Kartini dan Childfree: Antara Iman dan Pilihan

rista

MAKLUMAT – Setiap 21 April, kita seperti sedang menonton ulang adegan yang sama,  perempuan berkebaya, senyum yang ditata, dan kutipan lama yang kembali dipajang.

Indah, iya. Tapi jujur saja—sering terasa dangkal.

Karena kita merayakan Hari Kartini sebagai simbol, bukan sebagai kegelisahan. Padahal, yang diwariskan Kartini bukan kain, melainkan pikiran yang tak mau tunduk pada kebodohan.

Dan jika kita mau jujur, kegelisahan itu masih hidup sampai hari ini—hanya bentuknya yang berubah.

Dari Pingitan ke Pilihan

Dulu, perempuan berjuang keluar dari pingitan. Hari ini, pintu sudah terbuka lebar. Kita bisa belajar, bekerja, bahkan bersuara.

Tapi masalahnya bukan lagi “boleh atau tidak”.  Masalahnya sekarang: kita mau ke mana?

Di era digital, perempuan tidak lagi dibatasi ruang. Tapi sering kali kehilangan arah. Scroll tanpa tujuan, bicara tanpa makna, hidup tanpa kesadaran.

Kartini dulu memperjuangkan literasi. Hari ini, tantangannya bukan akses informasi—tapi kemampuan memahami dan menggunakannya dengan benar. Di titik ini, Islam dan Kartini sebenarnya bertemu.

Iman yang Membebaskan, Bukan Membatasi

Ada anggapan lama yang masih bertahan: semakin religius perempuan, semakin sempit ruang geraknya. Padahal itu keliru!

Baca Juga  100 Tahun Majalah Suara ‘Aisyiyah: Jangan Sampai Dikubur Hidup-Hidup

Islam justru memuliakan ilmu. Sosok seperti Aisyah binti Abu Bakar menjadi bukti bahwa perempuan bisa menjadi pusat pengetahuan. Ia bukan hanya istri, tapi juga guru, perawi hadist, dan rujukan umat.

Artinya jelas: iman tidak membatasi perempuan. Iman memberi arah, dan arah itu yang sering hilang dalam narasi emansipasi modern.

Antara Rahim dan Makna Hidup

Di tengah peringatan Kartini, muncul satu diskursus yang terus mengemuka: childfree atau kesepakatan untuk tidak memiliki anak atau keturunan.

Ada yang menolaknya mentah-mentah. Ada yang membelanya habis-habisan. Keduanya sama-sama keras.

Beberapa hari lalu, saya membaca pandangan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah. Ia menegaskan bahwa pernikahan laki-laki dan perempuan, dalam sunnatullah, berujung pada kehadiran anak sebagai generasi penerus.

Akan tetapi di masa sekarang, sunnatullah tersebut ‘digugat’ dengan merebaknya pandangan childfree. Hemat Salmah, pandangan tersebut menyelisihi sunnatullah.

Sebab, memiliki keturunan merupakan anugerah dari Allah SWT. Sebab dari keturunan ini akan dilanjutkan kehidupan dan dalam kepercayaan Agama Islam, anak ini akan menjadi ladang jariyah bagi orang tuanya.

Saya sangat setuju dengan pandangan Salmah. Ini karena dalam kerangka itu childfree atau pilihan untuk tidak memiliki anak jelas menyelisihi tatanan yang sudah digariskan. Bahkan, bisa berpotensi mengganggu keberlangsungan kehidupan.

Baca Juga  Gaji Suami di Bawah UMR, Apakah Istri Tetap Wajib Taat?

Dalam Agama Islam, memiliki anak adalah yang kita tunggu-tunggu. Sebagaimana firman Allah, bahwa manusia diciptakan yang pertama untuk beribadah kepada-Nya (QS Az Zariyat ayat 56) dan yang kedua sebagai khalifah fil ardh (QS Al Baqarah ayat 30).

Peran dari kehadiran manusia di muka bumi adalah untuk menjaga kelestariannya. Karena itu, pandangan childfree ini berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan.

Bisa kita bayangkan apa jadinya kalau semuanya berpikiran tidak ingin punya anak atau childfree. Apa dan bagaimana kehidupan seterusnya ?

Jadi sudah jelas childfree ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, meski dengan banyak alasan. Kecuali ada alasan Kesehatan.

Anak adalah anugerah, penerus kehidupan, sekaligus ladang amal jariyah. Keluarga bukan sekadar ruang privat, tapi juga bagian dari desain besar kehidupan—tentang ibadah dan peran manusia sebagai khalifah di bumi.

Ingat! Kartini, dalam surat-suratnya tidak pernah menulis tentang childfree. Tapi ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: kebebasan berpikir.

Ia gelisah pada sistem yang membatasi perempuan hanya pada satu peran. Ia ingin perempuan punya suara, termasuk dalam menentukan jalan hidupnya.

Dan di situlah relevansi Kartini hari ini terasa begitu tajam. Bukan untuk membenarkan semua pilihan. Tapi untuk memastikan bahwa pilihan itu lahir dari kesadaran, bukan tekanan.

Baca Juga  Hari Kartini, DPRD Jatim Bagikan Tali Asih untuk 62 Perempuan Inspiratif

Bahwa perempuan yang memilih menjadi ibu dihormati, dan perempuan yang memilih jalan lain, meski berbeda janganlah serta-merta “dihakimi”.  Namun didengarkan dan jika memungkinkan diajak berdiskusi dengan bijak.

Selamat Hari Kartini…