MAKLUMAT — Ketegangan di Timur Tengah makin panas. Bukan hanya di medan tempur, tetapi juga di ruang siber. Kelompok “Nasir Hackers” mengklaim berhasil membobol perusahaan minyak Al-Safi di Arab Saudi. Mereka menyebut mengantongi data sensitif—mulai kontrak minyak, korespondensi pribadi, hingga detail jaringan SPBU di seluruh kerajaan.
Data itu, menurut mereka, sudah diserahkan ke pihak “perlawanan”. Kelompok tersebut juga melontarkan pesan keras kepada pihak yang mereka sebut “pengkhianat di Arab Saudi” agar menjauh dari Israel.
Berita ini dirilis Tasnim News Agency, Selasa (31/3/2026). Tapi belum ada konfirmasi resmi dari pihak Saudi terkait klaim tersebut. Aksi serupa datang dari kelompok siber Handala. Mereka mengklaim membobol akun email Deborah Oppenheimer, mantan pejabat senior Mossad.
Lebih dari 100 ribu dokumen disebut berhasil diambil. Isinya, menurut klaim mereka, mengungkap praktik propaganda, manipulasi media, hingga operasi rahasia selama puluhan tahun. Dokumen tersebut bahkan diklaim sudah bisa diunduh publik. Namun, keaslian data belum terverifikasi secara independen.
IRGC juga mengumumkan target penyerangan. Mereka menargetkan serangan kepada perusahaan teknologi terkemuka AS seperti Apple, Google, dan Meta jika lebih banyak pemimpin Iran terbunuh dalam “pembunuhan yang ditargetkan”.
“Perusahaan-perusahaan ini, mulai pukul 8 malam waktu Teheran pada hari Rabu, 1 April, harus siap menerima penghancuran unit-unit terkait mereka sebagai imbalan atas setiap pembunuhan di Iran,” kata IRGC dikutip dari South China Morning Post. Dalam pernyataannya, mereka mencantumkan nama-nama 18 perusahaan yang diduga terlibat dalam pembunuhan para pejabat.
“Kami menyarankan para karyawan lembaga-lembaga ini untuk segera meninggalkan tempat kerja mereka demi menyelamatkan nyawa mereka,” tambah pernyataan itu.
Pernyataan Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa pemerintah AS dan raksasa teknologi telah “mengabaikan peringatan berulang kami mengenai perlunya” menghentikan operasi yang menargetkan pejabat tinggi Iran, dan menuduh bahwa perusahaan-perusahaan teknologi tersebut adalah “elemen utama dalam merancang dan melacak target pembunuhan”.
Akibatnya, 18 perusahaan ini – yang juga termasuk Intel, Microsoft dan Oracle, serta perusahaan mobil listrik Tesla, perusahaan analitik Palantir, dan raksasa chip Nvidia – berisiko menghadapi pembalasan, demikian pernyataan tersebut.
“Perusahaan yang secara aktif berpartisipasi dalam rencana teroris akan menghadapi tindakan balasan untuk setiap pembunuhan yang ditargetkan,” bunyi pernyataan tersebut.
Di saat bersamaan, IRGC mengumumkan serangkaian serangan ke target Amerika Serikat dan Israel. Dalam pernyataan resmi seperti laporan Press TV, IRGC menyebut empat operasi dilakukan dalam gelombang ke-88 Operasi “True Promise 4”.
Sasarannya beragam, yakni Kapal kontainer “Express Halfong” dihantam rudal di Teluk Persia; Titik kumpul Marinir AS di pesisir Uni Emirat Arab diserang drone; Sistem anti-drone Armada Kelima AS di Bahrain dihancurkan; danRadar peringatan dini di pangkalan Ahmad Al-Jaber turut disasar
IRGC juga menegaskan Selat Hormuz berada dalam kendali penuh mereka. Eskalasi ini dipicu serangan besar yang disebut dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Iran mengklaim serangan itu menewaskan pejabat penting dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan. Situasi kini bergerak cepat—dari perang siber ke konfrontasi militer terbuka. Dampaknya tak hanya regional, tapi juga global, terutama pada jalur energi dan perdagangan dunia. ***











