Dari Nusantara ke Persia: Solidaritas, Identitas, dan Dedikasi Mahasiswa Indonesia di Iran

Penulis: Ahmad Hukam Mujtaba. *)

MAKLUMAT — Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara. Memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia menjalankan sistem pemerintahan republik berlandaskan demokrasi dengan populasi mencapai lebih dari 289 juta jiwa, serta wilayah yang kini mencakup 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Keberagaman Indonesia menegaskan semangat persatuan yang menjadi fondasi identitas kebangsaan.

Nilai-nilai persatuan dan semangat kekeluargaan tersebut tidak berhenti di dalam batas wilayah administratif nasional, melainkan terus dihidupi oleh para mahasiswa diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia, termasuk para diaspora di Iran.

Dedikasi keindonesiaan mahasiswa diaspora ini diwujudkan secara nyata melalui aksi sosial dan pemberdayaan masyarakat yang melampaui sekat-sekat akademik. Sebagai bagian dari elemen bangsa, mereka membawa misi diplomasi kebudayaan yang berakar pada prinsip kepedulian dan kebhinekaan.

Salah satu wujud nyata dari solidaritas dan dedikasi tersebut terlihat dalam partisipasi mahasiswa diaspora pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Teheran, ibu kota Iran. Melalui pendirian tenda maukib, mereka menghadirkan representasi wajah Indonesia yang damai, ramah, dan penuh kasih.

Kehangatan budaya Nusantara dihadirkan secara sederhana namun bermakna melalui kebersamaan menikmati kuliner khas Indonesia, seperti bakwan. Lebih dari sekadar hidangan, sajian ini menjadi sarana diplomasi kuliner yang mampu menjembatani perbedaan merekatkan persaudaraan antara Sunni dan Syiah, meneguhkan ukhuwah islamiyah, serta menyatukan berbagai elemen masyarakat dari bermacam belahan dunia dalam semangat kebersamaan dan keharmonisan.

Baca Juga  Fenomena Rojali: Cara Bertahan Kelas Menengah dan Menengah Bawah

Dalam satu momen ketika memberikan bakwan kepada masyarakat Iran, ada seorang ibu-ibu bertanya kepada mahasiswa diaspora tentang bagaimana cara membuat bakwan. Ia pun lantas mencatatnya di buku catatan harian, sebagaimana orang bertanya dan mahasiswa diaspora menjawab, para mahasiswa diaspora sempat ragu apakah bakwan ini cocok dengan orang-orang Iran atau tidak, komposisi bahan bakwan pun tentunya sudah di sesuaikan dengan lidah orang Iran pada umumnya. Ternyata mereka suka, bahkan ada yang membungkus bakwan yang disajikan.

Tidak hanya soal makanan yang disajikan, tetapi juga soal solidaritas ketika negara Iran—tempat kami belajar—mengalami musibah, kami hadir sebagai representasi muslim peduli muslim lainnya tidak hanya menyoal politik identitas, merekatkan persaudaraan adalah hal terpenting, sebagaimana Ayatullah Khameini yang senantiasa menyerukan persatuan diatas konflik horizontal.

Batik sebagai Identitas

Menyoal identitas mahasiswa diaspora Indonesia di Iran, mereka berbangga hati memakai baju batik ketika maukib. Orang-orang Iran pun tampak sangat suka dengan kehadiran batik, apalagi dengan desain modern dan nyaman dipakai, sebagai contoh pakaian batik dari Jawa Tengah yang berbahan batik tulis, yang lebih alami dan nyaman dipakai sehingga gampang dikenali bahwa ini batik orang Indonesia.

Batik menjadi identitas nasional dan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda oleh UNESCO pada tahun 2009 dan mempererat posisinya sebagai simbol identitas nasional Indonesia. Baju batik menjadi penting mengingat tantangan yang dihadirkan globalisasi dan penetrasi budaya asing yang bisa menggerus nilai-nilai lokal.

Baca Juga  Indonesia Tuan Rumah World Science Forum 2026, Siap Jadi Pelopor Inovasi Global

Batik di sini bukan sekadar pelestarian bentuk dan motif batik tradisional, tetapi juga mencakup transformasi batik agar mampu bersaing dalam industri kreatif global. Artinya, batik harus mampu beradaptasi dengan selera pasar internasional tanpa kehilangan esensi budaya lokal yang menjadi jati dirinya dan mempertahankan eksistensinya.

Di era globalisasi, batik tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga bagian dari industri kreatif global yang kompetitif.

Solidaritas Mahasiswa Diaspora di Iran

Berangkat dari fondasi identitas kebangsaan, nilai-nilai tersebut bertransformasi menjadi bentuk solidaritas nyata yang dihidupi oleh mahasiswa Indonesia di Iran. Dipandu oleh rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Bayt, solidaritas bagi mahasiswa diaspora tidak sekadar berhenti sebagai wacana retoris, melainkan dituangkan dalam bentuk pengabdian masyarakat yang kontekstual dan berdampak.

Solidaritas ini diwujudkan tidak hanya melalui aksi sosial konvensional, tetapi juga lewat keterlibatan aktif Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran dalam merajut persatuan serta menyuarakan dukungan kemanusiaan bagi kawasan yang terdampak konflik, seperti Palestina dan Iran.

Bentuk nyata dari dedikasi dan kepedulian tersebut salah satunya diwujudkan melalui pembukaan stan maukib oleh mahasiswa Indonesia di Kota Teheran saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kehadiran stan ini mendapatkam antusiasme luar biasa dari masyarakat lokal Iran.

Baca Juga  Panas Dingin Hubungan Indonesia-Malaysia

Lebih dari sekadar ruang kebersamaan, maukib mahasiswa Indonesia berdiri sebagai simbol dan representasi nyata persatuan umat Islam, menghadirkan wajah Indonesia yang inklusif, damai, dan peduli sesama.

Semangat kebersamaan yang diusung oleh para mahasiswa diaspora ini sejalan dengan agenda strategis kemanusiaan dan keislaman di Iran, seperti Konferensi Umat Islam yang digelar dalam rangka Hafteh-ye Vahdat (Pekan Persatuan). Peringatan tahunan yang diresmikan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat persaudaraan antarmazhab ini menjadi ajang penting diplomasi pemuda Indonesia. Dalam forum megah tersebut—yang turut dihadiri oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta dibuka oleh Sekretaris Jenderal Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam, Hujjatul Islam Hamid Shahriari—mahasiswa Indonesia mengambil peran aktif dalam meneguhkan pesan perdamaian, kepedulian global, dan dedikasi keindonesiaan di panggung dunia.

Selanjutnya, melihat perkembangan selama setahun terakhir, Shahriari dalam kesempatan itu mengkritik perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap Iran, sebagai peristiwa paling menentukan yang dihadapi bangsa Iran.

Pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran tentang perlawanan terhadap penindasan bagi para pencinta kebebasan di berbagai negara.***

*) Penulis: Ahmad Hukam Mujtaba
Pengurus PPIDK Timtengka; Mahasiswa Pascasarjana Ahlul Bayt University Iran