KHGT: Kemenangan Dialektik Muhammadiyah

Penulis: Nurbani Yusuf. *)

MAKLUMAT — Tahun 1997 Pada kajian interdisipliner di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bersama Prof Malik Fadjar, Gus Dur bercanda: “Kemenangan Muhammadiyah atas NU adalah kemenangan dialektik. Yang awalnya dibantah. Disesatkan. Dikafirkan, kemudian dibenarkan dan ditiru ramai-ramai.”

Ketika yang lain masih sibuk bahas posisi perempuan mendorong salat di kamarnya; Muhammadiyah sudah menempatkan perempuan dalam posisi depan menjadi rektor direktur, dekan, guru besar, bahkan menyampaikan kultum tarawih di hadapan kaum “maskulin”.

KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) hadir dengan tidak mengabaikan metode yang lain—berdampingan saling menggenapi. Sebagaimana ijtihad: jika benar pahalanya dua, jika salah pahalanya satu.

*****
100 tahun silam Kiai Dahlan mengubah pola pikir umat Islam. Dengan pembaharuan dan purifikasi. Ilmu dan amal berjalan imbang beriringan.

Carl Witherington, peneliti Amerika, menyebut Kiai Dahlan bukan ulama biasa, tapi pragmatikus agama. Bahwa agama bukan sekedar retorika. Al Ma’un Ethics: Bukan setoran hapalan tapi setoran amal.

Al-Qur’an diterjemahkan dalam bahasa lokal. Sekolah klasikal diperkenalkan. Klinik dibangun. Panti asuhan rumah yatim dan rumah miskin digagas dan dipraktikkan. Umat Islam tercengang kaget, ini gagasan tak biasa. Kaget dan berontak, ini kafir karena mirip dengan orang kafir. Semua melawan karena dianggap melawan kelaziman, melawan tradisi dan adat.

Baca Juga  KHGT Tersedia di Tiga Platform dan Tiga Bahasa, Permudah Akses Umat Islam Global

Kiai Dahlan melawan mapan. Anti-mainstream: ketika proposal pendirian sumah sakit di kalangan pribumi santri dipresentasikan Kiai Soedja’ di hadapan pengurus Hoftbesture Muhammadiyah, tak sedikit pimpinan yang tidak bersetuju. Ini gagasan di luar nalar. Ide gila. Berobat dengan cara disuntik adalah cara kompeni. Kompeni itu kafir. Rumah sakit adalah kebiasaan kaum kafir.

*****

Modernisasi Kiai Dahlan adalah niscaya—tradisi jumud dipatahkan. Langgar Kidoel pun dirobohkan. Kritik diterima. Perlawanan kuat melawan. Kiai Dahlan istikamah pendirian. Semua yang dulu dibantah dan disesatkan sekarang dibenarkan dan ditiru ramai-ramai.

Gen pembaharuan tak pernah surut. KHGT adalah tanda bahwa modernisasi di Muhammadiyah tidak berhenti. Islam jumud pasti heran: Mungkin dilawan. Mungkin dibantah. Dianggap aneh. Melawan tradisi atau kelaziman. Di situlah istimewanya.

Bukan deret pahala, tapi maslahat buat orang banyak: sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaat bagi manusia yang lain: Ribuan sekolah. Ratusan perguruan tinggi. Ratusan rumah sakit dan ribuan amal saleh lainnya adalah bukti, bukan sekedar amal biasa.

*****

KHGT bukan hanya soal kalender penentuan awal dan akhir bulan. Ini ijtihad besar melampaui zaman dan tempat.

Baca Juga  Setyo Wahono Beber Konsep Pembangunan Bojonegoro Bareng Muhammadiyah

KHGT adalah gerakan perubahan, pemodernan dan pemajuan. Ini tentang keberanian berijtihad melawan jumud.

Jika benat pahalanya dua, jika salah pahalanya satu. Mungkin ada yang kaget ada yang terperangah—kemudian berkata macam-macam seperti saat ketika Al-Qur’an diterjemah atau saat ketika khutbah Jum’at diubah dalam bahasa lokal, ketika klinik dan rumah sakit dibangun—Dahlan kiai gendeng, kiai londo, kiai kafir, kiai sesat, kiai liberal, yahudi. Langgar Kidoel pun dirobohkan.

Beberapa tahun kemudian dibenarkan dan ditiru ramai-ramai . . .