MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, Din Syamsuddin, melontarkan kritik tajam atas sikap Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang dinilainya tidak konsisten dalam merespons konflik global, khususnya terkait serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Republik Islam Iran.
Hal itu ia tegaskan dalam kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan bertajuk “Solid dalam Kebersamaan, Kuat dalam Pengabdian” yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ahad (5/4/2026).
Menyoroti kondisi geopolitik global, Din Syamsuddin menilai konflik yang tengah berlangsung di kawasan Asia Barat saat ini mencerminkan hilangnya nilai kemanusiaan.
Dalam kesempatan itu, ia mengkritik keras keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama dengan Zionis Israel, yang melancarkan serangan militer terhadap Iran yang merupakan negara berdaulat.
“Apa pun dalihnya, penyerangan yang menghilangkan nyawa manusia tidak dapat dibenarkan, terlebih banyak korban anak-anak,” tegasnya.
Tak cuma itu, ia juga menjelaskan dan menyinggung ambisi politik Zionis Israel, yang dinilai ingin memperluas kekuasaan dan mewujudkan Israel Raya.
Kecewa Atas Sikap OKI
Lebih lanjut, Din Syamsuddin secara tegas juga menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang justru mengecam serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan militer dan aset-aset strategis AS di beberapa negara di kawasan tersebut, seperti Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Yordania, hingga Arab Saudi.
“OKI mengecam Iran, tetapi tidak mengecam Amerika dan Israel yang nyata-nyata menyerang Iran (terlebih dahulu). Ini sangat mengecewakan,” sorot pria yang juga pernah menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.
Sebelumnya, dalam prolognya Din Syamsuddin juga melontarkan candaan yang mendorong Umsida untuk membuka program studi (Prodi) baru di bidang pertahanan, khususnya pengembangan rudal balistik.
“Kalau boleh Pak Rektor kalau membuka prodi baru yang akan datang, tidak hanya berdampak bagi Sidoarjo dan Jawa Timur, tapi berdampak bagi dunia, yaitu membuka Prodi Teknologi Rudal Balistik,” kelakarnya disambut tawa dan tepuk tangan warga Muhammadiyah yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Konflik Iran vs AS-Israel
Diketahui, ketegangan di kawasan Asia Barat mencapai titik didih usai AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan ke sejumlah titik di Teheran dan beberapa kota lain di Iran pada 28 Februari 2026 lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi (Rahbar/Supreme Leader) Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Merespons agresivitas AS-Israel, angkatan bersenjata Iran melancarkan gelombang serangan balasan yang menargetkan pangkalan-pangkalan militer dan aset-aset strategis AS di kawasan yang tersebar di berbagai negara, serta menghujani berbagai target di berbagai kota di Israel dengan salvo drone dan rudal balistik. Hingga Jumat (3/4/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah mengumumkan gelombang serangan balasan ke-92.
Tak cuma itu, Iran juga merespons dengan membatasi akses keluar-masuk Selat Hormuz, jalur vital perdagangan sekitar seperlima minyak dan gas dunia. Kini perang tersebut telah berlangsung selama lebih dari sebulan. Terbaru, Teheran mengklaim telah berhasil menembak jatuh jet tempur F-15E dan A-10 Warthog, serta helikopter Black Hawk AS.













