MAKLUMAT — PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), emiten teknologi milik konglomerat Hashim Djojohadikusumo, resmi menggebrak pasar digital dengan meluncurkan layanan “IRA – Internet Rakyat“. Melalui anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama (Telemedia), perusahaan langsung tancap gas menggelar layanan ini di Regional 1 yang mencakup 82 kota dan kabupaten dari Pulau Jawa hingga Papua.
Langkah taktis ini menjadi senjata WIFI untuk mendobrak dominasi pasar fixed broadband yang selama ini terkenal mahal. Tak tanggung-tanggung, mereka menawarkan kecepatan jumbo hingga 100 Mbps dengan harga miring mulai dari Rp100.000 saja.
”Kami akan terus mempercepat implementasi IRA – Internet Rakyat agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati layanan fixed broadband yang cepat, andal, dan terjangkau,” ujar Shannedy Ong, Direktur Utama Telemedia sekaligus Direktur WIFI, dalam keterangan resminya dikutip, Jumat (29/5/2026).
Untuk memikat hati konsumen pada tahap awal, WIFI menebar bonus agresif. Pelanggan bisa menikmati akses gratis selama 3 bulan serta fasilitas nonton siaran Piala Dunia gratis sepanjang 26 Mei hingga 19 Juli 2026. Guna menopang lonjakan trafik, perusahaan telah mengaktifkan lebih dari 550 site dan memasang 3.189 unit radio di seluruh wilayah operasional tahap pertama mereka.
Sebagai informasi, peta kepemilikan saham WIFI saat ini masih berada di bawah kendali penuh gerbong Hashim Djojohadikusumo. Melalui PT Investasi Sukses Bersama, afiliasi ini menguasai 54,42% saham, sementara investor publik menggenggam 40,3%, Djoni sebesar 5,28%, dan sisanya milik Andrew dengan porsi 0,0001%.
Strategi WIFI mematok tarif Rp100 ribu untuk kecepatan 100 Mbps jelas merupakan langkah price dumping yang agresif untuk mengocok ulang peta bisnis fixed broadband di Indonesia. Selama ini, tarif rata-rata internet rumah dengan kecepatan serupa dari operator besar masih bertengger di angka Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
WIFI memanfaatkan infrastruktur jalur kereta api yang mereka miliki (lewat kabel serat optik di sepanjang jalur rel) untuk memangkas biaya penggelaran jaringan (roll-out cost) secara radikal.
Namun, tantangan terbesar emiten berkode saham WIFI ini terletak pada konsistensi kualitas layanan (Quality of Service). Menawarkan bandwidth besar dengan harga murah berisiko menciptakan bottle-neck jika rasio pembagian jaringan (contention ratio) ke konsumen terlalu padat.
Ditambah lagi dengan bonus “bakar duit” gratis 3 bulan dan hak siar Piala Dunia, WIFI harus membuktikan bahwa kapasitas finansial dan infrastruktur mereka mampu menjaga stabilitas koneksi saat jutaan pengguna masuk secara bersamaan.
Jika berhasil menjaga performa, langkah ini akan memaksa pemain lama seperti Indihome dan First Media untuk memangkas harga mereka demi bertahan hidup.












