Kesadaran Pajak Generasi Muda Masih Rendah, UMM Gelar Tax-fluencer Bootcamp

kesadaran pajak

MAKLUMAT – Kesadaran pajak generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Rasio pajak nasional saat ini stagnan di angka 8,42 persen. Narasi birokrasi yang kaku dinilai tak lagi relevan.

Menjawab tantangan itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menggelar bootcamp berskala internasional. Kegiatan bertajuk “Digital Engagement That Moves People: Tax-fluencer Bootcamp” ini digelar di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (13/5/2026).

“Kita harus memastikan generasi muda memiliki pemahaman kuat bahwa pajak bukanlah beban, melainkan investasi bersama untuk masa depan,” ujar Penyuluh Pajak Ahli Madya Kanwil DJP Jawa Timur III, Abdul Muis.

Pentingnya Imunitas Kewarganegaraan

Abdul Muis mengungkapkan, angka rasio pajak yang stagnan menjadi sinyal kuat perlunya pendekatan baru. Demi menyongsong Indonesia Emas 2045, generasi muda harus dibekali dengan imunitas kewarganegaraan.

Pembekalan itu penting agar adapadangan bahwa pajak adalah investasi masa depan, bukan sekadar beban finansial.

Public Relations Staff Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Anum Intan Maulidi, menyoroti kendala komunikasi pemerintah. Selama ini, edukasi pajak kerap terjebak dalam jargon akademis.

Ia mengambil inspirasi dari program kebun komunitas Austin Grown di Chicago. Pajak, kata dia, ibarat gotong royong demi panen bersama. Edukasi pajak harus berani beralih ke pendekatan yang lebih membumi, agar mudah diterima Gen Z dan Gen Alpha.

Baca Juga  CubeBot: Robot Edukasi yang Menantang Dominasi Gawai di Sekolah Dasar

“Pemerintah harus merombak total cara menyampaikan kepada masyarakat, beralih dari gaya menuntut menjadi gaya yang kolaboratif,” jelasnya menguraikan.

Storytelling dari Amerika Serikat

Untuk mengeksekusi gaya komunikasi kolaboratif tersebut, Digital Media Coordinator Build Chicago Amerika Serikat, Todd York, hadir membedah rahasia kampanye digital yang menggerakkan massa.

Ia memperkenalkan strategi upstream storytelling, yaitu metode bercerita yang fokusnya pada akar masalah. Kampanye digital yang sukses harus berani mengangkat suara masyarakat dari akar rumput.

“Kami percaya bahwa pihak yang paling dekat dengan suatu masalah adalah pihak yang paling mengerti solusinya. Nah, suara merekalah yang harus sitonjolkan,” jelas Todd.

Kebutuhan Relawan dan Influencer Pajak

Dekan FEB UMM, M. Sri Wahyudi Suliswanto, Ph.D., menegaskan pentingnya peran media sosial dalam membentuk opini publik. Ia berharap mahasiswa tidak hanya menguasai teori perpajakan di kelas.

“Selain menjadi relawan pajak, mahasiswa diharapkan juga mampu menjadi pemberi pengaruh yang mempromosikan literasi pajak kepada masyarakat,” pungkas Wahyudi.

Kolaborasi antara akademisi, praktisi pemerintah, dan pakar internasional ini, diharapkan lahir generasi kreator digital yang mumpuni.

Generasi yang akan mengubah data rumit menjadi cerita memikat, membangun kesadaran pajak generasi muda, dan memastikan setiap warga negara bangga berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Baca Juga  Dosen UMM Sabet Penghargaan Usai Ciptakan Minuman Sehat Inspiratif