Biodiesel B50 Dipercepat Juli 2026, Akademisi UMS Bongkar Risiko Tersembunyi

Penerapan B50

MAKLUMAT — Akademisi UMS mengingatkan percepatan biodiesel B50 Juli 2026 berisiko boros, mahal, dan membebani mesin meski diklaim hemat Rp48 triliun. Deputi Bidang Riset, Inovasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rois Fatoni, menilai kebijakan ini tidak lepas dari sejumlah tantangan serius.

Menurut dia, penggunaan biodiesel dengan campuran minyak nabati tinggi justru berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar. “Energi yang dihasilkan biodiesel lebih rendah dibanding solar murni. Artinya, pemakaian bisa lebih boros untuk jarak yang sama,” ujarnya.

Rois menjelaskan, secara kimiawi biodiesel mengandung oksigen, berbeda dengan solar yang hanya terdiri dari karbon dan hidrogen. Perbedaan komposisi ini berdampak langsung pada nilai kalor. Akibatnya, mesin membutuhkan lebih banyak bahan bakar untuk menghasilkan tenaga yang sama.

Tak hanya soal efisiensi, penggunaan biodiesel juga berpengaruh pada performa mesin. Rois menyebut, senyawa organik dalam minyak nabati lebih kompleks dibandingkan minyak bumi. Kondisi ini membuat filter bahan bakar lebih cepat kotor.

“Konsekuensinya, perawatan mesin harus lebih sering dilakukan,” jelas Rois melansir laman UMS, Sabtu (18/4/2026).

Sebagai bahan informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hasil positif dari uji coba biodiesel B50 pada sektor alat berat pertambangan. Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi menyebut, performa mesin diesel tetap stabil tanpa gangguan signifikan.

Baca Juga  Kebijakan B50 Berpotensi Pangkas Devisa Sawit hingga USD12 Miliar

Hingga akhir Maret 2026, uji ketahanan dinamis bahkan telah menembus 900 jam operasional. Dari sisi lapangan, PT Harmoni Panca Utama (HPU) juga melaporkan hasil serupa setelah membandingkan penggunaan B40 dan B50 pada unit Komatsu HD785. Hasilnya, performa mesin tetap aman meski konsumsi bahan bakar B50 tercatat sedikit lebih tinggi, sekitar 1–3 persen.

Pengujian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kualitas bahan bakar, kinerja mesin, hingga stabilitas penyimpanan. Secara teknis, B50 dinilai memenuhi spesifikasi yang disepakati, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, dan kadar FAME. Dari sisi operasional, konsumsi bahan bakar tercatat naik sekitar 3,12 persen dibanding B40.

Namun, kenaikan ini dinilai masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu produktivitas alat berat. Artinya, B50 mulai menunjukkan kelayakan untuk digunakan pada sektor dengan beban kerja tinggi seperti pertambangan.

B50 sendiri merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar. Program ini menjadi lanjutan dari keberhasilan implementasi B40 sejak awal 2025, yang mengantar Indonesia sebagai pionir global bahan bakar nabati skala besar.

Pemerintah menilai pengembangan B50 tak hanya mengurangi impor BBM dan emisi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. Ke depan, uji coba akan diperluas ke sektor transportasi, pembangkit listrik, hingga pertanian guna memastikan kesiapan implementasi nasional. “Ini bagian dari transformasi menuju energi bersih dan berdaulat,” tegas Eniya seperti dilansir laman ESDM, 7 April 2026.

Baca Juga  BRIN Siap Uji Ilmiah Bobibos, Bahan Bakar Jerami yang Hebohkan Publik
Harga Sawit Lebih Mahal, Tekan Ekonomi

Sementara dari sisi ekonomi, tantangan juga tak kalah besar. Harga Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis sawit saat ini mencapai Rp13.910 per liter. Angka itu lebih tinggi dibanding solar konvensional yang berada di kisaran Rp11.000–Rp12.100 per liter.

Kondisi ini dinilai bisa membuat biaya energi meningkat. “Karena sawit sudah jadi komoditas global, harganya ikut fluktuatif,” katanya.

Rois Fatoni mengingatkan potensi ketergantungan berlebihan pada minyak sawit. Jika terjadi gangguan pasokan atau lonjakan harga seperti pada 2022, kebijakan ini justru bisa menjadi bumerang bagi ketahanan energi nasional. Sebagai solusi, UMS mendorong eksplorasi bahan baku alternatif, salah satunya minyak jarak pagar.

Tanaman ini dinilai memiliki potensi harga lebih stabil karena belum masuk pasar komoditas internasional. Namun, keterbatasan lahan menjadi kendala utama dalam pengembangannya. “Perlu waktu panjang dan dukungan serius untuk transisi,” tegasnya. Rois menekankan, kebijakan energi tidak cukup hanya berorientasi pada target penghematan.

Menurutnya, aspek teknis, ekonomi, dan keberlanjutan harus dihitung secara matang agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.