Jakarta Mulai Pilah Sampah dari Rumah, Gubernur Pramono Targetkan Bantar Gebang Hanya Tampung Residu

Jakarta Pilah Sampah

MAKLUMAT — Jakarta pilah sampah dari rumah. Gerakan besar ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta, sekaligus memangkas beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.  Tujuannya mengubah sampah menjadi energi, sekaligus mendorong lahirnya budaya baru warga ibu kota: memilah sampah sejak dari rumah.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan pemilihan Jalan HR Rasuna Said sebagai lokasi pencanangan bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut tengah dibenahi menjadi ikon baru Jakarta dan akan mulai diberlakukan Car Free Day secara efektif pada 1 Juni mendatang.

“Tingginya antusiasme publik terhadap pembenahan ruang kota, termasuk gerakan lingkungan, menjadi modal sosial penting untuk membangun pola hidup yang lebih berkelanjutan di Jakarta,” ungkap Gubernur Pramono Anung seperti dilansir Berita Jakarta pada pencanangan Gerakan Pilah Sampah digelar di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Ahad (10/5).

Lebih dari sekadar seremoni, deklarasi ini menandai kebijakan baru Pemprov DKI yang mewajibkan pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumbernya secara serentak di lima wilayah kota administrasi serta Kepulauan Seribu.

Targetkan Buang Residu

Jika berjalan optimal, mulai Agustus mendatang Jakarta ditargetkan hanya membuang residu akhir ke TPST Bantar Gebang. Untuk menopang target tersebut, Pemprov DKI telah menyiapkan sejumlah fasilitas pengolahan sampah, mulai dari RDF Rorotan hingga TPST 3R. Pemerintah juga membuka ruang bagi pasar-pasar tradisional untuk mengelola sampah secara mandiri, termasuk kawasan Kramat Jati yang didorong menjadi percontohan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, menilai langkah Jakarta sangat strategis. Menurutnya, pemilahan sampah rumah tangga merupakan fondasi utama pengembangan teknologi waste to energy, yakni mengubah sampah menjadi sumber energi listrik.

Dukungan serupa datang dari Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH RI, Jumhur Hidayat, yang menegaskan bahwa gerakan pilah sampah harus menjadi gerakan warga, bukan sekadar program birokrasi.

Lubang Biopori Jumbo

Implementasi kebijakan ini mulai terlihat di tingkat akar rumput. Di Kelurahan Gunung, Kecamatan Kebayoran Baru, warga bersama petugas PPSU membangun lima lubang biopori jumbo untuk mengolah sampah organik. Langkah sederhana ini diyakini mampu memangkas volume sampah hingga 50 persen sebelum masuk ke Bantar Gebang.

Selain itu, wilayah tersebut juga mulai menanam 100 pohon produktif seperti pisang, singkong, dan ubi jalar sebagai bagian dari integrasi program lingkungan dan ketahanan pangan warga.

Gerakan ini menandai perubahan paradigma Jakarta: dari sekadar membuang sampah, menjadi mengelola sampah sebagai sumber daya bernilai.***