MAKLUMAT — Malam itu rumah kecil di Jalan Rajawali, Kelurahan Karang Dalam, Kecamatan Sampang, tampak redup. Di dalamnya, Wakiah masih dikelilingi tumpukan karung berisi barang bekas. Di tempat itulah janda itu tidur bersama anaknya, menggantungkan hidup dari mengumpulkan rongsokan.
Kisah Wakiah lebih dulu viral di media sosial. Foto-foto rumahnya yang tak layak huni menyentuh banyak hati. Dari situlah kepedulian mulai berdatangan.
Rabu malam (18/2/2026), rombongan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedungdung datang langsung ke rumah Wakiah. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Beras, gula, mi instan, serta pakaian dibawa sebagai bantuan kebutuhan dasar.
Qorib, perwakilan PCM Kedungdung, menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan amanah dari Alumni Umroh dan Haji Muhammadiyah Surabaya yang disalurkan melalui Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sampang. “Kami datang membawa amanah sekaligus ingin melihat langsung kondisi Ibu Wakiah. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban beliau,” ujar Qorib di rumah nenek Wakiah.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi tempat tinggal Wakiah. Menurutnya, rumah tersebut sudah jauh dari kata layak huni. Qorib berharap pemerintah daerah dapat memberi perhatian lebih agar Wakiah segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih manusiawi.
Namun ia menegaskan, kepedulian terhadap warga membutuhkan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. “Siapa pun yang membutuhkan, sudah seharusnya kita bantu,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para Alumni Umroh dan Haji Muhammadiyah Surabaya yang telah memberikan sumbangsih. Bantuan tersebut terasa semakin bermakna karena disalurkan menjelang Ramadan 1447 Hijriah. “Semoga menjadi amal baik dan semakin meningkatkan iman serta ketakwaan kita,” katanya.
Di sudut rumahnya, Wakiah menerima bantuan itu dengan mata berkaca-kaca. Dengan suara pelan, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur yang telah peduli terhadap dirinya dan anaknya.
Bagi Wakiah, bantuan tersebut bukan sekadar bahan makanan. Itu adalah tanda bahwa di tengah kesulitan, masih ada orang-orang yang mengetuk pintunya membawa harapan.
Kini satu doa sederhana masih ia simpan: semoga suatu hari bisa tinggal di rumah yang benar-benar layak untuk melanjutkan hidup.***














