Gandrung Sewu 2026 Pertama Kali Digelar Malam Hari, Ini Sejarah Festival Tari Kolosal Banyuwangi

Ribuan penari tampil dalam Gandrung Sewu 2026 Glow in the Dark di Banyuwangi

MAKLUMAT — Festival tari kolosal Gandrung Sewu 2026 menghadirkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya sejak digelar pada 2012, festival kebanggaan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ini berlangsung pada malam hari dengan konsep Glow in the Dark di Pantai Boom Marina, Sabtu (24/10/2026).

Mengusung tema Kembang Dermo, Gandrung Sewu 2026 memadukan seni tari tradisional, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan. Ribuan penari tampil dengan perlengkapan khusus yang memancarkan cahaya warna-warni, menciptakan suasana berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan konsep ini menjadi babak baru perjalanan Gandrung Sewu, yang selama lebih dari satu dekade berkembang dari pertunjukan tari kolosal menjadi salah satu ikon seni budaya dan pariwisata Banyuwangi.

Sejarah Gandrung Sewu, Berawal dari Jejer Gandrung pada 2012

Gandrung Sewu menurut laman Pemkab Banyuwangi, pertama kali digelar pada 2012 dengan tema Jejer Gandrung. Festival ini berangkat dari upaya mengangkat sejarah Tari Gandrung, kesenian tradisional yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Banyuwangi.

Sejak penyelenggaraan pertamanya, Gandrung Sewu terus berkembang melalui tema-tema yang mengangkat sejarah, adat, perjuangan, dan keberagaman budaya Banyuwangi.

Pada 2013, festival ini mengusung tema Paju Gandrung, yang menggambarkan kehidupan dan tradisi pertunjukan Gandrung pada masa lalu.

Baca Juga  PDIP Resmi Berikan Rekomendasi ke 10 Pasangan di Jatim

Setahun kemudian, tema Seblang Subuh hadir pada penyelenggaraan 2014. Festival berlanjut dengan Podo Nonton pada 2015 dan Seblang Lukinto pada 2016.

Pada 2017, Gandrung Sewu mengangkat tema Kembang Pepe, yang membawa kisah perjuangan masyarakat Banyuwangi ke panggung pertunjukan.

Selanjutnya, tema Layar Kumendung pada 2018 dan Panji-Panji Sunangkoro pada 2019 mengajak penonton menelusuri sejarah perlawanan terhadap penjajahan.

Rangkaian tema tersebut memperlihatkan bagaimana Gandrung Sewu memanfaatkan seni pertunjukan sebagai media untuk memperkenalkan sejarah dan identitas lokal kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda.

Gandrung Sewu Mengangkat Keberagaman Budaya Banyuwangi

Perjalanan Gandrung Sewu berlanjut dengan tema yang memperluas cakupan pesan budaya.

Pada 2021, tema Gandrung Sewu Nusantara menghubungkan masyarakat Banyuwangi di berbagai daerah hingga luar negeri melalui semangat pelestarian budaya.

Pada 2022, tema Sumunare Tlatah Blambangan mengangkat sejarah dan kebangkitan Bumi Blambangan.

Setahun berikutnya, Omprog: The Glory of Art menonjolkan omprog, yaitu mahkota khas penari Gandrung, sebagai simbol keagungan seni tradisional Banyuwangi.

Pada 2024, Gandrung Sewu mengusung tema Payung Agung: The Diversity of Culture. Tema ini menekankan keberagaman dan harmoni budaya yang tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi.

Baca Juga  Jadwal Salat Jatim, Senin 27 Januari

Sementara itu, tema Selendang Sang Gandrung pada 2025 membawa pesan tentang warisan budaya, cinta kasih, dan perjuangan masyarakat Osing dalam merawat tradisi.

Pada 2026, Gandrung Sewu mengangkat tema Kembang Dermo. Tema ini menyoroti nilai adat dan tradisi yang hidup serta berkembang di tengah masyarakat Banyuwangi.

Rangkaian tema tersebut menjadi bagian dari perjalanan festival dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui pertunjukan kolosal yang terus berkembang setiap tahun.

Apa Makna Kembang Dermo dalam Gandrung Sewu 2026?

Tema Kembang Dermo menjadi identitas penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026. Tema ini mengangkat nilai adat dan tradisi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Melalui tema tersebut, penyelenggara menghadirkan seni tradisional dalam format pertunjukan yang lebih modern, tanpa menghilangkan karakter utama Tari Gandrung.

Konsep Glow in the Dark menjadi pembeda paling menonjol pada penyelenggaraan tahun ini. Jika sebelumnya pertunjukan berlangsung pada siang hari, pada 2026 ribuan penari tampil di bawah tata cahaya malam.

Perpaduan kostum, gerakan tari, dan pencahayaan menciptakan pengalaman visual yang berbeda bagi penonton.

Dengan pendekatan tersebut, Gandrung Sewu menunjukkan bahwa seni tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi pertunjukan sekaligus mempertahankan identitas budayanya.

Baca Juga  Estafet Kepemimpinan PP IPM Kembali ke Tangan Kader asal Jatim

Meras Gandrung, Tradisi yang Mengiringi Regenerasi Penari

Selain pertunjukan kolosal, Tari Gandrung juga memiliki tradisi penting dalam proses regenerasi penarinya, yakni Meras Gandrung.

Meras Gandrung merupakan prosesi yang kerap dimaknai sebagai wisuda bagi seseorang untuk menjadi penari Gandrung. Dalam tradisi ini, seorang calon penari tidak hanya dituntut menguasai gerakan tari, tetapi juga kemampuan menyanyikan tembang atau menjadi sinden.

Prosesi tersebut menunjukkan bahwa menjadi penari Gandrung membutuhkan proses pembelajaran dan penguasaan keterampilan seni yang lebih luas daripada sekadar kemampuan menari.

Tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan Tari Gandrung melalui regenerasi seniman muda.

Tari Gandrung sendiri tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing di Banyuwangi. Kata gandrung bermakna terpikat atau mencintai. Dalam perkembangannya, kesenian ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang diwariskan lintas generasi.

Melalui Gandrung Sewu, kesenian tersebut memperoleh ruang pertunjukan berskala besar sekaligus menjadi sarana pengenalan sejarah dan budaya lokal kepada wisatawan.**