MINGGU, 8 Maret 2026, cuaca Kota Lamongan lebih bersahabat. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang kerap banjir akibat curah hujan yang cukup tinggi. Cuaca ini tidak dilewatkan Nana untuk jogging atau night run selepas berbuka puasa.
Ia berlari ringan bareng Sego Bo-RUN, sebuah komunitas lari yang cukup terpandang di Kota Soto. “Tidak terlalu panjang (jaraknya), lelah sehabis beraktivitas di hari-hari sebelumnya,” kata Nana, kepada Maklumat melalui telepon, Rabu (12/3/2026) sore.
Pemilik nama lengkap Dahlina Rosyida ini adalah mantan atlet balap sepeda nasional yang kini memiliki aktivitas di luar batas. Aktivitas utamanya tak jauh-jauh dari profesi yang pernah ia geluti.
Nana, sapaannya, kini menjadi Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) ISSI Lamongan, sekaligus commissaire balap sepeda. Irisan lain di jalur olahraga adalah memiliki usaha pakaian olahraga dan menjual minuman sehat.
“Inilah aktivitas yang saya jalani setelah pensiun sebagai atlet balap sepeda,” ujar wanita yang kini meniti karir sebagai ASN di Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Lamongan itu.
Aktif Didorong Jiwa Entrepreneur
Ibu dua anak ini menggantungkan sepedanya tahun 2012. Setelah itu ia memilih pulang ke kampung untuk meneruskan karir sebagai ASN. Namun jiwa entrepreneur-nya mendorong untuk membuka usaha sampingan.
Baginya, 17 tahun menghabiskan karir di olahraga balap sepeda bukan waktu yang singkat. Jalur itu telah menempanya dalam banyak hal. Bahkan setelah tidak menjadi pebalap, ia tidak ingin kehilangan identitas seperti kebanyakan atlet setelah pensiun.
“Banyak atlet yang tidak punya aktivitas (pekerjaan), setelah pensiun. Usaha ini saya lakukan, karena dasarnya saya orangnya tidak bisa diam. Tidak mau kalau hanya duduk manis, diam scroll-scroll,” jelas Nana.
Meniti karir, membuka usaha, dan berorganisasi telah ia pelajari ketika masih aktif menjadi atlet balap sepeda. Ilmu yang pernah ia serap pelan-pelan ditularkan kepada para junior maupun rekannya.

Pilih Pola Hidup Sehat
Nana, merupakan satu dari sekian mantan atlet yang memilih pola hidup sehat. Jogging adalah rutinitas yang ia jalani. Padahal ia mengawali atlet sebagai pebalap. Namun sesekali ia sempat bersepeda, tapi intensitasnya tidak setinggi jogging.
Rata-rata jarak yang ia tuntaskan saat jogging antara 50-60 km per minggu. Akhir pekan ia pilih untuk long run yang mencapai 21 km. “Ini bukan hobi, mas. Tapi sudah mengarah personal best,” tegas wanita yang juga keluarga persyarikatan Muhammadiyah Lamongan ini.
Pengetahuannya selama menjadi atlet mendorong menjaga pola hidup sehat. Tidak sekadar jogging dan bersepeda. Rutinitas itu juga dibarengi dengan asupan nutrisi yang seimbang seperti mengonsumsi buah segar, sayur, dan menjauhi minuman kemasan mengandung gula tinggi.
“Biasanya sarapan telur dan kopi tanpa gula serta sayur segar. Makan besarnya biasanya siang dan sore, di atas pukul 17.00 sudah tidak makan,” lanjut mantan pebalap Polygon Sweet Nice (Surabaya) dan Moving Ladies (Belanda) ini.
Kuat Didukung Komunitas Hebat
Olahraga dan nutrisi seimbang dibarengi aktivitas sehat. Tidur sebelum pukul 22.00, bangun pukul 03.00 untuk beribadah dan menyiapkan sarapan dua buah hatinya. Terakhir lanjut mengantar sekolah, dan pukul 7.30 WIB sudah di kantor. Di sela aktivitas itu ia melakoni strength training di rumah untuk memperkuat otot guna menghindari cedera saat jogging.
Jebolan Universitas Negeri Surabaya ini benar-benar menikmati dan bersyukur menjalani hidup setelah pensiun. Pola hidup sehat, komunitas bersahabat, didukung lingkungan yang hebat membuatnya kuat setelah mengakhiri karir sebagai atlet.











