Muhammadiyah Soroti Lemahnya Diplomasi Indonesia di Tengah Konflik Iran–AS-Israel

muhammadiyah

MAKLUMAT — Memanasnya konflik global antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mendorong berbagai pihak di Indonesia mengevaluasi kesiapan diplomasi nasional. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai Indonesia perlu memperkuat kualitas diplomatnya agar mampu memainkan peran strategis di tengah eskalasi geopolitik dunia.

Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Imam Addaruqutni menegaskan Indonesia tidak cukup hanya menjaga hubungan diplomatik biasa. Negara harus menyiapkan diplomat yang memiliki kemampuan analisis mendalam terhadap isu global dan regional.

“Indonesia harus benar-benar menyiapkan diplomat yang kuat dalam memahami dan mengartikulasikan isu global serta dinamika geopolitik regional,” kata Imam dikutip, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, diplomat Indonesia harus mampu membangun narasi kuat dalam forum internasional. Tanpa kemampuan itu, posisi Indonesia akan sulit memengaruhi arah diplomasi global.

Imam juga menyinggung kualitas diplomat Indonesia yang dinilai belum sekuat generasi sebelumnya. Era diplomasi Indonesia pada masa Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto pernah memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat dalam percaturan internasional.

“Jika dibandingkan dengan masa lalu, kualitas diplomat kita dalam menyampaikan narasi internasional masih belum menonjol,” cetusnya.

Muhammadiyah menilai kondisi geopolitik saat ini menuntut Indonesia lebih aktif memainkan peran sebagai mediator konflik internasional. Gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong mediasi antara Iran dengan Amerika Serikat dinilai sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Namun posisi Indonesia tidak boleh terjebak dalam keberpihakan geopolitik.

Baca Juga  Momen Mendiksmen Abdul Mu’ti Tersenyum Ceria Disambut Wartawan Cilik

“Presiden harus menjelaskan secara terbuka kepada publik bahwa Indonesia tidak berpihak kepada Iran maupun Amerika Serikat. Semua adalah negara sahabat,” katanya.

Meski demikian, ia menilai Indonesia tetap perlu menunjukkan sikap tegas terhadap negara-negara besar yang dianggap bertindak agresif dalam konflik internasional. Indonesia dapat menggunakan hubungan diplomatik global yang saat ini cukup baik untuk mendorong Amerika Serikat dan Israel menahan diri.

“Presiden Prabowo memiliki komunikasi global yang cukup kuat. Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk menekan agar agresi tidak semakin meluas,” tandas Imam.

Muhammadiyah juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah bukan sekadar persoalan regional. Dampaknya dapat memicu ketidakstabilan global, termasuk krisis energi, keamanan, dan kemanusiaan.

Karena itu, lanjut Imam, Indonesia didorong memperkuat kapasitas diplomasi strategis agar mampu memainkan peran lebih besar dalam menjaga perdamaian dunia.