MAKLUMAT — Amerika Serikat menyerang Pulau Kharg dan Abu Musa, dua pulau strategis milik Iran di Teluk Persia. Serangan terdahsyat dalam rangkaian serangan AS ini menurut kubu Iran dilakukan dari Uni Emirat Arab (UEA).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan serangan yang terjadi pada Sabtu (14/3/2026) malam waktu Iran, itu menargetkan Pulau Kharg dan Pulau Abu Musa menggunakan sistem artileri roket HIMARS.
Roket-roket tersebut diluncurkan dari wilayah UEA, tepatnya dari kawasan Ras Al Khaimah dan lokasi yang sangat dekat dengan Dubai.
“Tadi malam mereka menyerang Pulau Kharg dan Pulau Abu Musa dengan sistem artileri-roket HIMARS,” kata Araghchi dikutip dari Press TV, Ahad (15/3/2026) WIB.
Ia menegaskan penggunaan wilayah negara tetangga untuk menyerang Iran merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
“Sangat jelas bahwa mereka menggunakan wilayah tetangga kita untuk menyerang kita, dan ini sama sekali tidak dapat diterima,” ujarnya.
Meski demikian, Araghchi mengatakan Iran akan tetap berhati-hati dalam melakukan serangan balasan agar tidak mengenai kawasan permukiman sipil.
“Apa yang kami lakukan dalam kerangka pertahanan yang sah adalah menargetkan pangkalan, fasilitas, aset, dan kepentingan Amerika,” katanya.
Iran Siap Targetkan Kota di UEA
Militer Iran menyatakan berhak menargetkan titik asal peluncuran rudal Amerika yang berada di sejumlah kota di Uni Emirat Arab.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya kepada Tasnim News Agency, mengatakan, pasukan Amerika menggunakan pelabuhan dan dermaga di UEA sebagai tempat peluncuran serangan.
Menurutnya, Iran menganggap serangan balasan terhadap lokasi tersebut sebagai hak sah untuk mempertahankan kedaulatan nasional.
Ia juga mengimbau warga sipil di wilayah Emirat untuk menjauhi pelabuhan dan fasilitas yang digunakan oleh militer Amerika.
Serangan terhadap Pulau Kharg dan Abu Musa dilaporkan tidak mengenai fasilitas energi Iran. Namun sejumlah lokasi militer di kedua pulau tersebut mengalami kerusakan.
Pulau Kharg Pusat Ekspor Minyak Iran
Pulau Kharg merupakan pusat ekspor minyak utama Iran yang menangani lebih dari 90 persen pengiriman minyak negara tersebut.
Meski diserang, media pemerintah Iran melaporkan ekspor minyak dari pulau itu masih berjalan normal.
Namun eskalasi konflik membuat pasar energi global terguncang. Harga minyak mentah dilaporkan melonjak lebih dari 40 persen sejak perang di kawasan tersebut dimulai.
Iran sebelumnya memperingatkan bahwa jika fasilitas minyak atau listriknya diserang, mereka akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas energi di negara-negara Teluk yang memiliki kepentingan Amerika Serikat.
Trump Klaim Serangan Presisi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan, militer AS menargetkan instalasi militer di Pulau Kharg dan menyebut operasi tersebut sebagai serangan presisi besar.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim pasukan AS berhasil menghantam lebih dari 90 target militer Iran dalam operasi tersebut.
Trump bahkan menyebut serangan tersebut sebagai salah satu operasi pemboman paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah, meskipun tidak menyertakan bukti.
Ia juga memperingatkan bahwa fasilitas minyak Iran dapat menjadi target berikutnya jika Teheran tetap berupaya memblokir jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Jika Iran atau siapa pun mengganggu pelayaran bebas dan aman di Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” tulis Trump di media sosial dikutip dari Al Jazeera, Ahad (15/3/2026) WIB.
AS Tambah Pasukan ke Timur Tengah
Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat juga memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Sekitar 2.500 marinir tambahan bersama kapal serbu amfibi USS Tripoli dilaporkan telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang dikirim dikenal memiliki kemampuan operasi amfibi, pengamanan kedutaan, hingga evakuasi warga sipil.
Meski demikian, pengerahan pasukan tersebut belum tentu menunjukkan rencana operasi darat dalam waktu dekat.
Para analis menilai langkah Washington lebih menunjukkan peningkatan postur militer untuk memperpanjang operasi di kawasan tersebut.
Risiko Krisis Energi Global
Para pengamat memperingatkan bahwa potensi serangan balasan Iran terhadap fasilitas minyak di kawasan Teluk dapat memicu krisis energi global.
Pulau Kharg dan Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.
Jika konflik meningkat dan jalur pelayaran terganggu, dampaknya dapat menjalar ke seluruh industri minyak dan gas global.
Situasi tersebut membuat ketegangan di Timur Tengah kini tidak hanya menjadi konflik regional, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dunia.***











