39.101 sitasi.
Jumlah dosen tetap UGM sekitar 2.730, sedangkan ITB sekitar 1.393 dosen. Setelah dihitung berdasarkan jumlah dosen, ITB menghasilkan sekitar 1,83 artikel Q1 per dosen dan 28,07 sitasi per dosen. UGM berada pada angka sekitar 1,10 artikel Q1 dan 23,58 sitasi per dosen.
Data tersebut memperlihatkan pengaruh struktur akademik terhadap hasil pengukuran.
UGM mempunyai keluasan disiplin yang besar. Keluasan tersebut membangun kapasitas multidisiplin yang kuat dan memungkinkan universitas mengembangkan penelitian dalam berbagai bidang.
ITB memiliki konsentrasi keilmuan yang kuat pada sains, rekayasa, dan teknologi. Konsentrasi tersebut membentuk ekosistem penelitian dengan karakter yang lebih spesifik.
Setiap struktur akademik menghasilkan pola produktivitas dan sitasi yang berbeda. Karena itu, angka per dosen perlu dibaca bersama dengan komposisi bidang keilmuan dan ukuran institusi.
ITS Kekuatan Universitas Berbasis Teknologi
ITS menghasilkan 1.382 artikel Q1 dan 24.249 sitasi dengan sekitar 1.144 dosen tetap selama periode 2023–2025. Angka tersebut menghasilkan sekitar 1,21 artikel Q1 dan 21,20 sitasi per dosen.
Kekuatan ITS berkaitan erat dengan karakter akademiknya sebagai universitas berbasis teknologi.
Maritim, transportasi, manufaktur, energi, robotika, sistem industri, informatika, otomasi, desain teknologi, dan engineering menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
Bidang-bidang tersebut memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional. Penelitian mengenai teknologi kapal, sistem energi, otomasi industri, manufaktur, transportasi, atau teknologi maritim dapat menghasilkan nilai ekonomi dan teknologi yang besar.
Ukuran nilai penelitian kemudian dapat dilihat melalui berbagai bentuk penerapan. Paten, lisensi teknologi, produk industri, perusahaan rintisan, kebijakan, dan teknologi yang digunakan masyarakat menjadi bagian dari rantai dampak tersebut. Perspektif ini membuat pembacaan terhadap universitas teknologi menjadi semakin lengkap.
Sangat tampak bahwa iIndikator pemeringkatan memiliki pengaruh terhadap strategi perguruan tinggi. Universitas dapat meningkatkan publikasi internasional, memperbanyak artikel pada jurnal Q1, memperluas kolaborasi penelitian, serta membangun jejaring akademik global.Langkah tersebut dapat memperkuat kapasitas ilmiah sekaligus meningkatkan visibilitas perguruan tinggi.
Empat Ukuran Unggul dan Ekosistem Pengetahuan Nasional
Pada saat yang sama, agenda riset perlu terus berhubungan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. Indonesia menghadapi persoalan keselamatan transportasi, efisiensi energi, pengolahan limbah, ketahanan pangan, teknologi air bersih, produktivitas manufaktur, kesehatan, perubahan iklim, dan transformasi digital.
Penelitian pada bidang-bidang tersebut memiliki jalur manfaat yang panjang. Sebuah teknologi dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai tahap penerapan. Sebuah penelitian kebijakan dapat memerlukan proses panjang sebelum menghasilkan perubahan regulasi. Satu inovasi industri juga membutuhkan tahapan pengujian, investasi, dan pengembangan. Karena itu, ukuran dampak perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam menilai kinerja perguruan tinggi.
Setidaknya ada empat dimensi yang dapat digunakan untuk membaca kekuatan perguruan tinggi. Pertama, scale. Seberapa besar volume pengetahuan yang dihasilkan? Kedua, quality. Seberapa banyak penelitian yang masuk ke jurnal berkualitas tinggi seperti Q1? Ketiga, scientific impact. Seberapa besar penelitian digunakan dan dirujuk oleh komunitas ilmiah? Keempat, societal impact. Seberapa jauh penelitian menghasilkan perubahan dalam industri, kebijakan, teknologi, dan kehidupan masyarakat?
Tiga dimensi pertama dapat dibaca melalui berbagai indikator bibliometrik. Dimensi keempat membutuhkan indikator yang berkaitan dengan penerapan pengetahuan. Universitas dapat menghasilkan ribuan publikasi. Pengetahuan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi paten, produk, lisensi, perusahaan rintisan, teknologi yang digunakan industri, kebijakan berbasis bukti, serta solusi yang diterapkan masyarakat.
Rangkaian tersebut menjelaskan perjalanan publikasi pengetahuan menuju penerapan. Maka itu, agenda hilirisasi riset menjadi penting. Pemerintah pada 2025 mengembangkan model kerja sama ketika kebutuhan industri menjadi dasar pengembangan teknologi di perguruan tinggi sehingga hasil penelitian dapat diarahkan menuju produk yang siap diterapkan. Dengan perspektif tersebut, keberhasilan riset dapat dirumuskan dalam rangkaian publish, patent, product and impact.
Tujuh PTN-BH yang menjadi pembanding dalam tulisan ini memiliki kekuatan akademik dengan karakter masing-masing. ITB mempunyai kekuatan pada sains, engineering, dan advanced technology. UI memiliki keluasan pada health, science, engineering, social sciences, dan policy. Unair mempunyai ekosistem health and biomedical yang kuat. UGM memiliki disciplinary breadth serta kapasitas multidisiplin yang besar.
ITS memiliki DNA technology-driven pada engineering, maritim, mobility, energy, manufacturing, robotics, dan digital technology. IPB mempunyai keunggulan pada agriculture, food, bioscience, environment, dan natural resources. Undip memiliki basis pada engineering, marine, environmental, health, serta regional development.
Keragaman tersebut merupakan modal penting bagi pembangunan ekosistem pengetahuan nasional.
Indonesia membutuhkan keahlian yang tersebar di berbagai bidang. Pengembangan pangan membutuhkan pertanian, biosains, teknologi pangan, ekonomi, dan kebijakan. Transisi energi membutuhkan engineering, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan regulasi. Pengembangan kendaraan listrik membutuhkan material, manufaktur, energi, transportasi, serta kebijakan industri.
Persoalan AI, perubahan iklim, air bersih, kesehatan, urbanisasi, manufaktur maju, maritim, dan geopolitik teknologi juga membutuhkan kolaborasi lintas disiplin.
Kekuatan setiap universitas dapat ditempatkan dalam jaringan pengetahuan yang saling terhubung.
Dari Peringkat Menuju Dampak
Cara kita membaca universitas unggul pada akhirnya akan menentukan cara kita membangun pendidikan tinggi.
Dari data SINTA 2023–2025 diketahui ITB memiliki intensitas publikasi Q1 yang tinggi. Unair memiliki intensitas sitasi yang tinggi. UI memiliki volume dan intensitas yang kuat. UGM mempunyai skala produksi ilmiah yang besar. ITS menunjukkan kapasitas kompetitif sebagai universitas berbasis teknologi. IPB memiliki kekuatan pada biosains dan sumber daya alam. Undip mempunyai basis riset multidisiplin yang berkembang.
Angka-angka tersebut membantu kita memahami kapasitas mesin pengetahuan di perguruan tinggi Indonesia.
Tahap berikutnya adalah melihat hasil kerja mesin tersebut dalam kehidupan nyata. Berapa banyak teknologi yang digunakan industri? Berapa banyak inovasi yang menjadi produk? Berapa banyak hasil penelitian yang masuk ke dalam kebijakan publik? Berapa banyak penelitian yang menghasilkan solusi bagi masyarakat? Berapa banyak lulusan yang mampu membawa pengetahuan tersebut ke berbagai sektor pembangunan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada ukuran universitas yang lebih luas. Indonesia membutuhkan perguruan tinggi dengan kekuatan yang beragam. Kekuatan tersebut dapat saling melengkapi melalui penelitian bersama, pertukaran pengetahuan, kolaborasi industri, dan kerja sama lintas disiplin. Ukuran universitas unggul karena itu mesti berkembang dari posisi dalam pemeringkatan menuju kemampuan menghasilkan dampak.
Universitas kelas dunia memiliki publikasi yang berkualitas, penelitian yang digunakan komunitas ilmiah, jaringan akademik global, dan reputasi internasional. Pada saat yang sama, pengetahuan yang dihasilkan memiliki kemampuan untuk bekerja dalam kehidupan nyata. Pada akhirnya, ukuran yang paling penting terletak pada hubungan antara ilmu, inovasi, dan manfaat.
Universitas menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan melahirkan inovasi. Inovasi menghasilkan nilai. Nilai tersebut kemudian kembali kepada masyarakat dan bangsa. Perguruan tinggi Indonesia harus mulai bergerak dari pemeringkatan menuju dampak.
*) Penulis: Dzulfikar Arifuddin S.T., M.T.
Pemerhati Pendidikan Tinggi Indonesia, Wasekjen PP IKA ITS 2024–2028 , Sekretaris Dewan Pakar IKA ITS PW Jakarta Raya 2023-2027, Co-Founder Centre for Energy and Innovation Technology Studies (CENITS)













