MAKLUMAT — Ketua Bidang Kajian Dakwah Islam (KDI) PD IPM Kota Malang, Fachrudin Ad’han Tohari mengingat kembali keputusan besar yang harus diambil timnya saat menyiapkan Pelatihan Kader Madya Taruna Melati (PKMTM) II di Pusdiklat SDM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 19–21 Februari 2026 silam.
Pada agenda perkaderan fase dua di IPM itu, ia menjelaskan bahwa tantangan terberat muncul ketika harus mengemas materi Appreciative Inquiry (AI). Ini adalah materi kunci, yakni pendekatan perubahan positif yang berfokus pada penggalian potensi dan kekuatan terbaik untuk merancang masa depan organisasi secara kolektif.
“Materi AI terlalu kompleks untuk disampaikan bersamaan dengan materi lain. Kami memutuskan memadatkan semua materi selain AI agar peserta bisa fokus sepenuhnya di hari terakhir,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Kamis (5/3/2026).
Keputusan itu muncul di tengah tekanan waktu. Tim kefasilitator baru terbentuk dan mulai bergerak efektif hanya sebulan sebelum acara. Padahal, konsep PKMTM II sudah menunggu implementasi, dengan tema besar Regenerasi Gerakan Pelajar: Building Sustainable Leadership.
Fachrudin yang juga adalah Master of Training (MoT) agenda ini menjelaskan, strategi memadatkan materi selain AI adalah cara untuk tetap menyampaikan seluruh materi penting sekaligus mempersiapkan peserta menghadapi inti pelatihan.
Ia juga mengingat bagaimana ketegangan meningkat sehari sebelum acara, ketika pengumuman peserta yang lolos tahap screening diumumkan melalui Instagram dan grup WhatsApp. Antusiasme tinggi memaksa tim untuk menyeleksi banyak nama dengan hati-hati.
“Demi kemaslahatan dan efektivitas pelatihan, kami akhirnya menetapkan 55 nama peserta. Meski jumlah ini melebihi ideal untuk pelatihan tingkat madya, kami yakin 12 fasilitator bisa menyeimbangkan energi mereka di lapangan,” jelasnya.
Selain memadatkan materi, tim juga membawa AI keluar dari ruangan kelas. Fachrudin terinspirasi pengalaman seniornya dan pandangan Kepala Bidang Perkaderan tentang pentingnya kader IPM membaca isu terkini.
Tim lalu memetakan minat peserta ke dalam tiga ranah: literasi, lingkungan, dan kewirausahaan, dan menjalin kerja sama dengan tiga lokasi strategis di Malang untuk praktik langsung.
Saat hari ketiga, teori bertemu kenyataan. Fasilitator membagi peserta ke Rumah Budaya Ratna untuk literasi, Edu Park UMM bagi peminat isu lingkungan, dan Batik Soendari bagi yang tertarik kewirausahaan.
Peserta langsung menerapkan empat unsur inti AI, yakni discovery, dream, design, dan destiny. Ketika di lapangan, para peserta mengidentifikasi potensi, merancang strategi, dan menetapkan langkah nyata berdasarkan pengalaman di lapangan.
Hasil praktik terlihat jelas pada sesi presentasi. Gagasan peserta bermunculan sesuai minat masing-masing. Beberapa merancang komunitas baru, ada yang membuat forum diskusi, peluang usaha, bahkan ide “Museum Pelajar” untuk melestarikan budaya.
“Penghujung materi AI ditutup dengan pemandangan yang membanggakan. Saat sesi presentasi, gagasan-gagasan segar mulai bermunculan dari kelompok-kelompok yang terikat oleh kesamaan minat. Mereka melahirkan berbagai ide cemerlang untuk membumikan arti kepemimpinan berkelanjutan di tengah masyarakat,” jelasnya.












