Khofifah Sowan Jombang, Ziarah Gus Dur Jelang Lebaran

Khofifah-Sowan-Jombang

MAKLUMAT — Udara Jombang terasa lebih hening dari biasanya, seolah waktu ikut menunduk saat langkah itu memasuki halaman pesantren. Di tengah riuh persiapan Idulfitri 1447 Hijriah, ada yang memilih berjalan lebih pelan—menyapa, memohon doa, dan mengingat akar.

Di tengah menyiapkan arus mudik dan hiruk-pikuk Lebaran, Khofifah Indar Parawansa menyusuri Tebuireng dan Tambakberas untuk merawat tradisi sowan dan memohon keberkahan bagi Jawa Timur.

Rabu (18/3), langkah Gubernur Jawa Timur itu berhenti di Pondok Pesantren Tebuireng. Bukan sekadar kunjungan, melainkan pulang pada tradisi yang telah lama hidup di tanah pesantren. Ia disambut KH Abdul Hakim Mahfudz—Gus Kikin—dengan suasana yang hangat namun tetap khidmat.

Di Jawa Timur, sowan bukan hanya pertemuan. Ia adalah laku. Cara menjaga hubungan antara murid dan guru, antara yang memimpin dan yang membimbing. Di sana, kata-kata tak selalu perlu panjang; cukup doa, cukup restu.

Perjalanan berlanjut ke Tambakberas. Di kediaman Nyai Hj Mahfudhoh Aly Ubaid, keteduhan terasa berbeda—lebih sunyi, lebih dalam. Seolah setiap ruang menyimpan jejak panjang tradisi yang tak pernah benar-benar pergi.

“Sowan ini adalah wasilah untuk ngalap berkah,” ujar Khofifah lirih.

Baca Juga  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Terima Lencana Jer Basuki Mawa Beya Emas dari Gubernur Jawa Timur

Bagi Khofifah, nasihat para kiai dan nyai bukan sekadar petuah, melainkan arah. Di tengah kompleksitas memimpin provinsi sebesar Jawa Timur, ada kompas yang tak kasatmata: doa para guru.

Ia pun percaya, tradisi ini tak boleh berhenti pada generasinya.

“Generasi muda perlu melihat teladan ini. Menghormati guru adalah bagian dari akhlak yang harus terus hidup,” katanya.

Dari ruang perjumpaan, langkah kemudian beralih ke ruang yang lebih sunyi: kompleks pemakaman Tebuireng. Di sana, nama-nama besar bersemayam—Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur.

Suara tahlil mengalun pelan, menyatu dengan angin siang yang berembus lembut. Di hadapan pusara Gus Dur, suasana seperti berhenti sejenak—memberi ruang bagi ingatan dan refleksi.

Bagi Khofifah, Gus Dur bukan hanya tokoh bangsa, tetapi juga penanda arah.

“Beliau mewariskan nilai kemanusiaan dan toleransi yang sangat relevan hingga hari ini,” ucapnya usai tabur bunga.

Nilai itu, katanya, bukan untuk dikenang saja. Ia harus dilanjutkan—dalam kebijakan, dalam sikap, dalam cara melihat perbedaan.

Dari langkah-langkah sunyi di lorong pesantren itu, tersirat satu pesan sederhana: kemajuan tak selalu lahir dari gemuruh, tetapi dari hubungan yang dijaga dengan tulus.

Baca Juga  Pemprov Jatim Sabet Dua Penghargaan TP2DD 2025, Khofifah Tegaskan Digitalisasi Fiskal Makin Efektif

Sowan dan ziarah, pada akhirnya, bukan sekadar ritual menjelang Lebaran. Ia adalah cara merawat keseimbangan—antara kerja dan doa, antara kekuasaan dan kebijaksanaan.

Saat matahari mulai condong ke barat, Jombang kembali seperti semula. Namun di antara dinding-dinding pesantren, doa-doa masih menggantung, pelan tapi pasti—mengalir, menjaga, dan menguatkan.

Dan mungkin, dari situlah sebuah daerah benar-benar dibangun.***