MAKLUMAT – Praktik penipuan berkedok akses masuk Raudhah di Masjid Nabawi kian marak. Jemaah haji Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah tergiur tawaran instan.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memastikan, tidak ada biaya apa pun untuk masuk ke Raudhah. Akses ke area mustajab tersebut sepenuhnya gratis dan menjadi hak seluruh jemaah.
Kepala Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman menegaskan bahwa segala bentuk pungutan adalah ilegal.
“Semua jemaah berhak masuk Raudhah. Kami tegaskan, tidak dipungut biaya,” ujarnya dikutip, Kamis (30/4/2026).
Namun di lapangan, oknum tak bertanggung jawab memanfaatkan situasi. Mereka mengaku sebagai petugas dan menawarkan “jalur cepat” masuk Raudhah dengan imbalan uang. PPIH memastikan, praktik tersebut adalah modus penipuan.
Jemaah diminta segera melapor jika menemukan permintaan pembayaran mencurigakan, baik kepada petugas sektor maupun yang berjaga di kawasan Masjid Nabawi.
Akses Resmi Lewat Nusuk
PPIH menjelaskan akses masuk Raudhah hanya melalui tasrih (izin resmi). Jemaah bisa mendapatkannya melalui dua cara:
1.Difasilitasi petugas kloter/sektor
2.Mendaftar mandiri lewat aplikasi Nusuk
Koordinasi antar petugas terus diperkuat agar seluruh jemaah memperoleh jadwal secara tertib tanpa harus mencari jalan pintas. Pemerintah juga meminta ketua kloter aktif memastikan anggotanya terdata dan terjadwal dengan baik.
Fokus Ibadah, Jangan Tergoda Jalan Pintas
PPIH mengingatkan godaan “jalur cepat” justru membuka celah kerugian. Selain kehilangan uang, jemaah juga berisiko tertipu tanpa mendapatkan akses yang dijanjikan.
Ibadah haji menuntut kesabaran dan kepatuhan pada aturan. Mengikuti prosedur resmi bukan hanya soal ketertiban, tetapi juga perlindungan dari praktik curang.
Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, tingginya minat jemaah masuk Raudhah dimanfaatkan oknum sebagai ladang penipuan. Kedua, masih ada celah literasi digital dan informasi di kalangan jemaah.
Kunci pencegahan ada pada edukasi dan disiplin prosedur. Selama jemaah memegang prinsip sederhana—kalau berbayar, pasti bukan resmi—modus seperti ini akan sulit berkembang.
Di sisi lain, optimalisasi penggunaan aplikasi Nusuk menjadi krusial agar distribusi jadwal lebih transparan dan tidak memberi ruang bagi calo.











