Ngajar, Ngerapat, dan Nggak Tumbang: Catatan Guru di Hari yang Istimewa

Nico Perlambang Agung

MAKLUMAT — Hari ini bukan tanggal biasa. Bukan sekadar angka “2 Mei” yang lewat begitu saja di kalender lalu kita lanjut rebahan. Hari ini agak spesial—semacam “double combo”—karena ketemu antara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah.

Kalau diibaratkan, ini seperti dua sahabat lama yang ketemu di warung kopi: satu ngomongin masa depan bangsa, satu lagi ngajak langsung bergerak. Dan saya? Ya nyempil di antara keduanya—seorang guru yang kebetulan juga kader Pemuda Muhammadiyah. Jadi kadang pagi mikir RPP, sore mikir kegiatan pemuda. Malam? Mikir kapan istirahat…

Jujur saja, jadi guru hari ini itu bukan pekerjaan sederhana. Dulu mungkin cukup datang, ngajarin, pulang. Sekarang? Wah, itu baru pemanasan.

Guru hari ini dituntut menjadi fasilitator, motivator, inovator, kadang juga jadi “IT support” dadakan kalau LCD ngambek. Belum lagi harus paham teknologi. Murid sekarang nanya bukan cuma “Pak, ini jawabannya apa?” tapi bisa saja, “Pak, ini di YouTube kok beda ya?”

Di situ kadang kita cuma bisa tersenyum, sambil dalam hati, “YouTube lagi, YouTube lagi…,”

Di sisi lain, realitas juga tidak selalu romantis. Administrasi numpuk seperti cucian akhir pekan yang antre dijemur karena gerimis. Kurikulum berubah lebih cepat dari tren TikTok. Kesejahteraan? Ya… kita syukuri sambil tetap realistis.

Baca Juga  Khofifah Minta PWPM Jatim Petakan Potensi Pemuda Muhammadiyah

Sering kita ribut soal nilai, ranking, angka-angka. Tapi jarang yang nanya: “Gurunya masih semangat nggak, ya?”

Padahal, jujur saja, banyak guru itu capek. Bukan capek ngajarnya. Ngajar itu justru bagian yang paling hidup. Yang bikin lelah itu kadang hal-hal di luar itu.

Guru yang seharusnya jadi pilar peradaban, kadang malah berdiri sendirian. Kayak tiang listrik di tengah sawah. Tegak, tapi sepi.

Maka di sinilah saya merasa beruntung karena (masih) “nyemplung” di Pemuda Muhammadiyah. Karena di sana, kita tidak cuma diajak rapat (walaupun iya, rapatnya juga banyak), tapi juga diajak mikir: kita ini mau jadi apa untuk umat?

Di organisasi ini, kita diajari tiga hal yang kelihatannya sederhana, tapi dalam praktiknya luar biasa: Keislaman, supaya kita nggak cuma pintar, tapi juga punya arah; Keilmuan, supaya nggak gampang percaya hoaks dan tetap waras; Kemanusiaan: supaya ilmu yang kita punya nggak jadi alat pamer, tapi alat manfaat.

Dan menariknya, nilai-nilai ini sangat nyambung dengan dunia pendidikan.

Menjadi guru sekaligus kader itu rasanya seperti punya dua “mode hidup”. Di sekolah, kita berhadapan dengan murid untuk mengajar, membimbing, kadang juga jadi tempat curhat. Di organisasi, kita berhadapan dengan realitas yang lebih luas seperti kemiskinan, ketimpangan, problem sosial.

Baca Juga  Wakil Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Optimis Indonesia Mampu Mengejar Ketertinggalan dari Negara Lain

Hasilnya? Perspektif kita jadi lebih lebar. Kita tidak lagi melihat murid sekadar “anak yang nilainya sekian”, tapi sebagai manusia yang punya latar belakang, cerita, dan masa depan.

Dan dari situ, pelan-pelan kita sadar: ngajar itu bukan sekadar transfer ilmu, tapi bagian dari perjuangan.

Kalau boleh jujur, kita butuh lebih banyak guru yang “agak beda”. Guru yang berani mikir, bukan cuma nurut. Guru yang bisa ketawa, bahkan di tengah tekanan. Guru yang tidak menjadikan kelas sebagai ruang formalitas, tapi ruang hidup.

Karena kalau kelas cuma jadi tempat formalitas, ya murid juga datang cuma formalitas. Datang, duduk, absen, pulang. Ilmunya? Ya ikut pulang juga.

Akhirnya, pada hari ini, di pertemuan dua momentum ini, saya cuma ingin mengingatkan diri sendiri (dan mungkin juga kita semua).

Kita ini mungkin bukan orang besar. Tidak selalu di panggung. Tidak selalu disorot. Tapi di ruang kelas kecil itu, kita sedang melakukan sesuatu yang tidak kecil.

Kita sedang menyalakan api. Kadang apinya kecil. Kadang hampir padam. Tapi selama masih ada yang menjaga, dia tidak akan benar-benar hilang.

Dan mungkin, di masa depan, kita tidak akan dikenal sebagai siapa-siapa. Tapi murid-murid kita…, bisa jadi akan mengubah dunia. Dan kalau itu terjadi, ya sudah… wes cukup. Mbalik ngopi maneh dan guyon ambi kanca-kancane

Baca Juga  Mendikdasmen Abdul Mu'ti Tegaskan 3 Komitmen untuk Tingkatkan Kualitas Guru